Lost Memory

Lost Memory
Delapanpuluh Dua


__ADS_3

Sebulan lamanya Grey dan bayinya tinggal di rumah sakit, mereka mendapat perawatan yang cukup baik sehingga kondisi Grey sendiri berangsur pulih.


Meski selama tinggal di rumah sakit Darrel tak datang menengok tapi yang diyakini Grey, ia tetap mendapat pengawasan dari lelaki itu.


"Ibu Grey sore ini anda sudah bisa keluar dari rumah sakit," ucap perawat kepada Grey yang saat ini tengah menyusui.


Grey sontak terkaget, tangannya spontan mendekap erat bayi dalam dibuaiannya. "Bagaimana dengan putriku kalau aku sudah boleh diijinkan pulang?"


Perawat itu tersenyum dan berujar, "Ibu tenang saja, anak ibu juga sudah boleh diijinkan pulang. Sebentar lagi Dokter akan memberi penjelasan lebih lengkapnya."


Grey kemudian mengalihkan tatapannya, memandang wajah putri kecilnya. Air matanya ikut meluncur turun, ya... jika diamati kondisi bayinya jauh lebih baik dari waktu pertama kali terlahir. Berat bayinya bertambah juga beberapa hari terakhir sudah diperbolehkan keluar dari inkubator.

__ADS_1


Ketika dirasa bayinya sudah cukup kenyang, Grey segera melepas mulut mungil bayinya kemudian segera membenahi pakaiannya.


Bayi itu hanya sesaat menggeliat, membuka mata sipitnya sekejap lalu melanjutkan tidurnya. Grey sangat menikmati moment itu, tangannya mengelus lembut kepala bayinya. Padahal... tak terbayangkan di hidupnya yang begitu rumit, Tuhan hadirkan sosok yang dulu sempat dianggapnya beban justru berubah menjadi penghibur hatinya sebab bayi itu satu-satunya yang dimiliki di hidupnya.


Tak berselang Dokter benar-benar datang menjelaskan keadaan Grey yang memang sudah diperbolehkan pulang, juga tak berapa lama kemudian setelah Dokter pergi sosok Darrel muncul dengan membawa koper ukuran besar.


"Bawa barang yang sekiranya kamu perlukan. Sisanya bisa kamu beli nanti," ucap Darrel langsung memberi perintah sambil meletakkan koper kosong di lantai dan membukanya.


"Biarkan aku saja," ucap Grey ingin mengambil alih, namun Darrel hanya meliriknya sekilas. Lelaki itu bahkan tak menanggapi sekali pun kata-kata Grey. Dan yang paling mengejutkan wanita itu adalah Darrel yang tak sungkan membereskan dan memasukkan pakaian dalam milik Grey.


Darrel yang selesai dengan pekerjaannya lantas berujar, "Kenapa masih berdiri diam disitu? Bersiaplah, masih ada jam penerbangan yang harus ditempuh."

__ADS_1


"Kemana kamu akan membawaku pergi?" ucap Grey bersamaan dengan Darrel yang menutup koper dengan kasar hingga membuat Grey takut untuk kembali bertanya.


Hingga dengan terburu-buru Grey mulai bersiap. Ia bahkan tak sempat mengganti pakaian sebab yang dilakukannya sekarang adalah mengurusi putrinya.


Grey pun membungkus badan putrinya dengan melilitkan selimut tebal kemudian mendekapnya ke dalam gendongan, sebab tak ingin jika Darrel menunggunya terlalu lama jadi setelah dirasa selesai ia berujar, "aku sudah siap."


Darrel yang sebenarnya dari tadi mengamati kegiatan Grey segera memalingkan muka. Ia menjawab hanya dengan berdehem saja selanjutnya lelaki itu pergi mendahului dengan menarik koper besarnya.


Grey lantas mengikuti langkah kaki Darrel. Mereka masuk di salah satu mobil yang telah disiapkan oleh Darrel sebelumnya untuk mengantar mereka ke Bandara.


Sampai di bandara sekali pun tak ada satu pun dari mereka yang memulai untuk bicara, hingga mungkin bayi dalam dekapan Grey yang sudah merasa haus mulai mengeluarkan tangisan, memecah keheningan di antara keduanya.

__ADS_1


Terimakasih teman-teman yang masih setia mengikuti ceritanya


__ADS_2