
Grey tercenung usai kepergian Darrel. Apa keputusannya? Jelas ia ingin menyusul lelaki yang mengaku suaminya itu ke alamat yang diberikan. Tapi bagaimana caranya, sungguh pikirannya belum sampai ke arah itu.
Grey memejamkan mata, setitik realita menyadarkannya hanyalah Reyno yang menyimpan semua berkas identitasnya. Lalu untuk kembali menemui Reyno dan meminta apa yang seharusnya jadi miliknya, apa ia akan mendapatkannya dengan mudah?
Menggeleng, rasanya tak semudah itu. Mengingat perlakuan Reyno yang berubah kasar kepadanya nyali Grey seketika ciut.
Resah bercampur pikiran diselimuti kalut, Grey mendadak tersentak menoleh ke arah pintu yang terdengar suara gedoran. Seketika ia terperanjat dari tempatnya duduk di sudut ranjang. Bibirnya mengulas senyum dan mungkinkah Darrel lah yang datang, lelaki itu berubah pikiran untuk kembali mengajaknya pergi bersama?
Tanpa berpikir lebih jauh lagi dirinya kemudian beranjak bahkan tanpa disadari ia berlari menuju arah pintu untuk membukanya. Namun senyum yang dari tadi tersungging manis di bibirnya berangsur luntur, ekspresi di wajahnya turut berubah pasi. Dan kakinya jadi selemas jelly.
"Kenapa kamu kesini?" ucap Grey dengan keterkejutan yang tak bisa ditutup-tutupi diiringi dengan langkah menyeret kakinya untuk mundur.
Tapi mustahil, seseorang yang tak diharapkannya kini justru menarik tangan Grey dengan kasar. "Harusnya aku yang bertanya kenapa kamu bisa ada disini!"
__ADS_1
Suara bentakan itu nyaris membuat Grey ciut, tapi ia memberanikan diri untuk membalas dengan kalimat yang tak kalah bernada tinggi. "Bukan urusanmu Rey!"
"Masih. Selama kamu berada dalam jangkauan mataku, aku yang menentukan hidupmu."
Grey tercengang dengan ucapan Reyno, bahkan tak habis pikir. "Sakit jiwa," desisnya tanpa sadar.
Dan tanpa diduga ucapan itu justru mengakibatkan Reyno tersinggung, hingga lelaki itu tanpa ampun melayangkan tamparan di pipi mulus Grey.
Sontak Grey terpelanting akibat pukulan keras itu, dalam kondisi tersungkur ia memegangi pipinya yang amat begitu sakit, ngilu bercampur pedih bahkan darah sudah mengalir di sudut bibirnya.
Untuk beberapa saat Reyno mengembuskan napasnya kasar, berusaha kuat meredam amarah. Lalu tak lama ia berujar, "Pulang bersamaku dan aku akan memaafkanmu."
Apa tak salah dengar? seru batin Grey yang kini membalas Reyno dengan tatapan penuh kebencian. Perlakuan Reyno sudah tak bisa ditolerir lagi, jelas dalam hati ia meneriaki dengan kata tak sudi.
__ADS_1
"Yang aku butuhkan cuma kembali ke negara asalku. Harusnya aku yang bilang bisa memaafkanmu, asalkan kamu memenuhi syaratku. Lepaskan aku, hanya itu yang aku mau."
Reyno langsung berbalik badan. Berdiri menjulang di hadapan Grey, ia menatap dengan sorot tajam. "Kamu milikku Rena!" tegasnya.
"Jangan sebut nama itu lagi!" sela Grey cepat. "Kamu akui atau tidak, aku adalah istri orang. Dan hubungan kita, kamu sendiri yang memanipulasinya. Dalam ketidakberdayaanku dan tidaktahuanku jelas-jelas kamu menipuku. Kamu membenci Darrel tapi menggunakanku untuk menjauhkannya demi membalas kesakitanmu, apa itu pantas?! Kamu benar-benar jahat Rey."
Reyno justru berdecih. "Tapi perasaan yang kumiliki bukan mengada-ada. Kamu bisa meninggalkannya dan aku akan menerimamu dengan tangan terbuka," ucapnya memberi penawaran berjalan mendekat lalu berjongkok di hadapan Grey.
Grey memalingkan wajah semakin muak dengan ucapan Reyno. Terlebih tangan lelaki itu bergerak hendak menggapai ke arahnya. "Tapi apa yang sudah kalian berdua lakukan tadi hingga selarut ini?"
Grey berusaha menghindar ketika tangan Reyno sudah berhasil menyibak rambutnya yang berantakan.
"Tapi ujung-ujungnya dia tak ada disini kan, meninggalkanmu."
__ADS_1
"Darrel menungguku," sahut Grey tegas. "Dan kalau kamu bertanya apa yang sudah kami lakukan, kami bertemu. Kami juga melakukan apa yang seharusnya dilakukan pasangan suami istri pada umumnya," sambungnya yang berucap tanpa dipikir lebih dulu.
Dan mengakibatkan Reyno langsung mengumpat, kembali dibuat tersulut hingga Grey menyadari harusnya ia tak berucap sedemikian.