
Sayup-sayup hanya terdengar deruan napas yang mengisi keheningan malam. Setelah diterjang gelombang gairah dan menuntaskan percintaan, mereka hanya saling berdiam dengan tubuh yang terbungkus satu selimut.
Gila kah? Pada situasi yang terjadi Grey seperti sudah hilang akal sehat. Keraguannya bahkan belum sepenuhnya terjawab dan kenapa dengan begitu mudah ia justru melemparkan diri?
Pandangan mata Grey yang menatap langit-langit gelap ruangan berubah gamang. Hatinya dipenuhi perasaan resah, tanpa disadarinya matanya kini menggenang dengan air mata yang siap kapan saja meluncur turun.
Merasai ranjang di sampingnya bergoyang serta merta Grey terkesiap, ia menoleh dan didapatinya sekarang Darrel sedikit beranjak mengambil duduk hingga bersandar pada punggung ranjang. Otomatis selimut yang dari tadi dipakainya melorot sampai sebatas pinggang.
Tak berselang lampu di dalam kamar menyala benderang, Grey cepat-cepat memalingkan wajah dan juga semakin mengeratkan genggaman selimutnya.
"Aku sudah pikirkan, memberimu hanya satu kali kesempatan," ucap Darrel yang seperti terdengar sebagai syarat yang mutlak.
Grey melirik dan bola matanya tepat bersiborok dengan Darrel yang tengah mengamatinya.
__ADS_1
"Aku kembali ke Indonesia. Apa pun keputusanmu setelah kejadian ini jika pun kamu tak menyusulku, aku tak akan pernah lagi mencarimu," tegas Darrel dengan tatapan lurus, lalu beringsut menuruni ranjang menanggalkan selimut beranjak menuju kamar mandi.
Grey sungguh tak baik-baik saja saat ini. Gemericik air yang lamat terdengar dari dalam kamar mandi menghadirkan riak kegelisahan dalam hatinya. Darrel akan segera pergi dan tak jelas apa ia juga akan diajak pergi.
Sedikit lama ia bergelut dalam kegelisahan Grey akhirnya menuruni ranjang untuk memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai, tak peduli dengan tenaganya yang belum pulih ia lalu buru-buru memakai pakaiannya sebelum Darrel selesai dengan kegiatannya yang mandi.
Tak berselang pintu kamar mandi terkuak, Darrel kembali dengan tubuh yang terbalut handuk kimono dan tanpa canggung setelah membongkar kembali koper yang telah terkunci rapat ia berganti baju tanpa canggung di hadapan Grey.
Pikirannya kali ini sangat membuatnya tak fokus sebab ia malah teringat dengan percintaan yang panas tadi, aliran darahnya dengan cepat berubah naik mengakibatkan kedua pipi dan bagian telinga hingga tengkuk seperti tergelitiki oleh getaran kuat hasrat yang mulai mencabik-cabik.
Dan tanpa disadari dengan keadaannya yang sibuk mengontrol diri, Darrel telah berdiri tepat di hadapannya membuat Grey berusaha keras menapaki pijakan di kakinya.
"Kamu nampak kacau," ucap Darrel dengan penilaiannya. Mengamati yang memang Grey nampak begitu berantakan karena ulahnya.
__ADS_1
Tangan besar Darrel berangsur menyentuh pipi Grey, membimbingnya agar mau membalas tatapannya dan malah membuatnya tak bisa menahan untuk tak tersenyum sebab didapatinya Grey justru berubah gugup.
"Kamu seperti bukan Grey yang biasanya," bisik Darrel sebelum mengecup bibir Grey dengan lembut, menikmatinya beberapa saat untuk kemudian menarik diri menjedanya sebelum benar-benar terhanyut dalam suasana.
Darrel berdehem lalu berujar, "Aku tak bisa berlama-lama disini."
Grey yang masih belum bisa bernapas normal karena perlakuan Darrel pun tersentak. "Kalau kamu pergi bagaimana dengan aku?" sahutnya cepat.
Sudut di bibir Darrel berkedut. "Mudah, sesuai yang kukatakan kesempatanmu hanya sekali."
Pikiran Grey yang mulai rasional kemudian memahami, untuk berpindah dari satu negara ke negara lain membutuhkan prosedur. "Aku akan mengurus kepulanganku. Lalu dimana aku nanti bisa menemuimu?"
Darrel merasa menang, bibirnya berseringai sebelum menyebutkan tempat tinggalnya.
__ADS_1