Lost Memory

Lost Memory
Duapuluh Tujuh


__ADS_3

"Jaga ucapanmu dan ingat kamu menyebut Darrel itu saudaramu!" teriak Grey yang tak terima sedangkan Reyno yang mengelus bekas tamparan kini membalas dengan tatapan tajam.


Ada perasaan gentar di hati Grey oleh sikap Reyno yang dianggapnya tak biasa. Dan belum sempat Grey memundurkan langkah, Reyno tiba-tiba bangkit dan mencengkeram kasar wajahnya disertai dengan sorot mata bengis lelaki itu menyebutkan ucapan tak terima, "Kamu lebih membela Darrel yang bisa saja dengan mudah mencampakkanmu setelah mendapatkan apa yang diinginkannya? Iya, itu yang kamu mau!"


Takut dan sakit menjadi satu. Untuk menyahut ucapan Reyno pun Grey tak sanggup sebab tulang rahangnya kebas akibat ulah Reyno. Hanya air matanya yang mewakili perasaannya.


"Tinggalkan Darrel, dia tidak pantas meski wanita yang mendampinginya adalah kamu!" tegas Reyno dan mencampakkan cengkramannya begitu saja hingga membuat Grey jatuh tersungkur.


"Lisa, awasi dia jangan sampai keluar dari tempat ini," ucap Reyno dingin memberi perintah sebelum melangkah pergi.


Laju air mata Grey kian deras. Ia menatap tak percaya dengan tindakan yang baru saja didapat. Itu kah sifat asli Reyno? Padahal jelas satu tahun terakhir lelaki itu memperlakukannya lembut tapi sekarang berbanding terbalik ketika ada orang lain di masa lalunya yang muncul.

__ADS_1


Siapa yang benar, siapa yang salah? Grey benar-benar belum paham mana seharusnya yang ia ikuti sebelum ingatannya kembali pulih.


Sesaat dalam mata yang memejam air matanya ikut mengalir deras, dadanya sesak marasai ketidaktahuan yang terjadi dalam dirinya. Kenapa lalu mengapa dan kemana yang harusnya ia ikuti?


Grey terisak dan perlahan matanya terbuka untuk segera beranjak dari lantai yang dingin. Di tempatnya sekarang hanya ada dirinya dan Lisa, satu-satunya orang yang Reyno percayai untuk membersamainya selama setahun terakhir ini.


"Lisa..."


"Lisa, kamu pasti tahu permasalahannya. Reyno dan kamu yang membawaku kemari. Sebutkan saja apa salahku yang tak pernah kuingat. Kalau memang aku wanita yang bersuami lalu alasan Reyno kenapa dia sampai membawaku kesini."


"Salahmu yang mengenal Reyno."

__ADS_1


"Apa? Apa maksudmu Lisa?" Grey tercengang lekas menghampiri Lisa yang beranjak meninggalkan meja makan. "Kumohon cerita kan padaku, siapa aku sebenarnya, Reyno dan Darrel."


"Sudah kubilang aku tidak ikut campur dengan urusanmu!" ucap Lisa yang tiba-tiba membentak sambil menepis kasar tangan Grey yang berusaha mendesaknya.


"Disini tugasku cuma melayani keperluanmu, tidak lebih! Jadi lekas selesai kan urusan makanmu dan jangan bertanya macam-macam kepadaku," tegas Lisa lalu beranjak membereskan piring bekas makanannya dan yang sempat dipakai Reyno.


Grey hanya terdiam di tempat, matanya menatap lurus Lisa yang memunggunginya yang berada di wastafel tengah sibuk mencuci alat bekas makan.


Jika Lisa bungkam sudah jelas karena wanita itu adalah orang kepercayaan Reyno, tapi dalam hati Grey juga tak bisa tinggal diam. Salah dan benarnya ia harus mencari tahunya sendiri, hingga dengan yakin kini Grey bertekad bisa atau tidak ia harus pergi dari tempat yang sekarang ini.


Ia yang tanpa memperdulikan perintah makan dari Lisa pun pergi begitu saja menuju kamar. Grey bersiap mengambil barang-barangnya dan sebelum ia benar-benar selesai dengan kegiatannya yang berkemas justru dibuat terkejut ketika menyadari bahwa pintu kamarnya sudah dikunci dari luar.

__ADS_1


"Lisa apa yang kamu lakukan? Buka pintunya!" teriak Grey beranjak menuju pintu dan menggedornya dengan keras akibat ulah Lisa yang menguncinya.


__ADS_2