
Hati Grey sakit, di situasi yang sekarang ini rasanya ia ingin sekali melarikan diri. Perasaan takut seketika hadir berselimut dalam diri, terlebih tatapan mata orang di hadapannya Darrel, lelaki yang pernah mengisi di hidupnya kini menatapnya dengan penuh kesal dan benci.
Air mata tak mampu Grey bendung kali ini dan mulutnya hanya sanggup bergumam lirih berujar kata maaf yang tak henti.
Dengan langkah bergetar ia berusaha memundurkan kaki ingin sesegera mungkin bisa lari. Namun apalah daya, dirinya yang mendadak lemah mengakibatkan kaki yang bergerak tak berarah sebab keadaan yang kacau membuat dirinya jatuh.
Sontak orang di sekitarnya kini khawatir. Grey tak mengira, akibat ulahnya ia jadi terjatuh lantas meringis menahan sakit. Tiba-tiba di persekian detik perutnya menunjukkan gejala kontraksi. Padahal bila dipikir tak mungkin bayi dalam perutnya lahir sebab jika dihitung masa kehamilannya masih dalam hitungan dini.
"Sakit, tolong Bu. Rasanya Grey udah gak sanggup nahan sakit..." Grey merintih mengeluhkan rasa sakitnya yang tak tertahan.
Danar beserta ibunya pun dibuat panik, terlebih dari sela paha Grey keluar cairan.
"Air ketubannya keluar. Cepat bawa Nak Grey ke rumah sakit," perintah ibunya Danar yang langsung dituruti orang-orang di sekitar.
__ADS_1
Dalam keadaan lemah dan setengah sadar mata Grey menangkap sosok Darrel yang tadinya hendak pergi justru urung. Lelaki itu bergeming menatap dingin ke arahnya.
Sakit yang dirasakan Grey semakin tak tertahan, dirinya kini hanya bisa pasrah ketika orang-orang berusaha menolong membawanya sampai ke rumah sakit.
Ketika tiba di rumah sakit Grey langsung ditangani oleh dokter dan perawat yang bertugas. Tak lama setelah dilakukan pemeriksaan, Grey dipastikan oleh Dokter mengalami pecah ketuban dini.
"Pasien harus segera mendapat penanganan, bila tidak ibu dan bayi dalam kandungan akan beresiko mengalami infeksi," ujar dokter menjelaskan keadaan Grey.
"Lalu bagaimana baiknya dokter?" sahut ibunya Danar yang semakin kekhawatiran.
Namun saat ibunya Danar hendak menanggapi ucapan Dokter, Danar buru-buru menyela.
"Kami kebetulan bukan keluarga dari pasien," ucap Danar yang kemudian menatap ke arah Darrel yang kebetulan terpaksa ikut mengantar Grey ke rumah sakit menggunakan mobilnya.
__ADS_1
"Danar..." Ibunya Danar berusaha menanggapi namun Danar justru menggelengkan kepala.
"Pasti ada tujuan orang itu mendatangi rumah kita dan mencari Grey. Ibu, biar ini jadi urusan lelaki itu," tegas Danar meyakinkan ibunya.
"Tapi kita tidak kenal orang itu," ucap ibunya Danar berargumentasi.
"Ibu, percaya sama Danar," kata Danar berusaha meyakinkan. "Dokter, tolong beri kami waktu untuk merundingkannya."
"Baik, kalau begitu perawat akan menyiapkan berkasnya bila kalian sudah setuju," ucap Dokter yang kemudian berpamit.
Danar kemudian menghampiri Darrel. "Maaf, saya pikir ini sudah bukan tanggung jawab kami lagi. Ini keputusan besar, resikonya juga pasti sangat besar. Saya yakini pasti ada tujuan anda mencari Grey sampai sini dan anda sudah pasti sangat mengenalnya kan? Jadi urusan ini saya serahkan kepada anda karena kami bukan keluarganya."
Ibunya Danar lantas menyela. "Danar, jangan sembarangan bicara! Nak Grey memang bukan keluarga kita, tapi ibu sudah menganggapnya seperti anak ibu sendiri karena udah lama tinggal sama-sama kita."
__ADS_1
Darrel pun mulai mengambil kesimpulannya sendiri, "Iya dia istri saya."
Ibunya Danar lantas tercekat, namun salah seorang perawat tiba-tiba datang menjelaskan keadaan Grey. "Keadaan pasien tidak bisa menunggu lebih lama lagi dan harus segera ditangani. Mohon silahkan walinya menuju tempat administrasi untuk menandatangani berkas persetujuan operasi."