
Grey tak lagi melanjutkan makan. Ia merasa kondisinya sedang tak baik-baik saja dan ia menduga mungkin asam lambungnya naik hingga siksaan di perutnya serasa menjadi-jadi saat tadi muntah.
Kini yang diinginkan hanya beristirahat. Ia berharap dengan tidur dapat meredakan sakitnya.
Entah berapa lama mata Grey terpejam, ia bangun dalam keadaan lampu kabin masih redup. Grey menoleh ke arah sekitarnya banyak penumpang yang masih tertidur pulas juga sebagian yang mungkin tak bisa tidur fokus menatap layar menonton film dengan headphone di kepala. Ketika tak sengaja Grey melihat tangan orang yang bersedakap di sampingnya, ia menyipitkan mata sebab nampak dari pergelangan tangan orang itu jarum jam tangan menunjukkan pukul tiga. Dan Grey meyakini ini masih sangat terlalu pagi.
Grey yang tak bisa tidur kini justru termenung sampai pada lampu kabin yang semula hanya bercahaya redup kini berganti dengan cahaya terang di susul dengan intruksi dan hilir mudiknya para pramugari yang mengecek kondisi penumpang.
Grey memperkirakan jika mungkin tak berapa lama lagi pesawat akan mendarat, dan orang di sampingnya kini juga telah terbangun sambil meregangkan otot-ototnya.
__ADS_1
Dari ekor matanya Grey dapat melihat jika orang di sampingnya kini bangkit meninggalkan kursi, dan tak berselang lama orang itu kembali. Hingga tak disangka orang itu justru memulai perbincangan.
"Dari tadi Mbak cuma duduk diam saja?"
Tapi Grey masih mengunci mulutnya rapat bersikap acuh.
"Maksudku, Mbak gak mau ke toilet atau apalah. Soalnya posisi Mbak duduk disitu, akunya pasti ngalangin jalan kalau Mbak keluar, kupikir karena Mbak sungkan negur aku buat geser jadi Mbak cuma duduk diam aja."
"Percuma ngomong," gumamnya yang mencoba tak lagi peduli, lalu sibuk dengan kegiatannya yang bersiap membenahi diri sebab menyadari tak berapa lama lagi tujuannya akan sampai.
__ADS_1
Hampir delapan jam perjalanan pesawat telah bersiap mendarat. Usai dipastikan aman dan mendarat dengan sempurna kini penumpang bersiap untuk turun. Grey pun berjajar mengantri untuk keluar dari pesawat mengikuti langkah orang-orang sampai menuju tempat cek keimigrasian setelahnya menuju keluar pintu lobby bandara.
Namun hal yang tak di sangkanya saat ia sudah ada di pintu luar dengan berdiri sejenak mengamati sekitaran justru banyak pria-pria yang menghampirinya. Perasaan takut itu muncul kembali, Grey yang didekati oleh orang asing perlahan memundurkan langkah. Ia sangat ketakutan sampai-sampai seperti orang linglung padahal orang-orang itu hanyalah calo yang menawarkan jasa travel mau pun taksi.
Grey yang sudah tak dapat mengendalikan rasa takut akhirnya memutar langkah. Dengan buru-buru ia kembali masuk lewat pintu lobby bandara. Dan karena ketergesaannya ia menabrak seseorang.
"Ma-maaf." Badan Grey sudah sangat gemetaran, ia menunduk tak berani menatap orang yang ditabrak sambil meminta maaf.
Orang yang ditabraknya juga terkejut. Sambil seksama memperhatikan Grey kemudian berujar, "Mbak kenapa? Mau balik ke dalam, apa barangnya ada yang tertinggal?"
__ADS_1
Grey menggeleng kuat dengan masih nampak ketakutan, orang itu yang tepatnya adalah orang yang duduk di satu kursi pesawat di samping Grey hanya menatap heran, sebab Grey nampak aneh dan di perjalanan dari luar negeri tak ada barang apapun yang dibawa hanya baju dibadan dan tas selempang berukuran sedang, sungguh memprihatinkan. Sementara dirinya yang notabenenya adalah seorang TKI atau Tenaga Kerja Indonesia yang sudah enam tahun bekerja di Jepang, kini kembali ke negara asal dengan membawa barang bawaan tas ransel dan koper super besar.
To be continued