Lost Memory

Lost Memory
Tujuhpuluh Enam


__ADS_3

"Mustahil dia khawatir."


"Paling tidak pikirkan status kalian. Kamu sudah lama tinggal disini dan sama sekali tak memberi kabar. Ingat suamimu juga bagian dari keluargamu. Terlepas dia khawatir, perduli atau tidak dengan keadaanmu yang terpenting kamu harus memperjelas statusmu. Bersyukur bila seandainya suamimu bisa menerimamu, tapi kalau tidak... kupastikan hidupmu akan lebih tenang bila kamu bisa menyelesaikan masalah yang membelitmu."


Grey merenungi ucapan Danar semalam. Ia sadar hidupnya sama sekali tak tenang. Kenapa masalah terus saja menghimpitnya yang bermula dan menjadi akar dari permasalahan pembayaran hutang. Dan ya, hutang itu sudah jelas jadi tak berujung sebab ia justru menghilang sesaat setelah kecelakaan yang terjadi dua tahun silam.


"Nak Grey..." Grey tersentak ketika mendengar namanya disebut dan ketika ia menoleh Ibu dari Danar sudah berdiri di sampingnya.


"Kenapa melamun?" tegur wanita paruh baya itu dan dibalasi Grey dengan gelengan kepala. "Masih mikirin ucapan Danar semalam ya?"

__ADS_1


Grey tak dapat menyembunyikan raut wajahnya yang terkejut dan juga tak langsung menanggapi.


"Ibu setuju dengan yang dikatakan Danar semalam. Selesaikan masalahmu biar hidupmu tenang. Hadapi, keputusan apapun nanti bila suamimu tak bisa menerimamu dan anakmu, toh kamu juga bisa melanjutkan hidup berserta anakmu dengan baik dan damai. Ibu jamin, selama kamu berusaha Tuhan akan terus membukakan jalan."


Grey sangat sadar masalahnya tak simpel bahkan sangat rumit untuk diurai, tapi dari dukungan tadi ia membenarkan jika seandainya ia terus bersembunyi masalahnya yang lalu takkan kunjung usai.


"Jika kamu butuhkan, Ibu bersedia mengasuh anakmu kelak, sementara kamu selesaikan urusanmu. Bicara baik-baik dengan suamimu. Keputusan apapun, mulai dari sekarang persiapkan hati kamu untuk ikhlas menerima segala konsekuensi baik maupun buruknya."


Grey mengangguk dengan senyum yang ia tujukan begitu berat, ia sangat berterimakasih karena telah diterima dengan baik bahkan orang yang bukan sama sekali dari keluarganya. "Terimakasih karena Ibu dan Danar sudah begitu baik, bahkan Grey sendiri gak akan mampu bisa membalasnya."

__ADS_1


"Sudah jangan dipikirkan," sahut Ibu dari Danar yang mengusap pundak Grey. Wanita paruh baya itu berusaha menguatkan dengan kemudian merangkul badan kurus Grey yang nampak memprihatinkan karena kondisinya yang tengah mengandung dan dalam hitungan minggu sudah akan melahirkan. "Jangan pikirkan yang berat-berat. Yang terpenting sekarang kamu dan anakmu sehat-sehat. Taati anjuran dokter untuk beristirahat yang cukup, jangan terlalu larut tidurnya."


Grey mengganguk dan terharu diperlakukan begitu baik seperti sekarang.


"Ibu tahu kamu berusaha bekerja keras akhir-akhir ini. Tapi kamu juga harus tahu waktu, jangan diporsir hanya karena kamu butuh uang demi biaya persalinan nanti. Karena selain uang, kondisi badan dan bayi dalam kandunganmu juga harus ekstra dijaga dengan hati-hati."


Grey menggigiti bibirnya, merasa jadi bersalah karena mengabaikan kondisi badan dan janin di perutnya.


"Ini Ibu sudah buatkan susu untuk asupan nutrisi kandunganmu, pagi ini belum sempat minum kan?"

__ADS_1


Grey dengan sungkan mengangguk mengiyakan juga kini tangannya menerima sodoran segelas susu khusus ibu hamil yang rutin beberapa bulan terakhir ini dikonsumsinya. Dan dengan tenang ia kemudian meneguknya, sambil dengan bersamaan ia melirik ke arah meja ketika mendengar ada sebuah pesan singkat yang masuk dari ponselnya.


__ADS_2