
Hati Grey belum sepenuhnya lega saat sudah duduk di barisan kursi pesawat. Waktu seakan berjalan lamban ketika orang-orang masih hilir mudik mencari keberadaan tempat duduk mereka.
Grey memalingkan wajah pada gelapnya jendela di sampingnya, sambil mengeratkan cengkraman pada tali syal yang mengikat lehernya. Ia sadar bahwa di dekatnya telah ada seseorang dan itu menjadikannya kembali dibuat takut.
Grey sangat berharap pesawat yang ditumpangi secepat mungkin melesat meninggalkan landasan. Meski ia tak punya tujuan yang jelas, asalkan pergi dari negara ini rasanya sudah cukup untuknya.
Hingga menit yang berlalu terasa lama itu terlalui, ketika instruksi dari pramugari mulai terdengar disusul dengan goncangan kecil dari pesawat yang mulai bergerak, Grey sepenuhnya menitikkan air mata.
Hembusan napas kelegaan berangsur-angsur tanpa sadar dilakukan. Air mata Grey turut mengalir deras, dalam tangis diamnya yang tanpa suara badannya gemetar.
Hal itu pun menarik perhatian orang di sampingnya yang melirik lalu menoleh ke arah Grey. "Tenang lah, jangan khawatir."
Grey refleks memberi perlawanan ketika orang di sampingnya mengulurkan tangan, entah hendak berinisiatif menenangkannya atau hal yang lainnya. Tapi yang jelas Grey jadi trauma, takut dengan siapa pun yang berada di dekatnya.
__ADS_1
"Oh maaf. Aku tidak bermaksud. Kupikir kamu punya phobia naik pesawat. Sudah jadi hal biasa saat pesawat lepas landas, pesawatnya bergoncang. Tapi sekarang sudah aman-aman saja," sahut orang di samping Grey menjelaskan maksudnya dengan tak enak hati akibat ia merasa sikap Grey berlebihan.
Dan orang itu kini memperhatikan Grey secara seksama, lalu menebak. "Kamu orang Indonesia juga?"
Grey kini semakin dibuat ketakutan, ia menggeleng mengelak. Makin memalingkan wajah ke arah jendela di sampingnya.
"Ih dasar wanita aneh," gumam orang di samping Grey dan Grey tak memperdulikannya.
Saat Grey melirik ke sekitar sudah ada beberapa yang menikmati makanan mereka. Grey yang memang tak makan teratur dan baru keluar dari rumah sakit juga tak mungkin membiarkan perutnya terus-terusan tak terisi. Dan ketika ia membuka plastik oil pembungkus makanan di hadapannya, justru aroma makanan yang harusnya tercium enak kini malah membangkitkan isi perutnya untuk di keluarkan.
Alhasil, Grey membekap mulutnya erat. Satu tangannya juga beralih pada kantong kursi di hadapannya dengan ia sibuk merogoh mencari-cari sesuatu.
"Mbak kenapa?" Tanya orang di sampingnya Grey menatap penuh tanya dan sadar jika orang disampingnya itu hendak muntah.
__ADS_1
Sontak ia meletakkan makanan yang baru satu kali suap, kemudian ia membantu Grey mencarikan barang yang dicari.
"Ini," ucapnya menyodorkan katong kertas yang diperuntukkan bagi orang yang muntah.
Grey langsung merebutnya. Tak tahan dengan gejolak di perutnya Grey langsung mengeluarkannya saat itu juga.
Ringisan jijik dan perasaan menyiksa lebih dirasakan oleh orang di samping Grey yang karena kelakuan Grey, ia mungkin tak ada lagi selera untuk makan.
To be Continued, untuk episode yang lebih ekstrim selanjutnya
PO Love not Discuss masih berlangsung, yang mau ikutan PO dapat potongan harga plus souvernir eksklusif bisa kepoin IG ARyanna 58
__ADS_1