
"Rena, cepat lah bergabung disini. Spaghetti yang kubeli rasanya enak sekali, aku jamin kamu pasti suka."
Reyno menyambut ketika Grey membuka pintu kamar. Nampak lelaki itu menawarkan makanan kepada Grey sambil mengunyah menikmati makanan dalam mulut.
Grey pun beranjak mendekat lalu mengambil tempat di samping Reyno yang biasa digunakan, sementara Lisa tak teralih sedikit pun oleh kehadiran Grey yang bergabung di meja makan.
"Tadi katanya kamu ingin menyampaikan sesuatu?"
"Makan lah lebih dulu selagi hangat, bisa kita bicarakan nanti 'kan?" sahut Reyno yang menyodorkan piring penuh berisi spaghetti kesukaan Grey.
Tapi Grey bersikukuh ingin menyampaikan keinginannya. "Aku ingin meminta kembali identitasku."
__ADS_1
Reyno yang mendengar permintaan Grey terkejut, sontak melepaskan piring dari tangannya hingga menimbulkan suara gaduh.
Tiga orang yang berada di satu meja itu terdiam sesaat dan Grey kini menjadi pusat perhatian.
"Ingatanmu sudah kembali?" seloroh Reyno dengan hati-hati.
Grey tak mengangguk juga tak menggeleng. Tapi reaksi Reyno lah yang kali ini membuat Grey tak habis pikir.
Reyno berusaha tenang dan terdengar helaan napasnya. "Bagus lah kalau kamu ingat. Harusnya kamu yang berterimakasih padaku, kamu bisa sampai sini dan menjauh dari suamimu yang tak pernah sama sekali menganggapmu."
"Apa maksud kamu mengatakan itu? Setahun aku menghilang tanpa memberi kabar dan sekarang aku baru tahu kalau ternyata aku punya suami, tapi kamu justru menyembunyikannya, apa itu tidak keterlaluan Rey? Bahkan suamiku itu saudaramu sendiri."
__ADS_1
Reyno menarik sudut bibirnya tersenyum mengejek. "Apa selama kamu hidup bersamanya, Darrel pernah memberi perlakuan layak? Atau jika pun Darrel suamimu, apa pernah dia sekali pun mengakuimu di khalayak ramai kalau kamu istrinya atau minimal dia mengenalkanmu kepada keluarganya? Nggak Ren, nyatanya dia cuma memanfaatkamu!" tegas Reyno.
"Aku yakin Darrel pasti punya alasan, dan pasti selama aku menghilang dia kebingungan mencariku."
Reyno tertawa lebih tepatnya menertawakan anggapan Grey. "Kamu terlalu percaya diri," sindirnya kepada Grey. "Buka matamu baik-baik, apa yang diharapkan dari dirimu yang hanya sekedar seorang wanita dari latar belakang keluarga yang sudah hancur. Ayahmu bangkrut dengan menyisakan banyak hutang lalu memilih untuk mati bunuh diri dan mewariskan hutangnya padamu, terlebih saudara laki-laki satu-satunya yang kamu miliki menjadi parasit di kehidupanmu karena hobinya berjudi. Darrel memilihmu bukan tanpa alasan, bullshit kalau alasannya cinta karena yang jelas dia menikahimu hanya untuk mendapat status legal sebagai syarat yang disebutkan oleh orang tuaku untuk menarik aset sebagian harta yang dimiliki oleh keluargaku."
"Tapi yang membuatku tak habis pikir apa hakmu membawaku kesini Rey? Terserah kalau alasan Darrel menikahiku karena itu, dia punya hak lebih atas diriku karena statusku masih istrinya."
"Ren sadar lah!" Bentak Reyno memundurkan kursi dan mengguncang bahu Grey. "Dia cuma memanfaatkanmu. Dia tak pernah menganggapmu sebagai istri, kamu hanya dijadikan alasan untuk menarik harta dari keluargaku. Pernikahan kalian cuma berlandaskan pada uang dan aku yakin kamu pasti cuma dijadikan alat pemuas nafsunya yang legal."
Grey tercengang, tangannya mendorong kuat Reyno. Ia beranjak berdiri dan spontan melayangkan tangannya untuk menampar pipi Reyno.
__ADS_1
"Jaga ucapanmu dan ingat kamu menyebut Darrel itu saudaramu!" teriak Grey yang tak terima sedangkan Reyno yang mengelus bekas tamparan Grey kini membalas dengan tatapan tajam.