
"Siapkan tiket kepulangan ke Indonesia. Tarik kembali dana investasi dan batalkan semua perjanjian kontrak." Darrel menutup sambungan telepon, tak menanggapi protes dari Andreas.
Bertubi-tubi panggilan masuk dari Andreas tak diangkat, begitu pun dengan pesan beruntun yang masuk di ponsel ia abaikan. Kesal karena berisik kini ia sengaja mematikan ponsel dan mencampakkannya begitu saja ponsel itu ke sembarang tempat.
Saat ini kepalanya nyaris meledak akibat satu nama, Grey.
Darrel yang masih berada di kawasan apartemen tempat Grey tinggal sudah cukup lama duduk diam di dalam mobil.
Rasa geram, kesal dan marah bergumul jadi satu. Harusnya ia masih punya hak untuk menyeret Grey keluar dari tempat persembunyian lama yang entah dengan alasan apa berani-beraninya pergi meninggalkannya. Terlebih kecewanya sudah amat begitu besar ketika menemukan wanita itu yang justru memilih pergi bersama Reyno.
Harusnya di detik lalu ia mencekik Grey hingga mati sekalian. Persetan dengan alasan tak ada pilihan yang diungkapkan oleh Grey. Semua wanita murahan, itulah anggapan Darrel. Termasuk Grey yang dulu menerima tawarannya juga karena uang 'kan, hingga semua anggapan yang bercokol dalam benaknya itu kini mematahkan keinginan untuk kembali memiliki Grey.
"Brengsek!" umpat Darrel memukul keras kemudi mobil bahkan ia ingin melampiaskan emosinya termasuk meremukkan segala apa saja yang ada di sekitarnya.
Di satu sisi Grey masih terisak-isak dengan kedua tangan yang menelungkup menyembunyikan wajah. Ia amat takut dengan tindakan Darrel yang dirasa telah melecehkannya, meski sekali pun lelaki itu menyebutnya sebagai istri tapi ada rasa tak terima dalam diri Grey sebab ia tak ingat dengan apa pun.
__ADS_1
Lama, saat isakan sudah mereda terdengar kode pin di pintu apartemennya hendak dibuka. Grey yang sadar akan hal itu mengangkat kepala dan menoleh. Keadaannya saat ini sangat kacau. Bergegas Grey bangkit dari tempatnya yang lama berjongkok untuk segera berlari ke kamar mengunci pintu.
Sesampainya di kamar Grey mengusap-usap wajahnya yang tampilannya masih kacau, terlebih ketika ia tak sengaja menatap pada cermin di depannya ia sangat terkejut dengan bercak bekas tanda kemerahan di badannya yang di tinggalkan oleh Darrel.
Sudut mata Grey menyengat panas dengan kasar ia menyekat air mata yang mengalir di pipinya bersamaan dengan suara panggilan yang menyebut namanya.
"Grey... kamu ada di dalam?"
Tersentak sebab itu suara Reyno dengan gangang pintu yang berusaha di buka dari luar.
"Keluar lah, aku bawa makan siang untukmu."
Grey yang menyadari tenggorokannya serak segera berdehem sebelum menyahut perintah dari Reyno.
"Iya, aku menyusul," sahut Grey yang membuka pintu namun terkejut sebab Reyno masih berdiri di ambang pintu.
__ADS_1
"Kenapa dikunci segala?"
Grey menggeleng sambil membuang muka menghindari tatapan Reyno. "Aku hanya baru selesai mandi."
"Iya rambutmu basah," ucap Reyno mengulurkan tangan hendak menyentuh rambut Grey yang terurai berantakan setengah basah, namun kepala Grey kini refleks bergerak menghindar.
"Akan kukeringkan lebih dulu. Kamu makan saja dulu di meja makan," ucap Grey mundur hendak kembali masuk.
"Oh, jadi handuk yang tergeletak di dekat pintu masuk itu milikmu?"
Hati Grey mendadak was-was, ia lupa tadi tak mengambilnya.
"Lisa sudah membereskannya. Aku tunggu di meja makan ya. Karena setelah ini ada yang mau aku sampaikan."
"Aku juga ingin menyampaikan sesuatu."
__ADS_1
"Iya," sahut Reyno justru tersenyum dengan sorot mata berbinar yang membuat hati Grey diliputi perasaan tak enak.