Lost Memory

Lost Memory
Enampuluh Tiga


__ADS_3

Grey tak bisa menahan suara untuk tak berisik selama bercumbu bersama Darrel. Sensasi di perutnya penuh akan gejolak, ia tak paham kenapa banyak kupu-kupu berterbangan disana. Juga pipinya memanas ketika Darrel sejenak melepas pagutan.


Napas Grey sudah tak lagi teratur, ia sangat gugup terbukti tangannya kuat meremas pundak Darrel ketika pria itu menatapnya dengan tatapan tanpa berkedip sedikit pun ke arahnya.


"Harusnya kamu lebih berpengalaman," bisik Darrel menyibakkan rambut Grey yang sedikit berantakan sembari menikmati dengan jelas wajah Grey yang sudah semerah tomat. "Berapa jumlah mantan pacarmu kemarin yang kamu sebut?"


"Kamu sendiri kan yang bilang kalau aku tak boleh mengungkitnya?" sahut Grey sekuat tenaga mengatur napasnya senormal mungkin.


Senyum di sudut bibir Darrel tersungging. "Aku suka, nampaknya kamu sudah cukup tahu diri," ucap Darrel memuji. Kembali memiringkan kepala melekatkan bibirnya untuk mencium lembut bibir Grey.

__ADS_1


Dengan sambil memejamkan mata Grey juga turut menikmatinya sampai hanyut terbawa oleh suasa dan hasrat yang semakin menggebu untuk melakukan hal lebih lagi sebab rasanya ciuman saja tak lagi cukup.


Grey mulai meremas kepala Darrel saat gelombang dahsyat mengobrak-abrik isi pikirannya, entah dimana dan sejak kapan kancing kemeja yang dipakai sepenuhnya telah terbuka dan dengan leluasanya Darrel telah melepas dan menanggalkan seluruh baju atasannya lalu mempermainkan bagian pravacy tubuhnya dengan kecupan dan lidah hingga meninggalkan jejak basah dan kemerahan.


Lagi dan lagi Grey tak kuasa untuk tak menyuarakan desah nikmatnya, ia terbuai ketika titik-titik sensitifnya tersentuh dan terbangkitkan. Gairahnya membumbung tinggi dengan sensasi kenaluriannya juga ingin segera terpenuhi.


Grey ingin terlibat, ia menginginkan lelaki yang sekarang didekapnya itu begitu erat. Grey sepenuhnya telah memasrahkan diri, ketika lelaki itu mengakhiri permainannya di bawah sana dan menaikkan pandangan maka Grey tak mau menyiakan kesempatan.


Di tiap gerakan dan rapatnya jarak diantara keduanya hanya tercipta keintiman yang sama-sama mendamba dan saling mencari kepuasan.

__ADS_1


Tangan mereka saling membuai ada keinginan yang lebih lagi untuk mereka tuntaskan, Grey semakin mengeratkan pegangan tangan yang melingkar di leher Darrel ketika lelaki itu bangkit berdiri menggendongnya beralih menuju kamar. Dengan ciuman yang tak terputus dan semakin menjadi ditambah kedua kaki Grey yang mengapit melingkar di pinggang Darrel semakin membakar suasana.


Grey diperlakukan sedemikian lembut ketika dibaringkan ke ranjang. Sedang lampu kamar yang menyala benderang tak sedikit pun menyurutkan liarnya gairah keduanya. Darrel menarik bibirnya berpindah ke balik daun telinga Grey sedang satu tangannya menyusuri tiap lekuk tubuh indah Grey.


Tak lagi tahan untuk tak melakukan hal lebih, Darrel menurunkan setelan piyama yang hanya tinggal bawahan saja tapi mendadak Grey dengan sekuat tenaga mencengkeram dan memundurkan bahu Darrel.


Darrel pun tersentak, mengalihkan tatapannya hingga retina mereka saling bertemu. Dan berprotes, "Sudah sejauh ini dan kamu mau menghentikanku?"


Tapi dengan spontan Grey mengeleng, Darrel masih tak paham hendak menyemburkan kemarahan sebab seluruh badannya sudah dibuat ngilu dan jelas ingin dituntaskan. Ketika sedikit menarik diri justru sikap Grey malah menunjukkan raut malu. Dengan gerak konstan wanita itu kini mendekap bagian atas tubuhnya yang terekspos dan mengapit kuat-kuat kedua pahanya seraya berujar dengan begitu pelan, "Boleh aku minta matikan lampu?"

__ADS_1


Sontak saja Darrel dibuat berdecih, lalu terkekeh geli. "Gak, aku lebih suka menikmati ekspresi wajahmu saat bersamaku," sahut Darrel berdiri tegak melepas seluruh pakaian yang dikenakan tepat di hadapan Grey yang makin bersemu malu.


__ADS_2