
"Apa sebelumnya kamu tinggal disini?" tanya Grey usai Darrel menyusulnya keluar dari kamar.
"Tidak terlalu sering," sahut Darrel yang berada di dapur mini apartementnya meneguk air mineral yang baru saja dikeluarkan dari dalam kulkas. "Hanya kalau aku ingin."
"Tempatnya sangat nyaman, tapi tetap membuatku bosan," keluh Grey dengan wajah masam.
Sontak Darrel berdecak. "Banyak sekali permintaanmu, sementara aturanku belum semua kamu laksanakan."
Grey meringis. "Sebutkan apa saja?"
"Kamu meminta pulang sedangkan kewajibanmu tetap tinggal di tempatku. Gimana kamu bisa melakukan tugasmu?"
"Iya aku paham. Tapi jangan kurung aku disini."
"Aku sama sekali gak mengurungmu. Kamu bebas kemanapun asal kamu paham dengan konsekuensinya. Kamu juga boleh melanjutkan kuliahmu untuk mengusir rasa jenuhmu."
"Boleh aku kuliah lagi?"
__ADS_1
"Silah kan kalau itu yang kamu mau. Tapi jangan lupakan tugasmu."
"Pasti," sahut Grey sangat berbahagia dengan tersenyum lebar.
Darrel yang selesai dengan urusannya di dapur kemudian duduk bergabung dengan Grey, ya meski masih ada jarak di antara mereka, kali ini Grey justru sedikit merapat ke arah Darrel dengan tujuan tertentu.
"Tapi karena kamu yang usulin aku buat lanjut kuliah lagi, aku kirim tagihannya ke kamu ya. Please, kamu saja yang bayarin," ucap Grey merayu Darrel dengan tatapan memohon.
"Pokoknya selama kuliah aku jamin gak akan ngecewain kamu. Begini-begini aku masuk dalam daftar mahasiswi teladan di kampusku dulu," ucap Grey membanggakan diri.
"Sangat yakin. Aku akan berusaha buat lulus tepat waktu."
"Bukan itu."
"Bukan... Bukan apa yang kamu maksud?" sahut Grey bingung.
"Seberapa besar usahamu menjadikan bayaran yang kamu minta sepadan dengan apa yang bisa kamu berikan untukku?"
__ADS_1
Wajah Grey mendadak pias, yeah... tak ada yang gratis disini. Apa yang diterima sudah jelas ada timbal baliknya. Apalagi sekarang ia jelas-jelas sadar tengah meminta.
"Gak ada yang aku punya selain janjiku buat gak ngecewain kamu. Cuma itu." Grey rasanya ingin tertawa dan menangis saat mengucapkannya. Lucu, konyol dan sangat menyedihkan.
Grey tahu arah dimana ia harus berjuang. Ada timbal balik atas apa yang sudah diterimanya. Dan kini ia hanya bisa memaksa menanggalkan rasa kepercayaan dirinya demi menyerahkan apa yang harusnya sangat ia jaga kepada seseorang yang telah memberinya pengharapan untuk bertahan hidup di kerasnya dunia yang menghimpitnya.
"Aku mungkin gak berbakat seperti wanita-wanita yang kamu temui di luaran sana, tapi biarkan aku belajar dulu ya. Buat bisa nyenengin dan gak ngecewain kamu. Darrel jangan tolak usahaku," ucap Grey yang dengan tangan sedikit gemetar terulur meraih dan melingkar di tengkuk Darrel.
Grey memulainya dengan hati yang tak karuan, mengecup bibir Darrel. Mencecapnya meski lelaki itu tak bergerak sama sekali dari perlakuannya, ditiap usahanya untuk mencumbu hati Grey rasanya seperti goyah. Ia sudah mengusahakan seliar mungkin. Sampai satu kakinya yang tadi dinaikkan ke kursi kini berganti dengan satu kakinya yang lain telah beralih menindih naik di pangkuan Darrel.
Tapi cukup lama Grey berbuat demikian, usahanya seperti hanya lelucon saja sebab Darrel cuma diam seperti patung sedangkan Grey hati dan harga dirinya seperti porak-poranda. Grey sampai menitikkan air mata ditengah kecupannya di bibir Darrel yang sama sekali masih tak tergerak.
"Darrel, please aku harus gimana?" gumam Grey putus asa usai menghentikan ciumannya, menarik diri sejenak dan menatap pada bola mata Darrel yang juga menatapnya. Di saat itu air mata Grey lagi-lagi meluncur turun, ia benar-benar malu. Keputusasaannya membuatnya ingin sekali seketika beranjak dan berlari pergi begitu saja.
Namun saat Grey hendak berdiri dari pangkuan Darrel, justru Darrel tak membiarkannya. Ia tersentak kembali di pangkuan Darrel dan dengan tak terduga tangan Darrel menarik kuat tengkuknya ******* dengan keras bibirnya dan sama sekali tak mengijinkan Grey untuk hanya sekedar bernapas.
To be Continued
__ADS_1