
Selamat pagi, perkenalkan saya Karin dari anggota tim marketing PT Cakra Samudera Properti. Dengan kerendahan hati saya mendapatkan kontak nomor beserta email Kakak dari iklan unggahan yang tercantum dalam sosial media.
Saya mendapat tugas untuk mensurvei dan mengembangkan kerjasama usaha dalam bidang pengadaan properti, juga kami tertarik dengan produk yang Kakak pasarkan. Bila berkenan untuk bergabung dengan kami, Tim kami akan memberikan tinjauan bila mana disetujui.
Grey membaca dengan seksama pesan yang masuk dari dalam ponselnya. Antara ragu dan tak tahu harus membalasnya atau tidak, ia justru beralih mengetikkan nama perusahaan yang tertera dan mencarinya di laman pencarian google.
Dan ia menemukannya, PT Cakra Samudera Properti berdiri sejak tujuh tahun lalu. Meski rekam jejaknya tak begitu banyak namun perusahaan itu terdaftar resmi sebagai salah satu perusahaan yang terkategori tengah berkembang dalam tahun terakhir.
"Kenapa Grey?" tanya Ibunya Danar yang menyadari tiba-tiba raut wajah Grey berubah serius setelah memegang ponsel.
"Ada pesan masuk. Grey ragu ini hoaks atau sungguhan," sahut Grey dengan masih menyusuri artikel yang menyangkut nama perusahaan Cakra Samudera Properti.
"Apa ada masalah?" ucap Ibunya Danar yang berubah khawatir.
"Bukan Bu, Grey masih mengeceknya karena barusan ada pesan masuk ajakan dari perusahaan yang tertarik dengan produk yang kita pasarkan. Dan setelah dicek, nama perusahaan itu memang beneran ada."
__ADS_1
"Itukan berita baik, coba dibicarakan dengan Danar. Lagi pula ini jadi kesempatan usaha kita jadi berkembang."
Grey tersenyum penuh arti, kemudian ia pun menyahut. "Mas Danar masih di rumah kan, Bu?"
"Iya, di belakang masih ngopi orangnya. Jadwalnya sore dia berangkat."
"Kalau begitu Grey coba sampaikan ke Mas Danar dulu, biar dipertimbangkan," ujar Grey yang disetujui oleh Ibunya Danar. Bergegas Grey beranjak sambil membawa catatan, ponsel beserta laptop untuk menghampiri Danar.
Sesuai yang dikatakan Ibunya Danar, saat Grey menghampiri lelaki itu tengah bersantai dengan kopi hitam di atas meja sambil menghisap batang rokok di tangan.
Danar pun yang menyadari ada Grey segera meletakkan batang rokoknya yang masih setengah di atas asbak. Ia tahu kedatangan Grey adalah hendak menemuinya. Tanpa berbasa-basi lelaki itu pun menanyakan maksud Grey yang menghampirinya. "Ada apa?"
Grey berdehem, masih dengan tenggorokannya yang tak nyaman. Wanita itu menyodorkan ponselnya dan menunjukkan isi pesan yang baru saja didapat. "Ada perusahaan yang mengajak bekerjasama dalam pengadaan properti," jelas Grey dengan Danar yang menerima ponsel serta membacanya dengan seksama.
"Syaratnya apa saja?"
__ADS_1
"Aku belum tahu karena belum membalasnya, tunggu dari persetujuanmu."
"Kalau mereka minta barang dikirim dulu jangan dikasih. Minimal kalau mau ambil barang harus sesuai dengan prosedur kita. Bayar DP, pelunasan ketika barang sudah sampai di tempat."
"Pihak mereka ingin survey lebih dulu," sela Grey yang hendak menjelaskan jika sistem dari perusahaan itu menginginkan agar ada pertemuan dari belah pihak.
"Maksudnya tim dari mereka mau meninjau ke tempat ini?"
Grey lantas mengangguk. "Iya. Kemungkinan sebagai pengenalan juga untuk tahu lebih detail tentang ketertarikan mereka dari produk-produk yang dimaksud."
"Sepertinya patut dicoba. Gak ada salahnya yang terpenting tetap ada kehati-hatian dari kita dulu, sebagai jaga-jaga perusahaan ini benar atau cuma abal-abal. Tapi aku tetap harus mengandalkanmu karena aku gak terlalu paham dengan jalannya kerjasama di bidang yang menyangkut perusahaan besar."
"Jadi kita setuju?" sahut Grey kembali menanyakan keyakinan dalam keputusan yang diambil.
"Ya, kalau tim perusahaan mereka mau survey dipersilahkan saja," ucap Danar yang dengan segera Grey menanggapi isi pesan dari perusahaan yang mengajak bekerjasama.
__ADS_1