Lost Memory

Lost Memory
Enampuluh Enam


__ADS_3

"Mata kuliah apa yang akan kamu ambil?"


"Manajemen bisnis."


Darrel melirik sepintas ke arah Grey dan dibalasi dengan Grey yang makin mengeratkan pelukannya di perut Darrel.


"Cita-citaku ingin menjadi wanita kantoran. Pakai setelan rok, kemeja dan jas yang pas di badan. Rambutku dicepol rapi ke atas juga pakai sepatu hak tinggi."


Mata Darrel menyipit. "Kamu ingin membuka perusahaan sendiri? Dibidang apa?"


"Bukan," sahut Grey cepat. "Itu terlalu jauh, yang kucita-citakan sebenarnya sederhana. Jadi karyawan kantoran, itu saja."


"Kenapa tidak ingin membuka usaha sendiri?"


"Aku gak tertarik. Kurasa enak jadi karyawan, berangkat pagi pulang sore, ketika tiba waktunya pulang sudah tak ada tanggungan yang perlu dipikirkan. Tinggal terima gaji bulanan."


"Simpel sekali pikiranmu," ujar Darrel menanggapi juga tersenyum tak habis pikir.

__ADS_1


Wajah Grey justru berubah muram dan tak lama ia bergumam, "Banyak resiko dari membangun usaha, selain skill yang diperlukan juga harus ada keberanian untuk menghadapi segala resikonya. Kemungkinan cuma ada dua kan, untung dan rugi. Maju atau terpuruk karena bisa saja menderita kerugian berujung bangkrut."


"Modal uang juga diperlukan."


Grey menarik kedua sudut bibirnya, tersenyum memaksa. "Itu benar, uang raja dari segalanya. Memang uang tak dibawa mati, tapi hidup tanpa uang rasanya mau mati," sahut Grey yang tertawa, tepatnya menertawakan diri sendiri.


Darrel lekas merangkul Grey, tapi kini Grey memalingkan muka menyembunyikan wajahnya sejenak untuk mengusap air mata. Lalu demi menyembunyikan perasaan sedih dan kecewanya pada kehidupan, ia berdehem sambil menepuk-nepuk pelan lengan Darrel yang merangkulnya. Ia jadi teringat dengan sesuatu lalu tanpa pikir lebih lama ia pun menagih ucapan Darrel tempo lalu. "Mobil yang di bawah aku sudah lihat. Bagus dan aku suka, tapi aku gak bisa mengendarainya."


"Kamu gak bisa bawa mobil?" tanya Darrel heran.


"Aku gak ada waktu."


Jelas Grey seketika berprotes, matanya melirik kesal pada Darrel dan memasang wajah yang benar-benar cemberut. "Sama aja gak niat belikan aku mobil!"


Darrel pun dibuat terkekeh dengan sikap Grey. "Biar Andreas kirim orang buat ajarin kamu mengendarai mobil sekaligus cari SIM."


"Siapa Andreas?" sahut Grey ingin tahu.

__ADS_1


"Orang kepercayaanku."


"Oh." Grey menyahut singkat dan berselang senyumnya melebar. Wanita itu kini mendongak sekaligus memutar kepala dan mengulurkan tangan menjangkau tengkuk Darrel dan memberikan satu ciuman lembut sebagai ungkapan terimakasihnya.


"Darrel, terimakasih atas kebaikanmu," bisik Grey menjeda ciumannya untuk kemudian bibirnya mendecap lagi tanpa rasa enggan.


Flash back off


Darrel mengusap tengkuknya, dengan membuang napas berat kenangan tentang Grey jelas tak mudah terlupakan begitu saja. Sebab Grey adalah wanita pertamanya dan satu-satunya yang pernah dekat dengannya usai trauma berkepanjangan dari sakit hati yang ditinggalkan oleh kedua orangtuanya.


Keberanian Darrel mendobrak perasaan traumanya adalah karena ia perlu cara guna membalas kesakitan hatinya lewat memenuhi persyaratan tak masuk akal Ayahnya demi menuntut hak yang ditinggalkan oleh Ibunya. Tapi, justru Ayahnya cuma mempermainkannya sebab hingga kini Ayahnya terus mengulur dan menahan aset milik Ibu kandungnya.


Terakhir kebersamaannya dengan Grey masih teringat jelas, Grey meminta dengan memohon agar masuk dalam kehidupannya yang artinya wanita itu ingin agar Darrel menjadikan sepenuhnya sebagai seorang istri sah. Tapi kini Darrel menyesalkan jawabannya yang justru mengungkit jika Grey cuma wanita bayarannya.


Darrel meremas dan menjambak rambutnya kesal. Harusnya dua tahun yang diperkirakan adalah waktu yang aman, dulu ia sempat berpikir dan menganggap remeh hubungannya dengan Grey. Dalam perjanjian yang dibuat ia meyakini jika akan melewatinya dengan mudah, bersenang-senang lalu menyingkirkan begitu saja jika ia sudah bosan.


Tapi pada kenyataan Darrel lah yang terjebak, semakin lama ia membersamai Grey yang ada hanyalah candu. Kini sudah tak lagi ditemukannya wanita yang sanggup memahaminya, menghiburnya juga ponselnya sudah lama sunyi. Kini tak ada lagi yang mengiriminya pesan disana meski dulu selalu ia abaikan, pesan yang masuk tak ada satu pun yang pernah ia balas.

__ADS_1


__ADS_2