Lost Memory

Lost Memory
TigaBelas


__ADS_3

"Keberadaan Grey sudah seperti hilang ditelan bumi. Segala transportasi dari udara, darat dan laut tak ada jejak nama Grey. Dari sikap Ayahmu juga tak ada gelagat yang mencurigakan. Juga aku sendiri yakin tak banyak yang tahu tentang hubungan kalian. Jika pun hilangnya Grey merupakan ulah dari saingan bisnismu, sudah pasti dari jauh-jauh bulan yang lalu mereka menghubungimu."


Darrel menarik satu gelas seloki berisikan alkohol yang baru saja dituangnya, kemudian ia meminumnya dengan sekali tegukan.


Ia membuang napas panjang dari mulutnya usai meletakkan kembali gelas kosong ditangannya. Satu tahun belakangan ketiadaan Grey membuatnya pusing bukan main, ia telah mengerahkan orang-orang kepercayaan namun hasilnya tetap nihil. Tapi Darrel punya keyakinan sendiri dan akan memberhentikan pencarian sampai pada saat jasad Grey ditemukan.


Justru hal itu berbeda dengan Andreas yang sudah tak memiliki harapan, tapi ketika ia mulai menasehati sahabatnya itu pertengkaran lah yang kembali terjadi di antara mereka berdua. Padahal jika dipikir mudah saja kalau hilang cari baru lagi, pikirnya.


"Ngomong-ngomong bisnismu di negara ini tidak berjalan begitu baik, apa kamu berniat mau melanjutkannya?"

__ADS_1


Darrel hanya melirik saja ke arah Andreas, dan hal itu membuat Andreas kesal.


"Danamu sudah banyak digelontorkan untuk mencari keberadaan Grey, membayar orang-orangmu selama setahun terakhir ini yang tak ada hasil apa pun. Kupikir kamu akan bangkrut kalau terus mencarinya."


Sudut bibir Darrel tersungging tipis. "Dia akan membayarnya setelah aku menemukannya nanti," ucap Darrel menuang alkohol ke dalam gelasnya.


Namun ketika Darrel hendak meneguknya, Andreas menghentikannya. "Bayar? Grey yang membayarnya? Sudah sinting apa, selama ini kamu yang keluar banyak uang untuk Grey. Kalau pun iya, itu maksudmu dengan tubuhnya?" kata Andreas yang tangannya kini ditepis oleh Darrel sebab lelaki itu kembali meneguk minumannya.


Bukan hal mustahil juga sih, batin Andreas diikuti dengan mulutnya yang berdecak. Lalu ia mengatai Darrel dengan julukan, "Dasar bucin!"

__ADS_1


Darrel yang hanya melirik, kini membuat Andreas memperjelas ucapannya. "Budak cinta. Udah lah mumpung di negara orang, aku gak mau ikut campur dengan urusan pribadimu. Pusing. Aku mau cari kesenanganku, aku butuh libur!"


Andreas lantas merogoh kunci mobil di sakunya dan meletakkannya di hadapan Darrel. "Jangan minum terlalu banyak. Telpon aku setelah kamu ambil keputusan, mau melanjutkan bisnismu yang disini atau kamu sudahi. Aku pergi," ujar Andreas turun dari kursi dan melangkah meninggalkan Darrel.


Darrel terdiam lama usai kepergian Andreas, ia justru merenungi lama kejadian satu tahun belakangan. Banyak pekerjaan yang sudah diabaikannya dan tak terhitung lagi berapa kerugian yang ditimbulkan karena usaha yang dijalankan kurang dari pengawasan.


Sekarang ia tengah berada di negara Jepang menengok secara langsung usahanya yang tak ada perubahan dari bulan-bulan sebelumnya ia bertandang, dan Darrel menyimpulkan bahwa usahanya di negara ini sudah berada di tahap bangkrut. Dengan kata lain Darrel menyimpulkan akan mengakhirinya.


Kini ia tak lagi melanjutkan minumnya dan setelah membayar biilnya ia keluar dari club. Darrel yang tak ada tujuan kemanapun akhirnya memilih untuk mengendarai mobilnya kembali ke sebuah hotel yang sudah beberapa hari disewanya.

__ADS_1


Di tengah perjalanan sesaat yang mobilnya berhenti di lampu merah, matanya kini tak sengaja menangkap pemandangan dua insan yang tengah berciuman di sekitar taman kota. Bibir Darrel berdecih lantas memalingkan muka dan melanjutkan perjalanan mobilnya menuju hotel tempatnya menginap


__ADS_2