
"Rencana suami mau jemput kapan, Mbak? Kok gak pilih pulang barengan. Apalagi kondisi hamil gitu, apa suaminya gak malah khawatir?" ujar seorang ibu-ibu dengan menjuruskan matanya ke arah perut Grey.
"Kan si Danar udah bilang kalau kontrak kerja suaminya Mbak Grey ini belum habis. *Eman lho Bu, kalau putus kontrak. Kerja di luar negeri gak sembarang orang bisa kesana."
Ibu-ibu yang lain pun manggut-manggut saja mendengar obrolan itu, lain dengan Grey yang cuma terdiam. Lebih tepatnya memilih untuk diam.
"Tapi kok disana bebas ya Bu, boleh nikah siri itu lho yang gak habis pikir."
Mendengar itu hati Grey sontak jadi tak karuan. Kini ia kembali dicurigai dan tak jarang dari ibu-ibu yang disana meliriknya dengan tatapan menilai.
"Tapi anaknya Pak Kadrun yang di kampung sebelah itu juga Bu, karena kelamaan kerja disana, ketemu jodoh disana, kalau emang udah kebelet sama-sama cinta daripada zinah kan solusinya lebih baik nikah. Trus pulang kan di *rame-ramein."
"Iya juga Bu. Tapi ya kalau dua keluarga ngasih restu, ya gak apa-apa. Masalahnya, Danar bilang katanya orangtuanya Mbak Grey sama suami gak setuju. Manaan Mbak Grey pulang harus dititipin, mampir kesini dulu. Lagian nikah tanpa restu itu berat lho Mbak Grey. Kita kan gak tahu keadaan suami kalau tinggalnya jauh. Ya kalau suaminya Mbak tanggungjawab, kalau gak..."
"Hust! Kalau ngomong gak bisa direm," ujar salah seorang ibu-ibu yang memotong pembicaraan.
Kini mendadak orang-orang di sekitar Grey memasang wajah sungkan. Grey sendiri juga tak tahu harus bagaimana bersikap. Dan dalam kondisi seperti ini nampak sebuah mobil pick-up memasuki pekarangan rumah, membuat orang-orang yang di sekitar Grey menatap ke arah sana.
Setelah mobil mendekat dan berhenti berparkir, kini baru lah diketahui orang yang datang, Danar.
__ADS_1
Lelaki itu turun dari mobil dengan para ibu-ibu yang menyapa. "Baru pulang Nar?"
"*Nggeh Bu," ucap Danar berbalas menyapa dan melirik ke arah Grey yang duduk di antara para ibu-ibu yang tengah berkumpul di teras rumahnya. Mereka hadir karena yang Danar ketahui setiap minggu sore rutin ada arisan yang bertempat di rumahnya.
"Kerja jadi supir sekarang?" tanya salah seorang ibu-ibu disana.
"Baru coba-coba Bu. Kalau jodoh nanti diteruskan."
"Jodoh kok dicoba-coba. Harus ditelateni Mas Danar, biar lancar dan berkah. Untung-untung bisa sukses."
"*Nggeh Bu," sahut Danar mengiyakan nasehat itu kemudian berpamit sopan hendak menuju pintu samping rumah. "Kalau begitu saya masuk ke dalam dulu."
Dengan ibu-ibu yang mulai sibuk dengan kegiatan arisannya, kini Grey beranjak memilih menyingkir sejenak. Tadinya ia tak ingin bergabung tapi dengan banyaknya ibu-ibu yang datang dan menanyakan keberadaannya membuat Grey mau tak mau ikut berbaur disana.
Selepas Grey masuk rumah, kini ia berpapasan dengan Danar yang kelihatannya baru selesai mandi.
Grey menyapa dengan bahasa tubuhnya, menunduk dan menganggukkan kepala. Lalu ia berujar, "Aku buatkan minum ya."
Tak ada kalimat tolakan. Grey lantas menuju dapur membuat minum. Apa yang dilakukannya adalah inisiatif, biasanya ibunya Danar lah yang menyiapkan, tetapi wanita paruh baya itu kini tengah sibuk dengan aktivitasnya.
__ADS_1
Di tengah Grey yang membuat minum di dapur, Danar pun mengambil duduk di salah satu kursi di meja makan sambil mengunyah makanan ringan yang ada disana.
"Sudah mulai akrab dengan ibu-ibu disini?" ujar Danar disela-sela makan.
Grey yang baru saja hendak mengaduk minuman, menghentikan gerakannya sejenak. "Tidak, tadi cuma mereka memanggilku untuk diajak bergabung..."
"Semakin kamu dekat dengan mereka, mereka akan mencercamu dengan banyak pertanyaan. Kamu sudah siap menjawab rasa penasaran mereka?" ucap Danar yang menyela.
Grey jadi terdiam, sendok yang dari tadi berada di genggamannya kini menghantuk bibir gelas hingga menimbulkan bunyi yang membuat Grey tersentak, lalu buru-buru ia meneruskan kegiatannya yang membuat minum.
Hal itu jelas disadari oleh Danar. "Bukan maksudku membatasimu berinteraksi dengan mereka. Tapi kamu juga harus sadar diri, gak selamanya alasan yang kukarang bisa dipercayai selamanya. Paling gak gunakan kesempatanmu untuk berfikir. Kalau kamu masih punya keluarga, ada baiknya mereka tahu tentang keadaanmu. Tapi kalau kamu sendiri belum siap jujur pada mereka, di satu sisi aku pun juga gak bisa selamanya menampungmu."
Hampir tiga bulan bagi Grey, Danar sudah mau menampungnya yang tanpa tahu latar belakangnya adalah sesuatu hal yang paling baik. Dan dengan apa yang diucapkan Danar kali ini bukan berarti lelaki itu jahat, namun benar adanya jika Grey sudah seharusnya bisa berfikir sehat dan waras dalam mengambil keputusan.
*Eman; menyayangkan sesuatu
*rame-ramein; pesta
*Nggeh; iya
__ADS_1