Lost Memory

Lost Memory
Tigapuluh Tujuh


__ADS_3

"Kamu makan ya, Ren. Bagaimana pun kamu harus jaga kesehatan. Kamu bakal sakit kalau terus mengabaikan diri. Perutmu perlu diisi. Sejak kamu kembali, kamu belum makan makanan apapun kan? Aku siapkan ya."


Lisa lagi-lagi membujuk setelah Grey sudah sedikit lebih tenang, bagaimana pun sikap dingin yang selama ini ditunjukkan seolah tak berlaku sekarang sebab tergerus oleh keadaan yang mendadak merasakan simpati dengan yang dialami oleh Grey. Tapi bujukannya lagi-lagi tak berhasil, Grey masih tetap dalam pendirian. Menggeleng untuk menolak.


Lisa mendesah sebelum bangkit mengambil keputusan sendiri. Ia meninggalkan Grey sementara untuk mengambil makanan di dapur dan tak berapa lama ia pun kembali dengan nampan berisi makanan yang telah dihangatkan.


Ia kemudian duduk di sisi ranjang tepat di samping Grey, menyendokkan nasi untuk menyuapi Grey.


"Makan," bujuknya mengarahkan sendok ke arah mulut Grey namun mulut itu masih saja terkatup rapat. "Aku tahu yang alami itu berat, tapi kamu juga harus punya tenaga untuk menghadapinya."


"Aku rasanya ingin mati saja," gumam Grey putus asa.


Lisa meletakkan piring dari tangannya, lalu meralih mengelus punggung Grey. "Pasti nanti ada jalan," ucap Lisa menguatkan.

__ADS_1


"Aku udah gak ada tujuan," sahut Grey teramat lelah. "Apa gunanya aku melanjutkan hidup, aku bahkan benci dengan diriku sendiri. Aku udah terlanjur kotor, bahkan jika aku melanjutkan pergi untuk bertemu dengan orang yang mengaku suamiku, aku sendiri yang malu. Dia pasti tak akan mau menerimaku. Aku kesal, aku kesal karena aku juga tak ingat apa pun!" teriak Grey frustasi memukuli kepalanya.


"Bagus kalau kamu sadar diri." Suara itu beserta orangnya muncul dari ambang pintu.


Grey seketika menghentikan gerakannya yang menyakiti diri sendiri. Kepalanya menoleh menatap penuh kebencian kepada Reyno. Tapi Reyno yang ditatap sedemikian justru menarik sudut bibirnya tersenyum sinis dan melangkah memasuki kamar mendekat ke arah Grey.


"Seumur hidup aku benci kamu Rey!" teriak Grey yang tak bisa menahan diri untuk mengeluarkan amarah.


Tapi Reyno justru terkekeh. "Apa untungnya kamu membenciku? Kamu sudah menyimpulkan sendiri dan mengakui Darrel tak akan mau menerima kondisimu. Dan disini cuma ada aku, jadi di luar sana sudah jelas tak ada orang lain lagi yang mau mengharapkanmu."


"Kamu keluar, biar aku yang mengurusnya," ucap Reyno memberi perintah kepada Lisa.


Lisa hanya bisa menurut jadi tinggal lah Reyno dan Grey yang berada di dalam kamar.

__ADS_1


"Aku tak punya banyak waktu hanya untuk mendengarkanmu menangis. Makan lah, aku suapi," ucap Reyno setelah sepersekian menit menunggu Grey yang tak hentinya menangis.


Reyno yang sudah menyodorkan sesuap nasi langsung ditepis kasar oleh Grey, hingga mengakibatkan apa yang ada di tangan Reyno jatuh semua ke lantai. "Aku tak butuh Rey!"


Reyno yang terkejut pun mengumpat akibat piring yang jatuh. Pakaian yang dikenakan tak luput dari tumpahan makanan, termasuk pecahan piring yang jatuh berantakan di lantai. Refleks ia melayangkan tangan hendak memukul Grey.


Grey yang bersiap dengan apa yang terjadi karena gelagat amarah yang ditujukan oleh Reyno, memejamkan matanya sesaat yang ngeri. Tapi layangan tangan itu tak kunjung mendarat di pipinya. Grey lantas membuka mata, menatap tangan Reyno yang berangsur berubah terkepal seperti menahan amarah.


"Kenapa tak jadi memukulku? Harusnya kamu menampariku. Atau jika perlu mencekikku sampai mati seperti yang kamu lakukan dulu biar aku gak perlu lama menunggu waktu hanya sekedar untuk mati!" ucap Grey yang entah darimana datangnya keberanian untuk mengatakan hal itu.


Sontak Reyno yang tersulit emosi menggeram marah. "Iya. Cepat atau lambat kamu sendiri juga akan mati jika terus seperti ini!" Bentak Reyno yang langsung bangkit pergi meninggalkan kamar Grey seraya membanting pintu.


Hingga lamat terdengar jika Reyno memberi perintah kepada Lisa agar mengunci pintu kamar Grey serta tak perlu lagi memperdulikannya.

__ADS_1


Grey yang di dalam kamar pun terisak, sorot matanya yang kini tak sadar mengarah pada pecahan beling di lantai pun buru-buru diambilnya. Hingga ia yang sudah benar-benar dalam keadaan putus asa pun mengarahkan pecahan beling itu untuk digoreskan secara dalam tepat di titik garis nadinya.


__ADS_2