
Seminggu sudah lewat dan ponsel Darrel kedapatan dua kali panggilan tak terjawab dari nomor tak dikenal. Kemungkinan ia sedang tak memegang ponsel ketika panggilan itu masuk, kini ia yang mengamati nomor itu hendak mengabaikan tapi ia justru teringat dengan sesuatu.
Sontak Darrel mencoba menghubungi nomor itu. Setelah menunggu baru lah panggilan bisa tersambung, lalu terdengar suara wanita yang mengangkat panggilannya.
"Hallo... apa benar ini dengan Darrel?"
Suara di seberang sana terdengar begitu ragu dan Darrel tentu bisa menebak siapa orangnya. "Grey," panggilnya.
Helaan napas kelegaan terdengar lalu wanita itu berucap, "Aku udah mencoba menghubungimu semalam, kukira kamu tak serius."
"Kamu menghubungiku itu artinya kamu sudah setuju dengan penawaranku?"
Beberapa detik tak ada sahutan, tapi Darrel masih memegangi ponselnya karena panggilan masih berlangsung.
"Ucapanmu bisa dipegang kan? Sejujurnya aku masih ragu, takut kalau kamu menipuku."
Darrel menyimak kata-kata Grey dengan seksama. Keraguan jelas terdengar dari Grey yang tak lancar dalam bertutur kata.
"Kamu butuh jaminan?"
"Jaminan?"
"Iya, aku akan mentransfermu sebagai bayaran di muka."
"Berapa uang yang akan kamu kirim?"
"Lima puluh juta, sisanya setelah kamu tiba disini. Kirimkan nomor rekeningmu, dalam dua hari kamu sudah harus sampai sini. Alamat akan kukirim melalui pesan di ponselmu."
"Tapi itu terlalu cepat..."
__ADS_1
Darrel seketika menutup sambungan telepon, tak ingin berdebat panjang karena itu menghabiskan waktu yang dimilikinya sementara masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan.
Tak berselang muncul beberapa pesan masuk di ponselnya, Grey mengiriminya banyak pertanyaan namun tak ada yang ditanggapi kecuali dengan nomor rekening yang masuk Dan segera Darrel memprosesnya mentransfer sejumlah uang yang sudah dijanjikannya.
***
Tepat di hari yang telah dijanjikan Grey tiba di Jakarta, selama dua hari belakangan wanita itu rajin mengirimi Darrel pesan. Bahkan yang terakhir meminta dengan sangat agar Darrel menjemput di Bandara, sebab Grey mengaku jika ke Jakarta adalah pertama kalinya.
Maka hari ini Darrel menyempatkan waktu, dalam perhitungannya pesawat yang ditumpangi Grey akan tiba lima belas menit lagi. Kini ia sedang menuju perjalanan ke arah Bandara.
Terakhir lebih dari dua jam lalu Grey menghubunginya dan mengatakan jika wanita itu telah ada di pesawat dan hendak terbang menuju Jakarta, serta memaksa Darrel untuk bersiap menjemputnya.
Di perjalanan Darrel harus terjebak macet, hampir setengah jam kendaraan sulit terurai. Kini dari ponselnya ramai muncul notifikasi dan panggilan yang masuk berkali-kali.
"Aku masih di jalan, tunggu sebentar lagi aku sampai." Darrel mengangkat panggilan itu dan hanya berbica singkat, lalu berfokus ke arah jalanan yang sedikit lebih lenggang.
Tiba di kawasan bandara ternyata tak sulit menemukan sosok Grey, bahkan wanita yang telah berdiri menunggu lama dengan bawaan satu koper sedang itu merajuk ketika Darrel datang menghampiri.
"Sudah kamu persiapkan berkas yang kubutuhkan?"
Grey mendengkus, kesal tapi lelaki itu justru to the point bahkan tanpa bertanya berapa lama wanita itu menunggunya. Lekas Grey mengeluarkan berkas-berkasnya, termasuk semua identitas aslinya diserahkan kepada Darrel.
"Besok kita menikah "
Grey tercengang.
"Hanya ke catatan sipil, jangan berfikir ada pesta atau orang lain yang hadir."
Grey kembali berfikir secara rasional, memang betul pernikahan yang akan terjadi bukan sesuatu yang lazim terlebih itu hanya sebuah perjanjian belaka. Akan ada awal dan akhir, tapi dalam hatinya semoga hal itu menguntungkan untuknya.
__ADS_1
"Lalu dimana aku akan tinggal?"
"Sudah kusiapkan."
"Apa kita akan tinggal bersama?"
Darrel tak langsung menjawab, justru ia mengambil alih menarik pegangan koper milik Grey.
"Jawab dulu, apa kita nanti akan sama-sama tinggal di satu atap?"
"Tidak. Tapi aku akan ke tempatmu sesekali bila aku mau. Ayo urusanku masih banyak," ujar Darrel yang lebih dulu melangkah meninggalkan lobby bandara.
Grey mengikuti sampai tiba dimana mobil terparkir, sementara Darrel sudah memasukkan koper ke dalam bagasi lalu memutar langkah menuju sisi kemudi. Tentunya Grey juga mengikuti.
Ada perasaan takut dan keraguan terbesar yang mengganjal di hati Grey, terlebih ia kini lebih banyak diam ketika mobil sudah melaju menuju jalanan yang ramai. Ia sibuk dengan isi pikirannya, tapi juga takut untuk mengungkapkan.
"Darrel," ucap Grey takut-takut.
Darrel masih berfokus ke arah kemudi, namun matanya masih sempat merespon melirik ke arah Grey.
"Dua hari ini, bukan. Setelah pertemuan terakhir itu aku terus memikirkannya. Jujur aku masih ragu sampai sekarang, terlebih dalam perjanjian pernikahan yang meski itu hanya perjanjian tugasku tetap jadi istri kan? Jadi kupikir apa yang kamu beri gak sebanding dengan apa yang kukorbankan."
Mobil tepat berhenti ketika lampu merah, dan tatapan Darrel yang menoleh pun berubah tajam. "Itu artinya kamu berubah pikiran?"
Grey sontak menggeleng. "Bukan, maksudku... apa aku tak tahu diri jika aku memintamu untuk membayarku lebih lagi," ucap Grey yang justru sedemikian takut ditatap sedemikian tajam oleh Darrel bahkan alis pria itu sudah nampak menyatu dan mungkin sudah marah kepadanya, beranggapan jika mungkin Grey nampak plin plan.
"Uang yang kuberi masih belum cukup?"
Bibir Grey seketika bergetar saat itu juga, lidahnya juga serasa sedemikian kelu. Tapi ia jelas berusaha memberanikan diri berkata jujur bahwa, "Aku belum pernah melakukan hubungan layaknya suami istri dengan pria mana pun. Aku memang pernah punya pacar, bekerja di club, tapi senakal-nakalnya aku sampai di usiaku ini aku jamin diriku masih bersih. Oke, bila suatu saat perjanjian kita berakhir, aku akan dapat status janda dan orang di luar sana tak akan berfikir macam-macam. Tapi bagaimana dengan diriku yang memberikan sesuatu yang sangat berharga ini dengan hal yang mungkin nilainya gak sepadan."
__ADS_1
Di titik ini ada hal yang membuat Darrel semakin tertantang. Senyum di sudut bibir Darrel mulai tersungging. "Jika kamu menginginkan nilai yang sepadan, turuti semua kemauanku maka bukan hanya uang yang kamu dapatkan. Aku akan jamin tempat tinggal dan seluruh fasilitas yang kusediakan akan jadi milikmu sepenuhnya meski kita sudah berpisah."