Lost Memory

Lost Memory
Enampuluh Tujuh


__ADS_3

Grey tersentak dalam tidurnya. Tak pernah ada perasaan tenang meski ia dalam kondisi memejamkan mata.


Rasa takut yang timbul semakin nyata di saat ia memandangi perut yang sudah nampak menonjol, padahal jika diperkirakan usia janin yang tumbuh disana baru lah tiga bulan.


Grey membuang napas berat dan ia juga menyesalkan karena menyadari hari telah beranjak siang karena sorot cahaya matahari dirasa sudah mulai menyengat. Kini Grey bergegas berangjak dari pembaringan, merapikan diri dengan menyisir rambut tergesa lalu merapikan kasur dan melipat selimutnya.


Semalam ia kesulitan tidur dan baru bisa memejamkan mata di saat waktu hendak menuju pagi. Tapi pengalamannya yang bangun kesiangan baru pertama ini dialami ketika tinggal disini, ya... di tempat yang sudah dua bulan lebih ini ditinggali.


Grey keluar dari kamar dan kebetulan tak menemukan siapa pun, ia kemudian cepat-cepat menuju bilik kamar mandi dengan melewati dapur. Bergegas Grey bersih-bersih mencuci muka sekalian mandi.


Grey cukup tahu diri. Seusai mengurus diri, ia berinisiatif mengambil sapu untuk bersih-bersih. Namun baru setengah ia menyapu ruangan, dari arah pintu terdengar suara seseorang.

__ADS_1


"Sudah, tadi Ibu sudah sapu. Gak usah disapu lagi," ucap seorang wanita paruh baya yang menenteng tas belanjaan beserta plastik lainnya berisikan bahan makanan.


Grey berbalas sungkan, lekas meletakkan sapu dan menghampiri wanita paruh baya itu berinisiatif membantu. Tapi hal itu ditolak.


"Sudah, biar Ibu saja. Kamu duduk, ambil sarapan," ucapnya memerintah.


Tapi Grey tak menghiraukan justru mengekori, berniat membantu. Hingga wanita paruh baya itu mendesah menghentikan kegiatannya yang baru saja mengeluarkan barang belanjaan dari dalam tasnya.


"Maaf Bu, hari ini Grey bangun gak seperti biasanya," ucap Grey merasa bersalah.


"Gak apa-apa. Ibu maklum, kamu pasti kecapekan. Sudah sana, ambil makan. Makan seadanya yang tadi Ibu sudah masak."

__ADS_1


Grey pun menggangguk sungkan lalu menuruti perinta Ibu paruh baya itu untuk mengambil sarapan.


Di sela-sela makan, Grey mencari keberadaan seseorang yang tak dilihatnya semejak dari tadi. Lalu ia pun memberanikan diri untuk bertanya, "Mas Danar kok gak kelihatan, Bu?"


"Oh, Danar ikut Pak Dhe-nya antar barang pesanan. Habis subuh tadi mereka berangkat. Rencana Pak Dhe-nya, Danar mau diajarin buka ekspedisi jasa kirim antar barang. Disini kan warganya bersumber dari hasil kerajinan furniture, yang punya mobil buat angkut barang masih jarang. Seenggaknya hasil kerjanya Danar di luar negeri diputer lagi biar jadi sumber penghasilan. Jadi kalau Danar misalkan cocok dalam waktu dekat bakal beli mobil."


Danar lah yang membawa Grey pulang bersama, meski diawal kedatangannya hingga sekarang banyak dicibir orang. Terlebih dalam kondisi Grey yang hamil, banyak orang berburuk sangka. Sempat juga ia hampir diusir oleh warga di sekitar yang tak setuju dengan hadirnya yang tinggal serumah dengan keluarga Danar yang tanpa ada status ikatan darah atau kekeluargaan.


Tapi mungkin nasib baik dan rasa iba dari Danar masih berpihak padanya atau percobaan bunuh dirinya lalu yang membuat Danar tak punya pilihan, hingga lelaki itu mengarang cerita kalau Grey adalah wanita yang dititipkan oleh temennya di luar negeri sana yang telah menikah siri namun tak direstui orang tua.


Hingga kini Grey jarang sekali keluar rumah kalau bukan karena hal mendesak. Apalagi Ibu dari Danar yang sangat perhatian dan pengertian terhadapnya, membuat Grey sekali lagi masih diberi kesempatan diterima di tengah masalah besar yang menghimpitnya.

__ADS_1


__ADS_2