
"Maaf gak sengaja," ucap Darrel saat sudah berbalik badan, tepat di saat itu wanita di depannya menoleh padanya.
"Brengsek! Loe cari gara-gara kan!"
"Gak sengaja," ucap Darrel tegas namun tetap tenang menghadapi tatapan tak terima.
"Gue lihat dari tadi mata loe ngelihat ke arah kita. Loe mau cari gara-gara!" bentak salah seorang yang hendak melayangkan pukulan pada Darrel.
Namun dengan cepat Darrel menahan kepalan hingga tak sampai mengenai wajahnya.
"Ini salah saya, untuk minuman yang tadi tumpah biar saya ganti dengan yang baru."
"Kayaknya gak perlu, mereka yang suka rela ngasih ke kamu. Kamu nolak itu jadi hakmu," sahut Darrel menoleh pada wanita yang balas menatap ke arahnya. Dari cahaya redup dan remang dengan jarak yang cukup dekat Darrel ikut mengamati lekat juga baju wanita itu nampak basah.
__ADS_1
"Masih ngelak padahal sudah jelas loe ikut campur!"
Lagi-lagi Darrel hendak diserang, tapi Darrel lebih sigap untuk melawan dan memiting kepala dari salah satunya. "Gue punya mata dan telinga yang masih berfungsi dengan baik. Gue dengar dengan jelas apa yang sudah kalian tadi rencanakan pada wanita ini. Kalian mau pake buat senang-senang, silahkan. Tapi kalau dengan cara licik, kalian tak lebih dari sekedar pengecut!"
"Lepasin brengsek!" sahut orang yang kesakitan akibat kepalanya terpuntir dengan tindakan yang dilakukan oleh Darrel.
"Mau diperjelas, apa wanita ini mau dengan kalian?" ujar Darrel menatap pada pelayan club yang sudah nampak takut dan serba salah.
Namun keributan yang sudah memancing banyak orang itu akhirnya didatangi oleh petugas keamanan yang berupaya melerai.
"Tanyakan saja pada mereka," sahut Darrel menunjuk sekumpulan pria yang sudah dicap sebagai pengecut.
"Maaf ini salah saya, saya akan ganti minuman yang sudah saya pecahkan tadi."
__ADS_1
Darrel yang tak puas segera sikap dan cepat menyahut, "Bukan salahnya. Para pria-pria pengecut ini yang mau mengerjai karyawan ini. Cek saja apa yang ada di kantongnya, itu sudah jadi cukup bukti."
Sontak petugas keamanan mulai mengecek dengan yang dikatakan Darrel, dan terbukti benar, ada butiran obat terdapat di kantong mereka.
Sudut bibir Darrel terangkat dan tersenyum puas, Andreas juga turut menghampiri menanyakan dengan yang terjadi. Dan tak perlu dijelaskan pun semua yang terjadi masih ada di depan mata.
Ketika Darrel melirik ke arah pelayan club yang masih berdiri tak jauh darinya, Darrel mendapati ada sesuatu yang tak beres. Wanita itu mengerjapkan mata beberapa kali dan badan wanita itu berdiri tidak stabil, sebelum benar-benar hilang keseimbangan dan terhuyung jatuh Darrel cepat-cepat ambil sikap.
"Bantu aku urus ini, aku ada kepentingan sebentar," ucap Darrel sebelum beranjak pergi kepada Andreas. Kemudian berlalu pergi begitu saja dan memegangi kedua bahu wanita pelayan club tadi untuk menghindar dari kerumunan.
Tak ada penolakan sedikit pun, wanita itu dengan langkah kaki mengikuti Darrel hanya bergumam mengeluh, "Kepalaku tiba-tiba pusing."
Darrel tak menyahut, terus berjalan dan berusaha keluar dari hingar bingar keramaian club ia pun masih berjalan sambil menuntun wanita yang sama sekali tak dikenalnya menuju mobil yang terparkir di sudut basemen.
__ADS_1
"Kamu bawa aku kemana?"
"Masuk saja, kamu lebih aman disini," ucap Darrel saat sudah membuka sisi pintu mobilnya.