
Grey berkutat dengan laptop di pangkuan, sedari tadi jarinya bergerak mengetik balasan dari satu persatu pesan yang masuk. Sudah sedari dua Minggu lalu usahanya mengunggah produk di beberapa sosial media membuahkan respon.
Ya, seperti yang pernah Danar katakan, pekerjaan yang terlibat dalam dunia penjualan online tak semudah yang dibayangkan. Awalnya Grey mendaftar pada sebuah website dan mengunggah produk pada beberapa platform penjualan, tapi menunggu hampir satu minggu tak ada hasil apa pun. Bahkan yang menengok produknya hanya bisa dikatakanhitungan jari.
Lalu ia pun merubah strategi, memasarkannya pada jejaring sosial yang banyak dipakai oleh orang-orang. Dengan bantuan iklan meski harus merogoh kocek yang lumayan nyatanya sekarang terbukti, respon banyak yang masuk di ponselnya sebab terhubung pada kontak nomornya.
Danar memberinya kepercayaan, sebuah laptop dan ponsel. Grey menggunakannya pun dengan sebaik mungkin, ia juga mulai dekat dengan para warga di tempat tinggal sekitar terutama mereka para pelaku usaha dari pengrajin meubel. Grey dengan keantusiannya menanyakan tiap detail, nama produk, kegunaan, ukuran, bahan baku pembuatan hingga sampai tahap finishingnya. Tak lupa Grey memotret sebagus mungkin dari tiap-tiap produk itu, juga akhir-akhir ini ia juga melakukan riview produk tersebut dan mengunggahnya dalam bentuk video.
Tanpa sadar kesibukannya yang menghabiskan waktu di depan layar ponsel dan laptop mendekati waktu dini hari. Di tengah Grey yang mengetik dan mengunggah foto produk ia justru dikejutkan dengan sesuatu yang bergerak-gerak dari dalam perutnya.
Sontak mata Grey mengarah pada perutnya dan menunda sejenak ketikan jarinya sambil membuang napas merilekskan tubuhnya dengan menyandarkan punggung di kursi yang didudukinya. Grey pun meletakkan sejenak pekerjaannya lalu kini beralih mengelus perutnya.
Sedari tadi ada yang menemaninya, batin Grey. Tapi ia kemudian menggeleng. Ah bukan... seru batinnya lagi dan kali ini sudut bibirnya tertarik, Grey tersenyum simpul sambil mengelus teratur perutnya yang bereaksi, gerakan menendang itu kontras sekali terlihat ketika mata Grey menyoroti ke arah perutnya .
"Mungkin kamu dihadirkan karena Tuhan tak ingin melihatku sendirian di dunia. Tapi kadang aku juga berfikir, apakah kelak jika kamu terlahir nanti..." Grey menjeda ucapannya dengan membuang napas begitu berat.
"Aku takut jika nanti kamu lahir, kamu akan menyalahkanku. Karena merasa hidupmu tak beruntung," gumam Grey yang mendadak pesimis.
Grey jadi terdiam, gerak tangannya terhenti dengan sorot mata kosong usai melempar pandangan ke arah lain. Ia tak lagi memperdulikan gerakan dari dalam perutnya.
__ADS_1
Ketakutannya muncul kembali, perasaan tak tenang entah kapan akan enyah dari kehidupannya. Setelah berangsur ingatannya kembali, ternyata tak setitik pun kebaikan yang bisa ia pilih.
Kini dalam lamunannya fokus Grey kembali ketika terdengar suara ketukan dari arah pintu di kamarnya. Sontak ia pun beranjak menuju pintu dan membukanya.
"Kulihat lampu di kamarmu masih menyala. Aku beli camilan, kalau mau makan lah selagi hangat."
Grey tak langsung menyahuti ucapan Danar yang menawarinya makan. Sebab jikalau sudah waktu malam meski ia merasakan ingin makan Grey selalu mengabaikan, karena ia cukup tahu diri. Tak mau jadi beban atau pun merepotkan orang lain.
Tapi kali ini ia mengingat ada hal yang harus disampaikan pada Danar, mengingat lelaki itu yang jarang di rumah karena akhir-akhir ini rutin bekerja keluar mengirim pesanan pada pelanggannya.
Bergegas Grey mengambil catatan untuk diserahkan pada Danar, menyusul lelaki itu yang sudah duduk di ruang tamu menikmati camilan sambil menonton siaran malam di televisi.
Grey tak serta merta mengambil duduk, ia justru menyodorkan lebih dulu catatan kepada Danar. "Ini. Kebetulan hari ini ada tiga pelanggan yang membeli meubel. Uang DP sudah ditransfer ke rekeningmu, kamu bisa mengeceknya lebih dulu. Biar besok aku bisa segera konfirmasi ke pengrajin untuk proses pengerjaannya."
Perut Grey bereaksi saat arah matanya mengarah pada kotak di atas meja yang berisi potongan makanan yang tadi ditawarkan oleh Danar. Disana nampak toping coklat kacang yang meleleh dari dalam tiap potongannya dan sangat nampak menggiurkan.
"Cicipilah gak usah sungkan," ujar Danar masih mengunyah dengan satu tangan sibuk mengganti saluran acara pada televisi.
Kini Grey seperti tak bisa menahan diri, ia mengambil duduk. Dengan sungkan ia mulai mengisi perutnya yang rupanya juga tengah lapar.
__ADS_1
"Kamu gak ingin mengeceknya lebih dulu?" tanya Grey disela makan.
"Gak perlu. Lagian kamu pasti sudah tahu detailnya dan aku sudah mempercayakanmu," sahut Danar yang sepenuhnya telah mempercayai Grey, sampai-sampai salah satu rekening atas namanya juga diserahkan pada Grey agar memudahkan tiap transaksi dengan pelanggannya.
Grey menganggukkan kepala serta ia menyampaikan rasa terimakasihnya dengan bergumam pelan.
Tak ada percakapan di sela-sela makan mereka, hanya diisi dengan suara televisi yang dari tadi disimak oleh Danar. Sedangkan Grey masih terlibat dengan kerisauan dalam dirinya.
Danar melirik ke arah Grey yang tak lagi melanjutkan makan, sementara wanita itu masih bergabung duduk bersama. Merasa ada yang aneh, lantas ia menegurnya, "Gak dilanjutkan lagi makanannya, ini masih ada beberapa potong," ucap Danar sambil mengambil satu potong dan memakannya.
Grey menggelengkan kepala, dan dengan ragu kini ia pun menyampaikan kerisauan hati yang sulit untuk ditahan. "Aku sebenarnya punya suami."
Danar sontak terdiam, lelaki itu lantas memusatkan perhatiannya ke arah Grey dan menyahuti pengakuan itu. "Kamu akan menemui suamimu? Maksudku kamu sudah siap bertemu dengannya?"
Grey menggeleng. "Aku tak tahu," ucap Grey terdengar tak ada pendirian.
Dengan logikanya Danar tak lantas cepat menanggapi Grey. Lagi pula wanita itu bukan dengan kondisi biasa. Kalau seandainya tiba-tiba bertemu dengan orang yang lama tak ditemui dan menampakkan diri dalam kondisi hamil tua, kemungkinan ujungnya pasti tak akan baik-baik saja.
"Bagaimana pun kamu harus bertemu dengan suamimu...."
__ADS_1
Belum selesai bicara, nampak jelas Grey tercengang mendengar tanggapan dari Danar.
"Bukan sekarang, tapi akan lebih baik juga secepatnya. Maksimal setelah anakmu lahir, temui suamimu. Selesaikan yang menjadi urusan kalian, karena bukan hanya hidupmu saja yang masih berlanjut tapi suamimu, aku yakin dia pasti juga tengah menghawatirkanmu."