
Grey mulai terusik dengan pertanyaan yang akhir-akhir ini dihadapkan dengan kejelasan statusnya. Lama kelamaan orang jadi ingin ingin tahu tentangnya dan semakin diusik Grey sendiri jadi tak nyaman.
Walau Danar dan Ibu dari lelaki itu memihak padanya, tapi sampai kapan pun hidupnya tak akan tenang karena kehadirannya hanya merepotkan orang di sekelilingnya.
Grey adalah tipe orang yang menyimpan masalah, inginnya ia menyelesaikan sendiri. Namun dalam situasi ini geraknya hanya terbatas terlebih ada beban besar yang ia bawa.
Kini Grey menatap ke arah perutnya, mungkin bila ia tak dalam keadaan hamil bisa saja ia pergi membawa diri dengan mudah, terlebih ingatannya juga berangsur pulih. Tapi dengan adanya janin yang tumbuh di perutnya dan perkiraan akan segera lahir, ia jadi kebingungan.
Ada ketakutan besar dalam dirinya, bagaimana dan apa yang bisa dilakukan rasanya sulit untuk terjawab.
Dalam kebimbangan yang teramat Grey kesulitan mencari solusi. Mengingat Ibu dari Danar pun kadang juga nampak jengah jika orang-orang bertanya dengan status Grey. Lalu apakah mampu menutupi kebohongan terus-menerus, juga selamanya kebohongan itu tak kan berujung.
Grey membuang napas berat, ia memutuskan untuk bangkit dari duduk di tepian ranjang lalu melangkah keluar kamar. Matanya mengedar tak menemukan siapa pun di ruang dalam rumah, namun dari jendela samping rumah nampak Danar dan Ibu dari lelaki itu tengah berbincang.
Pun kini Grey beranjak kesana, kedatangannya yang disadari oleh Danar dan Ibunya pun disambut dengan baik. Grey dipersilahkan untuk duduk bergabung bersama mereka.
"Sini Nak Grey, duduk di samping Ibu."
Grey mengangguk sembari tersenyum tipis lalu duduk di bangku samping Ibu paruh baya yang begitu baik terhadapnya. Sedangkan Danar beberapa hari ketika memiliki waktu senggang, menyibukkan diri dengan menekuri catatan pekerjaan.
"Tabunganmu tinggal berapa Nar, kok kepikiran nambah mobil?"
"Ada Bu, sekalian kan kalau mobil nambah bisa tambah juga penghasilan Danar."
__ADS_1
Ibu dari Danar pun mendengkus. "Modalnya terlalu besar. Duit yang masih kalau bisa buat pegangan dulu. Memang kamu gak persiapan untuk biaya pernikahanmu nanti?"
Danar tergelak. "Jodohnya saja belum kelihatan Bu."
"Tapi kan harus ada persiapan, kalau duit gak pegang terus tiba ketemu jodohmu. Apa gak kelabakan kalau duitmu sudah habis."
"Ya kan ini lagi usaha juga Bu. Bisa jadi kan jasa kirim barang punya Danar rame, balik modal kan. Ngumpul lagi duitnya."
"Teorinya sih indah. Tapi Ibu gak setuju kamu beli mobil lagi, lagian akhir-akhir ini tarikan mobilmu juga sepi."
"Bukan sepi Bu, memang lagi ditakar segitu saja rejekinya."
Grey sedari tadi menyimak percakapan antara sosok ibu dan anak. Meski ibu paruh baya itu menampakkan ekspresi masam tapi tetap ada kekhawatiran disana, dan Grey menyakini itu wujud dari kasih sayang sebagaimana nasehat yang diberikan mempunyai maksud dan bertujuan baik untuk kedepannya.
"Maksud Ibu, buka toko begitu? Sama saja dong Bu harus keluar banyak modal. Buka toko artinya harus punya stok barang, sewa kios dan Danar harus rutin cek toko. Kayaknya itu malah tambah repot," sahut Danar menolak usul Ibunya.
"Tapi berjualan kan gak perlu harus ada toko, Mas." Grey spontan menyanggah ucapan Danar.
Pun kini Danar menanggapi dengan raut bertanya-tanya. "Jualan, gak ada toko? Maksudnya?"
"Ada semacam website yang dikhususkan untuk berniaga, disana disediakan fasilitas bagi penjual untuk mempromosikan dagangannya."
"Oh jualan online?" sahut Danar cepat.
__ADS_1
"Iya pakai media online."
"Aku sih sudah coba pasang iklan di sosial media, tapi kebanyakan mereka cuma nanya. Bahannya apa, ukurannya gimana. Sudah jelas difoto tapi masih gak percaya, suruh minta foto aslinya. Gak telaten kalau jawab satu persatu, ngabisin waktu malah gak ada yang beli cuma pada nanya doang."
"Kurang sabar kamu Nar," culetuk ibunya Danar yang terkesan menyalahkan. "Jualan itu modalnya sabar, dilayani dengan baik pasti banyak yang beli."
Danar pun langsung menipiskan bibir, ya komentar memang mudah, seru batinnya dan tertahan di lidah.
Grey menahan senyum dengan interaksi ibu dan anak itu, kini ia pun mulai memberi penjelasan tentang ilmu dan pengalaman yang pernah ia dapat di bangku kuliahnya dulu. "Untuk sistem di website berbeda, ketika mengunggah rincian produk yang hendak dipasarkan harus dicantumkan keterangannya secara detail, otomatis pertanyaan dari para calon konsumen akan mudah terjawab. Paling tidak kalau produk mau dipasarkan di sosial media harus dibuat semenarik mungkin, contohnya menonjolkan ke khas-an produk dari barang tersebut. Tentunya harus mampu bersaing dengan produk lain."
Danar sedikit memahami dengan arah pembicaraan Grey, kepala lelaki itu mengangguk mengerti sesuatu. "Aku yakin produk dari kampung kita itu mampu bersaing. Bahan meubel yang dipakai pada produk kita itu gak kaleng-kaleng, pengerjaannya halus, banyak yang suka tapi cuma belum dikembangkan, itu aja."
"Kenapa Mas Danar gak mulai mencobanya, mengenalkan produk itu biar berkembang dan makin dikenal orang banyak."
"Ada sih niatnya, cuma ada keterbatasan," ucap Danar yang tiba-tiba pesimis.
Grey dan ibunya Danar pun saling menoleh heran.
"Keterbatasan gimana maksudnya, Nar?"
Dengan terkekeh dan malu Danar lantas berujar, "Danarnya gaptek Bu, gak paham gimana gunakan apa itu website. Pernah niat dan sudah beli laptop, dikira bakal bisa langsung dipakai. Tapi ternyata cuma dianggurin karena gak tahu cara pakainya."
Ibunya Danar pun menanggapi dengan berdecak, namun Grey yang tahu harus berbuat apa kemudian berusul meminta. "Kalau diijinkan bantu, saya bisa pakai laptopnya."
__ADS_1
Kini Grey seketika ditatap heran oleh Danar dan ia pun segera berucap menyakinkan. "Kalau boleh, saya akan mencobanya."