Lost Memory

Lost Memory
Enampuluh Lima


__ADS_3

Sesuai yang dikatakan Darrel, lelaki itu menyambangi apartemen dengan rentan waktu yang bisa dikatakan cukup lama. Sebab dari tiga hari pertama bertemu sebelumnya kini tiga minggu berlalu lamanya mereka belum lagi saling bertemu.


Dan hal itu cukup membuat Grey sendiri kesal, merasa pertemuannya dengan Darrel sangat singkat. Harusnya bila tidak dengan berkomunikasi secara langsung bisa teratasi mungkin alternatif lain bisa digunakan, seperti telepon atau media online lain. Tapi yang jadi permasalahan pesan-pesannya tak ada satu pun yang dibalas.


Uang memang sudah didapatkan, tapi kenyataannya Grey masih merasa susah untuk bergerak. Harus ada orang yang diandalkan, dan itu jelas satu-satunya orang adalah Darrel. Sebab lelaki itu punya andil dalam dirinya, memberi kepercayaan besar pada Grey agar tak berhubungan dengan lelaki manapun apalagi tanpa sepengetahuannya. Paling tidak jika memang terpaksa setidaknya ijin yang Grey harapkan.


Grey menggigiti kukunya, melamun kesal. Dan ketika ia mendengar suara dari kode pin pintu apartemen seketika ia terperanjat. Napasnya berangsur menghela lega, akhirnya orang yang ditunggui menampakkan batang hidungnya.


Harusnya Grey marah, namun yang terjadi paras wajahnya justru menunjukkan hal yang sebaliknya. Perlahan sudut bibir Grey tertarik ke atas membentuk senyum simpul. Lalu beranjak berdiri menghampiri Darrel yang baru melepas sepatu untuk menyambut lelaki itu.


"Aku nungguin kamu," ucap Grey merengek manja. Menggapai lengan Darrel dan berjinjit menjangkau pipi Darrel untuk dikecup. "Kamu gak bilang mau pulang, jadi aku gak sempat buat dandan."


Darrel langsung mengamati bagaimana cara berpenampilan Grey. Seperti yang sebelumnya Grey memakai setelan piyama dengan celana panjang, ya ukuran pakaiannya mungkin jauh lebih besar dari tubuh wanita itu, namun kelihatan sangat pas. Belum lagi dengan rambut yang dicepol asal ke atas, banyak anak rambut sedikit berantakan menambah kesan Grey yang justru tampil apa adanya.


"Tapi jangan khawatir, aku sudah mandi dan cuma pake skincare," imbuh Grey memamerkan wajahnya dengan senyum berseri-seri.

__ADS_1


"Aku menghargai sambutanmu," sahut Darrel yang dari tadi memandangi wajah Grey.


"Tentu kamu harus menghargai aku, gimana-gimana aku ini istrimu."


Alis Darrel terangkat, itu membuat Grey berfikir bahwa tak salah kan dengan ucapannya.


"Ya meski pernikahan tertulis, tapi tetap sah kan di mata negara. Buktinya ada buku nikah, walau tak cukup lengkap karena gak ada simbol dari pernikahan pada umumnya," ucap Grey mendadak berekspresi kecewa.


"Apa?" sahut Darrel menanyakan maksudnya.


"Tidak. Aku tak sempat memikirkannya dan tak berniat membelinya," sahut Darrel beranjak melangkah lebih dulu untuk duduk di bangku sofa.


"Kenapa?" Grey berprotes menghampiri Darrel yang menyandarkan punggung di sofa.


Grey lekas duduk di samping Darrel. Melihat lelaki itu nampak sedang melepas lelah, Grey mencoba berbesar hati tak mempermasalahkan. Lalu diletakkannya telapak tangan Grey di dada Darrel yang masih bersetelan jas lengkap.

__ADS_1


Darrel melirik atas perlakuan Grey terhadapnya yang sekarang malah meletakkan dan menempelkan kepala tepat di dadanya tanpa berkata-kata apa-apa.


Darrel dibuat bertanya, tadi wanitanya ini berprotes namun justru beralih bermanja-manja. "Kenapa? Ada yang terjadi?"


Dalam pelukannya Grey menggeleng. "Gak kok, aku cuma menghimburmu karena kamu pasti lelah setelah banyak kesibukan. Dan aku yang jadi istrimu disini gak bisa berbuat apa-apa."


Ada jeda dari ucapan Grey, dan kali ini justru ada kata panggilan yang terlontar. "Darrel..."


"Hmmm..." Darrel menyahut dengan bergumam, satu tangannya tanpa sadar dari tadi mengelus pelan puncak kepala Grey.


"Kalau pulang jangan dalam keadaan perut lapar ya. Harus isi perut kamu dulu sebelum kamu sampai sini. Karena, jujur aja aku tuh gak bisa masakin makanan yang enak-enak buat kamu," ucap Grey merajuk dengan mimik muka sedih.


Darrel seketika menghentikan elusan di kepala Grey, tangannya beralih menjangkau dan mendongakkan dagu Grey sambil mengamati wajah wanitanya itu dalam-dalam. "Aku bisa saja bertoleransi dengan apa yang menjadi permintaanmu, tapi tiba disini aku lebih penasaran untuk tahu seberapa jauh usahamu agar aku mau menurutimu."


Bola mata Grey bergerak-gerak, menunjukkan jika ia bingung harus berbuat apa dan lebih berfikir keras lagi, tapi satu-satunya memang harus mendobrak batasan, menumbuk harga dirinya sampai di dasar paling bawah. Dan yang dilakukannya harus lebih liar lagi kan?

__ADS_1


Saat Grey memutuskan untuk melakukannya sorot matanya bergerak turun dan yang diamati adalah jemari Darrel yang masih bersarang di dagunya. Grey lantas menariknya, tak ada keinginan untuk menggenggamnya lebih lama setelah mengecupinya karena setelahnya satu jemari itu justru dimasukkan ke dalam mulutnya dengan lidah yang bergerak terus memainkannya. Sambil dengan mengarahkan sorot mata sayu, Grey terus menatap Darrel yang kini telah berhasil dibuatnya terpancing dalam gejolak gairah yang luar biasa.


__ADS_2