Lost Memory

Lost Memory
Tujuhpuluh Dua


__ADS_3

Grey bangun dengan membawa seluruh mimpi buruknya. Dalam bayangan mimpinya tak ada yang indah selepas kedua orangtuanya pergi meninggalkannya.


Sudah terhitung tiga hari lamanya Grey terbaring di ranjang dengan selang infus. Badannya lemah usai kejadian tempo hari lalu bahkan Grey enggan untuk mengeluarkan sepatah kata usai bangun dan memilih kembali memejamkan mata. Dan jelas hal itu membuat khawatir orang-orang yang menungguinya.


Kini ketika tahu Grey telah membuka mata justru Ibu dari Danar lah yang paling peduli terhadapnya.


"Sudah bangun Nak, apa yang kamu rasakan? Kalau ada yang sakit bilang sama Ibu. Atau Ibu panggilkan dokter ya?"


Grey memandangi wajah Ibu dari Danar lalu menggeleng sembari air mata mengalir dari sudut matanya. "Maafin Grey sudah ngrepotin Ibu," gumam Grey teramat pelan.


"Sudah gak usah terlalu dipikirkan yang penting kamunya sehat," ujar Ibunya Danar iba.


Di saat itu pula Grey justru tak bisa menahan untuk tak menangis. Dengan masih berbaring di ranjang ia menangis tersedu-sedu. Ada banyak kilasan masa lalunya yang muncul dan tak ada yang satu pun menurutnya baik.


Ibu dari Danar pun juga berusaha menenangkan Grey. Wanita paruh baya itu memeluk badan Grey erat, tanpa dijelaskan pun ada sesuatu yang berat yang tengah ditanggung oleh Grey. Dari sikap Grey dan tempo hari wanita paruh baya itu menemukan bekas sayatan di pergelangan tangan Grey, semua sudah menjadi tanda-tanda jika wanita yang tengah dipeluknya ini sedang tak baik-baik saja.


"Kamu kuat. Demi amanah yang dititipkan kepadamu, kamu harus bertahan. Ibu yakin Tuhan tak akan membebani umat-Nya di luar batas kemampuannya," ujar Ibu dari Danar menyemangati.


Danar yang sedari tadi berdiri di depan pintu menyaksikan kejadian tadi kini berbalik badan pergi. Bukan perkara kecil yang ia bawa pulang tapi mungkin juga Tuhan sudah mengatur dirinya sebagai perantara untuk berlangsungnya hidup seseorang.

__ADS_1


***


Sekian hari berlalu Danar sudah tak lagi mengungkit permasalahan Grey yang tinggal di rumahnya. Bahkan nampak ibunya sendiri begitu perhatian pada Grey saat kandungan wanita itu sudah menginjak hampir di usia tujuh bulan.


Ibunya bahkan pernah berdebat dengannya hendak mengadakan acara adat tujuh bulanan padahal itu akan jelas sekali mengundang perhatian para tetangga dan sudah pasti akan menambah kerepotan dan kecurigaan dari orang-orang. Pun dengan tegas Danar menolak meski ia sendiri pada ujungnya yang jadi korban didiamkan beberapa hari oleh ibu kandungnya.


Danar bersikap cuek toh juga meski marah ibunya tetap menyiapkan segala keperluannya. Kini Danar tengah bersantai, baru saja mobil pick-up berserta tenaga supir kepercayaannya meninggalkan pekarangan rumah.


Iya, semenjak kejadian kecelakaan itu Danar menambah satu lagi armada pick-up. Kebetulan karena banyak yang mempercayakan jasa ekspedisinya, Danar juga merekrut tenaga baru untuk bekerja di tempatnya.


Danar tengah menghitung dan mencermati catatan dari jasa angkutan tarifnya. Ia menghitung jarak, bahan bakar mobil, biaya masuk tol hingga upah tenaga yang dikeluarkan. Sebab ia mempunyai keinginan mengembangkan usahanya untuk bisa melayani pengiriman barang yang bukan hanya antar daerah tapi juga antar pulau.


"Mikirin apa sih Bu?" mulut Danar menyahut tapi matanya masih fokus menekuri catatan di hadapannya.


"Ya mikirin acara tujuh bulanan. Paling gak harus ada acara slamatan buat nolak bala."


Danar terkekeh. "Udah gak jamannya Bu, kalau mau selamat ya mesti banyak berdoa."


"Doa memang perlu. Tapi yang namanya tradisi tetap harus lestari, lagian lho rejekimu makin rame bisa jadi itu karena datangnya tamu di rumah ini."

__ADS_1


Danar makin menanggapi ucapan ibunya dengan tawa, makin gak dituruti ibu negara akan terus mencercanya. Namun Danar juga masih berfikir logis, ia tidak mau berbuat gegabah apalagi menuruti kemauan ibunya yang terbilang kelewatan lalu berujung pada hal yang tidak diinginkan.


Grey bukan anggota keluarganya, itu yang ada di benaknya tapi cuma tertahan di lidah tak sampai diucapkan sebab Grey datang di tengah-tengah mereka.


Danar melirik ke arah Grey yang berpenampilan berbeda karena wanita itu tengah mengenakan sweater dan tas yang diselempangkan di pundak. "Mau kemana?" tanya Danar spontan.


"Ibu mau ajak Nak Grey ke pasar, bajunya sudah kekecilan gak ada yang muat," sahut ibu dari Danar dengan wajah yang kembali kecut sebab permintaannya tak dipenuhi.


"Oh," sahut Danar mengangguk singkat.


Ibunya Danar kali ini berdecak. "Kok gak ada inisiatif sih nganterin ibu," ucapnya yang menyindir.


"Pake apa Bu? Mobil kan udah jalan, satunya masuk bengkel servis bulanan. Gak mungkin kan boncengan bertiga."


Ibunya Danar pun terkikik. "Gak kepikiran, ya sudah ibu naik becak saja," ujarnya yang kemudian menggandeng tangan Grey pergi.


Sedangkan Danar cuma geleng kepala menyaksikan ibunya begitu bahagia seperti menganggap Grey anak sendiri.


Kira-kira Dimana akan ada pertemuan Grey dan Darrel nanti, tunggu episodenya nanti yaaaa

__ADS_1


__ADS_2