
Sekujur badan Grey menggigil disertai keringat dingin. Ada rasa nyeri di bagian perutnya, namun beberapa hari belakangan ia abaikan hingga efeknya sekarang tubuhnya tak bisa digerakkan.
Grey pun tak bisa berbuat apa-apa. Bahkan untuk mengeluarkan suara ia tak sanggup, sementara saat ini tangis bayinya pecah memenuhi seisi ruangan.
Dalam hati Grey terus berusaha merapal doa meminta pertolongan, entah siapa saja ia berharap ada yang mau menyelamatkan bayinya. Sebab rasa sakit di sekujur badannya hampir membuatnya tak sadarkan diri.
Kini setelah beberapa menit berlalu mata Grey yang sudah berat hampir sepenuhnya terpejam, kesadaran hampir hilang namun satu-satunya yang membuatnya begitu lega ketika ia mendengar suara keributan dan kecemasan setelah pintu kamar paviliun yang ditempati bersama anaknya terbuka.
__ADS_1
"Astaga apa yang terjadi? Cepat panggil dokter atau bawa ke rumah sakit?" Seru seorang wanita tua yang panik melihat keadaan Grey beserta bayi yang sudah menangis begitu lama.
Grey hanya pasrah ketika orang-orang membawanya ke rumah sakit. Dalam setengah sadar ia juga bergumam, "Tolong. Kumohon selamatkan bayi saya."
Di satu sisi Darrel yang sedang sibuk dengan pekerjaannya merasa terganggu akibat ponsel yang sedari tadi berdering. Ia ingin mengabaikan dan ingin mematikan ponsel justru nama Oma-nya yang tertera di layar.
Kalimat omelan langsung terdengar ketika Darrel mengangkat panggilan. Hal itu mungkin sudah biasa, namun ketika Oma menyebutkan nama Grey, Darrel langsung mematikan ponselnya.
__ADS_1
Sesampainya di rumah sakit Oma masih berada di sana, bahkan wanita tua itu berjalan terpincang menggunakan tongkat menghampiri Darrel dengan raut murka. Lalu mengayunkan tongkat memukuli badan Darrel dengan gemas.
Darrel hanya mematung dengan perlakuan Oma yang tak henti memberikan pukulan terhadapnya. Meski orang-orang di sekitar Oma berusaha menenangkan tetaplah sia-sia.
"Oma membesarkanmu bukan untuk jadi pria brengsek. Bila saja orang-orang tak melapor pada Oma kalau ada bayi yang terus-terusan menangis di paviliun, mungkin saja saat ini dua nyawa di dalam sana tak akan tertolong. Kapan kamu bawa perempuan dan bayi itu pulang? Darrel, dia istrimu kan?" tanya Oma mencerca Darrel.
"Lebih baik Oma pulang, ini jadi urusan Darrel."
__ADS_1
"Anak ini!" ujar Oma kian kesal menghentakkan tongkatnya di lantai. "Kamu tahu apa yang terjadi dengan dua orang disana?! Oma tak habis pikir, dimana jalan pikiranmu sampai bisa menelantarkan istri dan anakmu sendiri. Kamu membiarkan anakmu diasuh oleh istri yang tengah sakit. Satpam bilang sudah tiga hari kamu gak pulang. Kalau bukan karena Oma tidak cepat-cepat datang ke paviliun, sudah pasti kamu..." Oma mengatur napas, memarahi Darrel cukup membuat wanita tua itu lelah sedangkan Darrel sendiri hanya diam berdiri seperti patung tak menyahut satu kata pun.
Oma tak habis pikir, entah apa isi di dalam kepala cucunya itu. Setelah Oma bisa mengatur napas dan merasa lebih tenang, Oma kembali berujar, "Entah permasalahan apa yang sedang kalian berdua hadapi, usahakan selesaikan dengan cara baik. Kamu sudah dewasa, pasti sudah tahu bagaimana cara mempertanggungjawabkan apa yang sudah menjadi pilihanmu. Karena Oma mengambil hak asuhmu dari tangan ayahmu lalu berjuang membesarkanmu bukan hanya sekedar untuk hidup."