
Adji masih terbaring lemah di kasurnya, walau Juna tadi sudah memberikan obat penawar racun untuknya. Walau begitu wajahnya sudah tidak sepucat tadi.
Saat matahari telah terbit dan cahayanya masuk kedalam kamar lewat jendelanya yang besar dan lebar, Alice mengerjapkan matanya yang terkena sinar matahari. Dilihatnya jam sudah menunjukan pukul enam pagi. Alice mengecek kondisi Adji, dan ternyata masih saja seperti dini hari tadi.
Alice pergi ke kamar mandi, untuk membersihkan tubuhnya. Hampir lima belas menit Alice di dalam kamar mandi. Begitu dia keluar, dilihatnya Adji sudah sadar. Alice pun langsung berlari menuju ranjangnya.
" Suamiku, akhirnya kamu sadar!" Alice memeluk Adji dengan perasaan senang.
" Istriku, bukannya ini kamar tidur kita?" Tanya Adji agak linglung. Karena setahunya semalam dia masih di rumah sakit.
" Iya. Semalam ada orang yang berniat membunuhmu di rumah sakit. Jadi kamu dibawa pulang, dan dirawat di rumah." Jawab Alice dengan mata yang berkaca - kaca.
Adji menyentuh wajah Alice dan menghapus air matanya yang jatuh membasahi pipinya.
" Kenapa Istriku ini menangis?" Adji tersenyum dengan simpul.
" Bodoh…. Karena kamu sudah membuatku sangat ketakutan." Alice menurunkan tangan Adji yang memegang wajahnya.
" Memangnya apa yang aku lakukan hingga membuatmu takut?" Tanya Adji dengan memandang wajah Alice.
" Karena kondisi kamu semalaman sangat kritis. Aku sungguh takut kehilangan kamu!" Alice membalas tatapan Adji.
Mendengar pengakuan Alice, Adji sungguh sangat bahagia. Dipeluknya wanita yang sedang mengandung anaknya itu dengan hangat dan perasan bahagia. Akhirnya Adji merasa menjadi orang yang berarti dalam hidup wanita yang di cintainya itu.
" Maafkan aku yang telah membuatmu cemas dan takut." Bisik Adji yang masih memeluk erat tubuh Alice.
" Aku tidak mau kehilangan kamu. Jangan membuat aku dan anak - anak kita sedih dan ketakutan seperti semalam lagi." Kata Alice dengan suaranya yang pelan.
" Iya, aku akan lebih hati - hati lagi." Adji mengurai pelukannya.
" Janji?" Tanya Alice.
" Janji!" Jawab Adji.
Alice mencium Adji dengan lembut. Dan Adji pun membalasnya. Pagi hari itu terasa sangat menyenangkan bagi keduanya.
*****
Sam sekarang sedang mengintrogasi ketiga Si Penyusup. Ketiganya diikat di kursi kayu yang berada di dalam sel penjara bawah tanah.
" Katakan siapa yang telah menyuruh kalian untuk membunuh Tuan Muda kami?!" Sam memasang wajah sangarnya.
__ADS_1
Tapi ketiga Penyusup itu diam tidak menjawab. Dan kediaman mereka membuat Sam sangat marah.
Plak!!!"
Plak!!!"
Plak!!!"
Sam menampar para Penyusup itu dengan sangat kuat sehingga darah langsung keluar dari mulut mereka.
" Ayo katakan yang sebenarnya dengan jujur. Sebelum aku berbuat lebih kejam lagi!" Suara Sam yang keras dan bernada dingin langsung memenuhi seluruh ruangan itu.
" Apa tidak ada yang mau berbicara!" Tanyanya sekali lagi. Dan ketiganya masih saja diam.
" Baiklah kalau begitu, aku tidak mau melumuri tangan ku dengan darah kalian."
" X1, X2, dan X3 lakukan tugas kalian dengan baik, jangan sampai memberi ampun mereka bertiga!" Perintah Sam pada ketiga Bodyguard Android yang memiliki tugas sebagai robot eksekusi untuk para Penjahat.
Sam pun masuk ke dalam ruang kontrol. Dan disana dia menyaksikan di layar monitor. Bagaimana para robot Android itu mengeksekusi ketiga Penyusup itu.
Sebenarnya Sam sangat gusar, karena para penjahat yang selalu berusaha membunuh Tuan Mudanya. Selalu diam dan memilih mati, daripada harus memberitahu siapa orang yang telah menyuruh mereka.
Adji dan Sam juga sering menyelidiki orang - orang disekitarnya dan orang yang pernah menjalin kerjasama dengannya. Tapi Adji berpikir ulang, kalau orang - orang yang ingin membunuhnya adalah lawannya dalam usaha berbisnis. Itu seharusnya percobaan pembunuhan terhadapnya setelah dia terjun ke dunia usaha. Sedangkan nyawanya sudah diincar sejak masih bayi oleh orang - orang yang mencoba membunuhnya.
*****
Satu Minggu kemudian….
Adji kini kondisinya sudah pulih kembali. Dia juga sudah beraktivitas seperti biasanya lagi. Alice juga sudah menjalankan aktivitasnya seperti biasa. Dan kini Alice akan pergi ke kantornya Adji dan membawakan makan siangnya.
" Halo, Nyonya. Apa kabar?" Suara yang sangat familiar bagi Alice menyapanya saat dia baru keluar dari mobilnya. Dan Alice pun membalikan badannya dan melihat orang yang telah menyapa dirinya.
" Arya!" Alice langsung waspada kalau - kalau ada kamera CCTV yang merekam pertemuannya dengan Arya. Bisa - bisa Adji marah lagi padanya.
" Sudah lama, ya. Kita tidak bertemu!" Arya berjalan mendekat ke arah Alice.
Namun sebelum dia mendekat lebih dekat lagi dengannya ada bodyguard yang menghadang dirinya.
" Maaf ya, Arya. Aku sudah ditunggu oleh suamiku tersayang di atas." Alice tersenyum kemudian cepat - cepat pergi meninggalkan lahan parkir.
Arya hanya diam, menyaksikan Alice pergi menjauh darinya.
__ADS_1
Sesampainya di atas, Alice langsung masuk ke dalam ruangan kantor Adji. Dilihatnya suaminya sedang sibuk dengan tumpukan dokumennya.
" Suamiku, ayo istirahatlah dulu!" Ajak Alice yang berdiri di samping Adji.
Adji melihat Alice dengan senyuman mengembangnya. Ditariknya Alice kedalam pangkuannya. Dipeluk pinggang istrinya dengan erat. Dan menelusupkan wajahnya di leher Alice. Dihirupnya aroma wangi tubuh istrinya itu. Dan membuatnya makin memancing gairahnya. Alice yang langsung menyadarinya, berusaha menolaknya.
" Suamiku ayo makan! Aku sudah lapar!" Kata Alice mengalihkan perhatian Adji.
Mau tidak mau, akhirnya Adji makan dengan disuapi oleh Alice. Begitu juga sebaliknya, Alice disuapi oleh Adji.
*****
Rama dan Shinta kini sedang berada di ruang perpustakaan. Dan mereka sedang mencari - cari sesuatu.
" Rama apa benar di ruangan ini ada ruang rahasianya?" Tanya Shinta pada Rama yang sejak tadi mengetuk - ngetuk tembok dinding di ruangan itu.
" Iya aku yakin ada ruangan lagi di dalam sini!" Kata Rama.
" Tapi disini tidak ada pintu lagi, selain pintu masuk itu." Shinta masih saja bertanya dan terus mengekori Rama di belakangnya.
" Dimana - mana yang namanya ruang rahasia itu, pintunya juga pasti rahasia tidak tidak diketahui ada dimana!" Rama mulai gusar dengan saudara perempuannya itu.
Mendengar itu membuat Shinta jadi cemberut di buatnya. Kini Shinta mengikuti Rama dengan diam tak banyak bicara lagi. Mata Shinta juga ikut menelusuri seluruh isi ruangan .
" Rama apa menurutmu lampu itu bentuknya tidak aneh?" Tanya Shinta sambil menunjuk lampu hias yang ada di dekat lemari nakas.
Rama pun mengalihkan pandangannya pada lampu hias yang berada di dinding bagian atas dekat lemari nakas yang ditunjuk oleh Shinta.
" Akhirnya bisa ketemu." Rama tersenyum penuh kemenangan.
" Apanya yang sudah ketemu?" Tanya Shinta pada saudara kembarnya dengan wajahnya yang penasaran.
*****
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA MUMPUNG HARI SENIN NIH
KASIH BINTANG LIMA JUGA YA
DUKUNG AKU TERUS YA.
TERIMA KASIH.
__ADS_1