
Darrel mengantarkan Grey di apartemen yang terbilang berada di kawasan cukup elite. Grey mengikuti langkahnya tanpa banyak berkomentar, tapi seolah dari sorotan mata wanita itu menyiratkan kekaguman pada tempat yang dipijak.
"Kamu suka tempatnya?" ucap Darrel ketika berhasil membuka pintu apartemen dengan menekan angka sandi.
"Sangat suka. Yakin kamu ngasih aku tempat tinggal disini?" sahut Grey berkeliling masuk mengamati dan memeriksa tiap ruangan.
Hanya terdapat satu kamar yang terhubung dengan kamar mandi dan balkon, juga terdapat ruang tamu dengan desain jendela kaca super besar sebagai dinding pembatas.
Bukan lagi bagus, tapi Grey dibuat takjub apalagi saat ia mengarahkan pandangannya ke arah luar. Dengan jelas ia memandang jalanan di bawah sana, dari atas juga nampak gedung-gedung tinggi mengitari sekitarnya.
"Indah banget, aku yakin kalau malam hari pasti bisa lihat bintang di atas sana," ujar Grey antusias menunjuk arah luar langit yang kebetulan berwarna cerah.
__ADS_1
Darrel dengan langkah maju pun mendekat dimana Grey berdiri. Sampai lelaki itu mensejajari Grey, Grey masih dengan keantusiannya tanpa sadar merangkul lengan Darrel.
"Beruntung banget ya bisa berada di tempat sebagus ini," ucap Grey memuji dengan melebarkan senyum. Kepalanya menyandar pada lengan Darrel yang masih digenggam. "Gak sabar nunggu malam, pasti banyak bintang-bintang bertaburan di atas sana," gumam Grey menikmati momen yang dirasanya sangat indah, satu tangannya meraba naik ke udara.
Namun hal yang tak terduga tangannya yang naik ke udara diraih dan digenggam oleh Darrel, sontak Grey terkejut juga menyadari sikapnya yang sudah berlebihan. Segera Grey bergerak menghindar tapi sayang pinggangnya sudah dirangkul erat oleh tangan Darrel.
"Maaf aku kebawa suasana," ucap Grey gelagapan dan serba salah. Ia juga mengalihkan sorot matanya menatap arah lain sebab Darrel kali ini menatapnya sedemikian dalam dan jelas membuatnya jadi salah tingkah.
"Yang mana? Gak sama sekali. Aku, aku cuma kagum dengan tempat ini. Terbawa perasaan. Itu aja, maaf kalau aku terlalu berlebihan," sahut Grey menjadi gugup, usahanya untuk melepaskan diri dari situasi yang sebegitu dekatnya dengan Darrel sepertinya mustahil.
"Memang seharusnya jadi tugasmu kan? Merayuku dan membuatku berlama-lama untuk ada bersamamu?"
__ADS_1
"Darrel apa harus dimulai dari sekarang? Kita baru bertemu dan besok kita baru menikah kan?"
"Tapi aku sudah membayarmu," sahut Darrel memajukan wajah, tapi dengan cepat kepala Grey berpaling ke arah lain untuk menghindar.
"Ini terlalu buru-buru. Aku juga belum mengajukan syarat. Please kumohon," pinta Grey ketika kulit lehernya disapu dengan hembusan napas Darrel yang seketika saja membuatnya jadi mencengkeram erat lengan Darrel.
Ada suatu gairah tersendiri dari dalam tubuh Grey yang muncul dan itu membuatnya tak nyaman.
"Syarat apalagi yang kamu minta?" bisik Darrel yang sedikit menarik wajahnya dan di saat itu pula bola mata mereka saling bertemu, menatap satu sama lain.
"Tak boleh ada kekerasan," sahut Grey tanpa sadar ia menggigiti bibirnya juga menampilkan wajah penuh harap agar Darrel mengabulkan permintaannya.
__ADS_1
"Semua tergantung dengan sikapmu," ujar Darrel yang tak sedikit pun mengalihkan tatapannya dari Grey yang nampak lucu dan menggairahkan dalam waktu yang bersamaan. Hingga Darrel yang tak mau menyiakan kesempatan kini menarik Grey dalam dekapan lalu menyambar bibir manis di hadapannya melum*tnya keras.