Lost Memory

Lost Memory
Duapuluh Sembilan


__ADS_3

Dengan langkah tergesa Grey keluar dari apartemen, ia berjalan begitu jauh tak menyadari jika ada barang pentingnya yang tertinggal, tongkat kruk.


"Pantas saja," Grey berdecak ketika merasai kakinya yang mulai sakit dan berhenti tepat di trotoar jalan. Mengabaikan rasa ngilu kakinya, ia pun mengedarkan pandangan mencari kendaraan umum yang lewat dan harapannya hanya satu di tengah usahanya untuk kabur jangan sampai ia bertemu dengan Reyno.


Ketika dari kejauhan nampak ada mobil taksi yang lewat, Grey sesegera mungkin mendekat ke arah jalan sambil melambaikan tangan.


Beruntung taksi berhenti tepat di depannya dan sempat Grey mengendarkan pandangan memastikan jika tak ada orang yang dikenal mengikutinya, ia lantas bergegas menaiki taksi sambil menyebutkan tempat hotel yang ditinggali Darrel hingga mobil taksi pun melesat membawanya pergi.


Lega sekaligus rasa was-was terus bergelayut di hatinya sampai-sampai kakinya yang terasa sakit dan ngilu diabaikan, harapannya kali ini hanya satu bisa bertemu dengan sosok Darrel.


Hari sudah gelap ketika Grey tiba di hotel. Ia masih sedikit mengingat dimana letak dan nomor kamar hotel, jadi setelah berada di kawasan hotel yang sedikit ramai membuatnya memiliki kesempatan untuk menyelinap masuk.


Dan setibanya di dalam lift, hatinya dipenuhi debar yang luar biasa. Tanpa sadar ia begitu tak sabaran menatap pada nomor pertanda lantai bangunan yang seakan lama mengantarnya untuk sampai di tempat Darrel berada.

__ADS_1


Sebentar lagi, gumam hati Grey bersamaan ketika bunyi pertanda pintu lift terbuka dan dengan langkah segera Grey berjalan keluar.


Satu persatu ia amati nomor-nomor yang tergantung di pintu, ketika sudah tiba di hadapan kamar yang dicari ia justru terdiam sesaat.


Grey menguatkan hatinya dan meyakinkan diri harus bisa tegas mencari kebenaran mengenai dirinya, lalu dengan itu ia bisa mengambil langkah mana yang harus ia ikuti.


Perlahan-lahan Grey membuang napas, di tengah hatinya yang penuh debar tangannya terangkat untuk menekan bel pintu. Namun belum sempat jarinya sampai pintu di depannya terbuka dan orang yang dicari sudah berdiri di depan mata.


Hati Grey mendadak lega, bibirnya tanpa sadar menyunggingkan senyum di depan lelaki yang justru kini menatapnya tanpa ekspresi. Meski tak segarang yang ditemui pagi tadi tapi kali ini malah membuat Grey tersentak saat menyadari jika lelaki di hadapannya hendak pergi.


Ucapan dingin itu mengalihkan tatapan Grey yang tadinya mengarah pada koper di tangan Darrel.


"Aku ingin bicara," ucap Grey dengan permohonan.

__ADS_1


"Katakan waktuku sudah tak banyak," sahut Darrel tanpa sedikit pun mengarahkan sorot matanya pada Grey.


Grey yang tak ingin berbasa-basi langsung menanyakan maksud kedatangannya. "Apa benar kita pernah menikah?"


Kali ini Darrel langsung menjuruskan tatapannya tajam.


"Darrel, kumohon beri aku kejelasan soal statusku."


"Kenapa? Kejelasan apa yang kamu minta! Sudah lewat kesempatan, jadi kamu bebas mencari lelaki lain di luaran sana!" sahut Darrel dengan geram lalu beranjak menyingkirkan Grey yang masih berdiri di hadapannya untuk pergi begitu saja.


Grey panik dan spontan menarik lengan Darrel. "Darrel, kamu sendiri yang mengatakan jika kamu suamiku. Tapi aku masih ragu untuk mengakuinya, karena aku sampai saat ini aku gak ingat apapun. Aku gak ingat dan tiba-tiba kamu datang mengaku sebagai suamiku jadi aku bingung harus kepada siapa aku percaya."


Darrel semakin geram dengan kata-kata yang dilontarkan Grey, iya memang sejauh hubungan diantara mereka hanya berdasar saling menguntungkan tanpa pernah mengakui status sama lain. Bukankah tindakan kemarin yang dilakukan seperti lelucon, bila Grey mengatakan tak ingat karena dulu memang ia tak pernah menyebutkan hubungan mereka sebagai suami istri.

__ADS_1


"Lupakan perkataanku kemarin, dan enyah lah dari kehidupanku," tegas Darrel menepis kasar tangan Grey hingga membuat wanita itu terjungkal.


Grey menatap punggung Darrel yang langsung pergi menarik koper meninggalkannya, lelaki itu bahkan sudah sangat marah dan bahkan tak memperdulikannya. Dalam keputusasaan Grey pun hanya mampu menyerukan permintaan maaf sambil menangisi dirinya.


__ADS_2