
Adji mengajak kedua anaknya pergi makan siang bersama, di meja makan sudah ada Bisma, Sadewa dan asistennya, Bima, dan Alice yang sedang menyiapkan makanan untuk mereka.
" Suamiku, ayo cepat duduk. Semuanya sudah menunggu." Kata Alice saat melihat Adji berjalan memasuki ruang makan.
" Anak-anak kalian mau makan apa?" Tanya Alice begitu kedua anaknya duduk dikursi.
" Hm, Rama mau ayam bumbu kecap." Kata Rama saat melihat makanan kesukaannya ada di atas meja.
" Shinta mau sop buntut." Pinta Shinta saat melihat menu masakan kegemaran Adji ada di atas meja.
Mereka pun makan dengan diam. Dan Sadewa sesekali melihat ke arah Rama dan Shinta. Hal itu tidak luput dari perhatian Adji dan Sam. Sementara Bisma mengawasi semua orang yang ada disana, bahkan Si Kembar pun tak luput dari pengawasannya.
Hanya Alice dan anak-anaknya yang begitu menikmati makanannya tanpa rasa beban dan pikiran yang berkecamuk.
Tanpa terasa mereka telah menghabiskan semua makanan di atas meja. Semenjak Alice mengambil alih tugas memasak, semua orang jadi lahap makannya. Mereka sering nambah, tanpa mereka sadari sudah makan banyak. Dan itu membuat Alice senang, bahkan semangat kalau memasak.
" Istriku aku ingin pergi tidur siang." Kata Adji kepada Alice yang sedang membantu robot pelayanan membereskan piring-piring yang kotor.
" Tunggu sebentar suamiku." Alice tersenyum agar Adji tidak ngambek, karena tidak dituruti langsung keinginannya.
" Kalau begitu aku tunggu di kamar!" Adji berjalan menuju ke kamarnya. Tentu saja Sam dan Bima mengikutinya di belakang.
Saat mereka sudah masuk ke kamar, Adji mengeluarkan buku harian milik Papanya.
" Bima bagaimana keadaan di perusahaan?" Tanya Adji sambil duduk di sofa siap mendengarkan laporan dari Bima.
" Sepertinya ada beberapa orang yang berusaha masuk ke dalam sistem keamanan data perusahaan. Tapi kami masih bisa mengatasinya. Hanya saja ada beberapa rekan bisnis yang mulai berbuat ulah dalam satu Minggu ini. Tapi itu tidak mempengaruhi keadaan di perusahaan. Bahkan kita hanya mengalami kerugian yang sangat kecil dibandingkan dengan kerugian yang dialami oleh mereka." Laporan Bima.
" Bagus. Tetapi kenapa nggak ada laporan seperti itu kemarin?" Tanya Adji.
" Saya sudah membuat laporannya. Tetapi kata Tuan Sadewa, hal remeh seperti itu dan sudah berhasil diatasi. Jangan dilaporkan, karena bisa menjadi beban pikiran buat Tuan yang sedang sakit." Lanjut Bima.
" Ya, nggak apa-apa. Bagus juga aku nggak perlu memikirkan masalah sepele urusan di perusahaan " Kata Adji sambil manggut-manggut.
" Sam bagaimana dengan tugas yang tadi aku berikan kepadamu?" Tanya Adji.
" Sudah selesai, hanya saja saya masih bingung Tuan. Saat menyimpulkan hasil akhirnya." Jawab Sam sambil menyerahkan berkas laporannya kepada Adji.
__ADS_1
" Tidak apa-apa, biar aku lihat. Nanti akan aku pelajari dan dipikirkan hasil akhirnya." Kata Adji sambil melihat lembar-lembar kertas laporan dari Sam.
Sam dan Bima pun keluar dari kamar Adji. Bersamaan dengan Alice yang akan masuk kedalam kamarnya.
" Oh, kalian. Apa sudah selesai rapatnya?" Tanya Alice sambil berbisik.
" Sudah Nyonya." Jawab keduanya.
" Baiklah selamat bekerja kembali." Kata Alice.
Alice berjalan ke arah sofa, mendekati Adji yang sedang membaca buku harian milik Papanya.
" Suamiku, sedang membaca apa?" Tanya Alice sambil duduk di samping Adji.
" Buku harian milik Papa yang ditemukan oleh anak-anak." Jawab Adji.
" Gimana apa jadi tidur siangnya?" Tanya Alice pada Adji yang sedang asik membaca buku harian itu.
" Jadi istriku. Kepalaku sudah mulai pusing bila tidak menghirup wangi dari bau tubuhmu." Adji mulai mendengus leher Alice.
******
Sementara itu di tempat gedung tinggi, seorang pria sedang membaca berkas laporan dari anak buahnya.
" Jadi meski rekan bisnis mereka ada yang memutuskan kerja sama, tapi itu tidak ada pengaruhnya untuk perusahaan milik Adji!" Pria itu melemparkan laporannya ke arah muka bawahannya itu. Sehingga kertas-kertasnya berhamburan di lantainya yang mengkilap.
" Lain kali cari mangsa yang lebih besar. Jangan perusahaan-perusahaan kecil seperti ini! Sama sekali nggak ada pengaruhnya!" Teriak pria itu dan suaranya memenuhi satu ruangan itu.
" Aku tunggu berita yang lebih bagus!" Katanya kepada bawahannya yang masih berdiri seperti patung di hadapannya.
" Sekarang keluarlah!" Perintahnya.
Bawahannya itu pun pergi keluar dari dalam ruangan itu. Kini hanya ada pria itu seorang diri disana. Dia memijat kepalanya yang dirasa mulai sakit. Dan memejamkan matanya mencoba mengurangi rasa sakitnya.
" Adji tunggu saja pembalasan ku! Kalian semua keluarga Pandawa tidak berhak hidup dalam kebahagiaan dan ketenangan. Setelah apa yang kalian perbuat terhadap keluargaku!" Teriak pria itu penuh amarah dan kebencian.
Pria itu melemparkan gelasnya kearah foto Adji dan keluarga kecilnya yang tertempel di dinding tembok yang ada di depannya. Karena kuatnya lemparan itu gelas kaca itu langsung berubah menjadi serpihan yang kecil.
__ADS_1
******
Bisma sedang duduk di ruang kerjanya. Dia memikirkan semua hal-hal yang telah dilewatinya selama hidupnya. Dia juga menuliskan kejadian-kejadian yang terjadi di sekitarnya. Dia berusaha mengingat semuanya dan jangan sampai ada yang terlupa.
" Aku yakin ada sesuatu yang aneh setelah aku membentuk bodyguard khusus untuk aku dan Pandu." Bisma mengetuk-ngetukkan pensilnya di kepalanya.
" Tapi entah apa saja yang saat itu sudah terjadi ? Dan apa hal-hal yang aneh dirasakan oleh Anabella dahulu,ya?" Tanya Bisma pada dirinya sendiri.
" Akh, kenapa aku malah baru sekarang menyadarinya!" Teriak Bisma merasa kesal sendiri.
" Ayo ingat-ingat apa yang dulu pernah dikatakan Anabella?" Bisma mengulang kalimat itu layaknya sedang membaca mantra.
" Kenapa aku kesulitan untuk mengingat hal-hal penting disaat seperti ini!" Bisma menelungkupkan wajahnya di meja kerjanya. Dan tanpa sadar dia tertidur dengan posisi duduk.
******
" Tuan Sadewa sekarang tindakan apa yang akan anda ambil?" Tanya asistennya Sadewa kepada Tuannya yang sejak tadi hanya duduk termenung di meja kerjanya di kantor perusahaan milik Pandawa.
Mendengar pertanyaan dari asistennya itu, Sadewa hanya menarik napasnya dalam-dalam, dan menghembuskannya dengan kasar.
" Apa sekarang sudah saatnya?" Tanyanya kepada asisten kerjanya sekaligus orang kepercayaan Tuannya itu.
" Sebaiknya kita lihat dulu situasinya. Jangan terburu-buru Tuan. Nanti malah membahayakan kita." nasehat asistennya.
" Kamu sudah tahu, kalau aku sudah siap mempertaruhkan nyawaku ini. Untuk memenuhi janjiku." Kata Sadewa sambil menatap Asistennya.
" Bukan hanya anda saja yang siap mempertaruhkan nyawa untuknya. Aku juga sama seperti anda!" Asisten Sadewa menatap balik atasannya itu.
" Ya, tentu saja aku tahu. Karena kita sudah berjuang bersama-sama sejak dahulu." Kata Sadewa.
******
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH DAN, VOTE NYA JUGA YA.
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.
TERIMA KASIH.
__ADS_1