
"Udah gak waras! Kamu pengen mati!? Iya. Kamu ingin mati kan!" bentak Danar usai menguasai diri sebab tak berselang badannya tadi ambruk bersama Grey di dekat pembatas jalan.
"Kalau aku gak bertindak cepat, kamu udah nyaris mati!" Danar tak habis pikir, juga emosinya tak terkendali. Baru beberapa detik ia menghampiri sang supir di bagasi belakang mobil untuk mengambil barang, ia tak menduga jika wanita yang bersamanya hendak bunuh diri.
Hampir saja dan mungkin akan mati jika ia tak bertindak cepat mendorong Grey meski ia sendiri harus terjungkal. Dan kini badannya sendiri dibuat ngilu sebab terjatuh dengan begitu keras.
Grey yang dibentak sedemikian justru tangisnya pecah. Danar tak bisa berbuat banyak, ia berucap dengan juga akibat kesal.
Dibalik kesal dan emosinya, ia juga jadi khawatir kalau wanita di hadapannya mengalami cidera sebab ia tadi mendorong dan menarik badan itu dengan begitu keras.
Danar kemudian mengamati kondisi Grey mencari apa ada dari badan Grey yang terluka, namun belum sempat mendapati dan membuka mulut untuk bertanya tentang kondisi Grey yang terus-terusan menangis, kini mereka justru dikerumuni oleh orang-orang yang penasaran dengan apa yang terjadi.
__ADS_1
Orang-orang pun membantu. Danar meringis saat berdiri sakit, mungkin saja ada yang terkilir terkilir akibat ditimpa oleh badan Grey tadi. Dan Grey yang sudah dibantu oleh orang-orang untuk dipapah dan menepi ke seberang jalan justru badannya lebih dulu lemas dan hampir ambruk ke jalanan aspal.
Sontak orang-orang membopong badan Grey dengan sigap.
Danar begitu bingung, kenapa ia bisa berada di posisi sulit dan terbelit dengan hal yang seharusnya bukan menjadi urusannya. Sekarang ia telah berada di sebuah puskesmas, menunggui orang yang sama sekali tak dikenalnya.
Orang itu, lebih tepatnya wanita yang sangat menyedihkan itu baru saja dikabarkan oleh perawat yang bertugas telah siuman. Tapi Danar sendiri kini masih terdiam duduk di depan pintu kamar perawatan.
Harusnya ia sama sekali tak perduli, tapi ada satu hal yang mengganjal di pikirannya sebab ada satu pesan dari bidan jaga yang bertugas mengatakan, bukan... lebih tepatnya memprediksi jika wanita di dalam sana sedang dalam keadaan mengandung.
Ia prihatin, miris sekaligus ingin menghujat tapi apa haknya. Lagi-lagi Danar hanya bisa menekankan jika ia bukanlah siapa-siapa.
__ADS_1
Kini ia membuang napas panjang, bangkit berdiri dan memang ia tak berkewajiban menyelesaikan sesuatu yang memang bukan menjadi urusannya. Ketika ia sudah membuka tirai dimana tempat Grey berbaring di ranjang perawatan bersamaan wanita itu yang juga menoleh ke arahnya.
Danar pun mendekat. Saat ia sadar jika Grey hendak membuka mulut bersuara, ia memilih lebih dulu berucap. Karena lebih tepatnya tak ingin membuang lebih banyak waktu demi berbasa-basi dengan berucap hal yang tak penting.
"Mungkin upayamu tadi untuk mengakhiri hidup belum berhasil. Tapi pikirkan lagi. Pikir dulu, bila perlu seribu kali. Apa kamu pikir dengan mengakhiri hidup semua akan selesai begitu saja?"
Grey menunduk dan menyembunyikan pergelangan tangannya yang jelas sudah disadari orang lain. "Hidupku bahkan udah gak berarti, aku gak tahu untuk apa aku harus bertahan hidup," sahut Grey teramat lirih dengan keputusasaannnya.
Danar mendengkus. "Oke bisa saja kamu mati kalau kamu lakukan hal konyol lagi untuk mengakhiri hidup. Tapi apa kamu gak pikirkan satu kali saja apa yang ada dalam dirimu. Minimal gunakan nuranimu, di tubuhmu itu ada hak lain yang sedang tumbuh dan layak untuk hidup."
Grey mendadak tercengung dan bingung. "Apa yang kamu maksud?"
__ADS_1
"Kamu hamil. Di tubuhmu janinmu sedang tumbuh, bila kamu bunuh diri bukan cuma dirimu sendiri yang mati tapi kamu juga membunuh bayi dalam kandunganmu," jelas Danar yang membuat Grey seketika syok dan ia berharap di detik sekarang waktu berhenti berputar.
To be Continued