Lost Memory

Lost Memory
Limapuluh Sembilan


__ADS_3

"Kamu gak berencana buat aku hamil kan?" tanya Grey dengan napas yang mulai tersengal sebab ikut terhanyut dalam gairah.


Detik yang lalu ia dan Darrel terlibat dalam ciuman cukup panas. Grey tahu ada yang tak beres dalam dirinya. Dari tadi kepalanya digedor-gedor bahwa ada suatu hal yang salah, tak mau terlarut dalam buaian yang mampu menggiringnya dalam menuruti nalurinya, ia memaksakan diri untuk menahan gejolak gairahnya.


"Atau... Kamu bawa pengaman?" ucap Grey yang nyatanya susah dan berfikir jika sudah tak lagi ada cara untuk membendung hasrat. Sebab untuk mengakhiri situasi ini baginya juga cukup disayangkan.


Tangan Grey masih bertahan melingkar di leher Darrel, sementara sorot mata Darrel tak sedikit pun teralih menatapnya. Itu berlangsung lama membuat Grey jadi beranggapan jika lelaki di depannya sangat menginginkannya begitu pula dirinya yang sulit menolak pesona lelaki yang terbilang dewasa.


Bila dibandingkan dengan mantan pacar Grey yang terdahulu mungkin tak ada apa-apanya. Tapi Darrel bukan cuma rupa dan fisik, melainkan lelaki itu menjanjikan sesuatu yang lebih untuknya.


Di detik ini Grey mengakui tertarik pada Darrel, iya ia mulai mengagumi dan debaran di jantungnya tak bisa terelak lagi.

__ADS_1


"Aku tak punya."


Riak cemas spontan menguasai hati Grey, mungkin sekali sentak saja ia akan terbuai. Namun hal yang tak diduga justru terjadi sebab Darrel tiba-tiba mengendurkan dekapannya, membuat Grey yang tak siap terhuyung ke belakang.


"Responmu tak terlalu buruk," sahut Darrel membuat Grey tiba-tiba tersinggung.


Grey mencoba tak terpancing untuk tak mengungkapkan kesal yang tiba-tiba muncul, ia merasa seperti sedang diuji. Gairah yang tadinya menyulut seketika juga langsung padam. Ia mencoba menguasai diri setelah napasnya terhela begitu panjang.


"Apa maksudmu?" sahut Grey ketus dan baru tahu arah mana yang dibicarakan ketika melihat Darrel menyapu bibir bekas ciuman tadi dengan jempol tangan.


Kali ini Grey justru meresponnya dengan tawa geli. "Aku sangat piawai dengan hal yang satu itu," ucap Grey yang seolah membanggakan diri padahal yang sebenarnya ia menutupi rasa malu dan kesalnya akibat tadi tak bisa menahan diri.

__ADS_1


"Kalau boleh kusebut aku pernah berganti pacar lebih dari satu dalam seminggu."


Kalimat yang terlontar dari bibir Grey sontak saja membuat Darrel muak, sampai lelaki itu kini membalasnya dengan kata-kata yang terbilang tak mengenakan untuk didengar, "Lalu keuntungan apa yang kamu dapat dari mantan pacarmu?"


"Just have fun. Aku menikmati masa mudaku."


"Ujungnya tetap saja uang kan yang bisa membuatmu bertekuk lutut? Dan lelaki di masa lalumu tak ada yang mampu memenuhi kebutuhanmu, sampai kamu tak ada pilihan untuk bertahan dengan mereka? Lalu kamu bisa tiba disini itu artinya pilihanmu cuma ada satu, jangan pernah ungkit masa lalumu bersama dengan lelaki di luaran sana di saat bersamaku, karena selama masa kontrak pernikahan cuma aku yang bisa menyentuhmu."


"Kenapa banyak sekali aturanmu?" sahut Grey yang jadi terintimidasi akibat kemarahan Darrel yang tanpa diduga.


"Aku yang membayarmu jadi terserah padaku dan ikuti aturanku!" tegas Darrel hingga Grey tak mampu lagi untuk memberi sangkalan. Salahnya ia yang butuh jadi tak ada pilihan lain selain berbesar hati dan mengharuskannya untuk mengalah.

__ADS_1


To be Continued,


__ADS_2