Mamaku Wanita Super & Papaku Super Genius

Mamaku Wanita Super & Papaku Super Genius
BAB 83


__ADS_3

    Sementara itu Rama dan Shinta sekarang berada di kantor polisi ikut dengan Sam, untuk mengambil tas ransel milik Rama. Mereka berdua lupa tidak memberitahu kepada kedua orang tua mereka kalau ikut dengan Sam ke kantor polisi. Tanpa mereka semua tahu kalau Adji sedang mencari mereka di daerah air terjun.


     Kini Rama dan Shinta duduk di kursi di ruang tunggu, menunggu Sam yang sedang menyelesaikan urusannya dengan polisi. Keberadaan mereka berdua menjadi sorotan dari tatapan para polisi di sana, karena ada dua anak kecil yang berpenampilan necis sedang duduk di ruang tunggu di kantor polisi, pagi hari.


"Adik kecil, sedang apa kalian di sini pagi-pagi begini?" tanya salah seorang polisi yang sejak tadi memperhatikan mereka berdua.


"Kami berdua sedang menunggu Paman Sam," jawab Rama dan Shinta bersamaan dengan suara khas anak-anak.


"Apa kalian korban penculikan?" tanya seorang polisi lagi yang tadi datang berdua bersama temannya.


"Bukan," jawab Rama dan Shinta bersamaan lagi.


"Lalu, apa Paman Sam yang kalian sebutkan tadi sekarang sedang bersama polisi di dalam sana?" tanya polisi yang pertama tadi sambil menunjuk ke sebuah ruangan yang tadi di masuki oleh Sam.


"Iya, tadi Paman Sam masuk ke sana," jawab Shinta karena yakin kalau Sam sudah masuk ke dalam ruangan itu.


"Sepertinya mereka berdua keluarga Si Penjahat itu," bisik salah satu polisi pertama kepada temannya.


"Iya, kasihan sekali mereka berdua ini. Padahal mereka kelihatannya anak-anak kaya. Tapi kenapa dia menjadi seorang pencuri di panti asuhan," balas polisi kedua kepada polisi kedua.


    Rama dan Shinta diam tak mengerti apa yang kedua polisi itu bicarakan. Mungkin ada kesalahpahaman yang dari kedua polisi itu, terhadap Sam.


    Hampir satu jam, Sam berada di ruang di samping yang ditunjuk oleh kedua polisi tadi. Sam cukup lama di sana, karena tas ransel milik Rama isinya adalah batu-batu perhiasan langka dan dalam jumlah yang banyak. Jadi polisi mencurigai kalau mereka telah mencuri barang langka itu dari museum.


"Maaf, Pak. Kalau semua batu-batu permata itu adalah milik keluarga Pandawa, yang dulu di sembunyikan oleh leluhur mereka. Dia sengaja menyembunyikan harta milik keluarganya untuk dijadikan harta Karun," jelas Sam untuk kesekian kalinya.


"Mana mungkin anak-anak kecil itu bisa menemukan harta yang sudah disembunyikan hampir seratus tahun itu!" kata Kepala Kepolisian di sana.


"Ya, tentu saja karena ada peta harta Karun yang dimiliki oleh mereka," jawab Sam lagi.

__ADS_1


"Karena ini adalah barang penemuan maka akan jadi milik negara," lanjut si Kepala Polisi tadi dan di iyakan oleh kedua bawahannya.


"Sudah berapa kali saya bilang, batu-batu permata itu adalah harta milik keluarga Pandawa, yang sengaja di sembunyikan agar anak cucu mereka memiliki daya pikir yang tinggi untuk memecahkan teka teki di kertas peta harta Karun itu," Sam menunjuk ke kertas dan buku catatan yang ada di atas meja.


"Tidak ada bukti yang menyebutkan bahwa batu-batu permata itu milik keluarga Pandawa," kata Kepala Polisi lagi dengan wajahnya yang sudah merah, karena menahan marah.


    Sam sudah pusing dengan ke keras kepalaan Kepala Polisi itu. Dia pikir nggak akan sulit untuk membawa barang-barang milik Tuan kecil keluarga Pandawa itu. Tas ransel milik Shinta tidak jadi masalah karena isinya tidak ada apa-apa. Beda dengan tas ransel milik Rama yang isinya batu-batu permata langka, karena itu harta Karun yang didapatnya kemarin.


   Sam pun menghubungi Kepala Pelayan keluarga Pandawa, dan membicarakan masalah yang telah terjadi saat ini. Dia meminta bantuan pada Kepala Pelayan yang mengetahui tentang harta Karun peninggalan Tuan Batara, leluhur Pandawa.


    Sekitar setengah jam kemudian, Kepala Pelayan keluarga Pandawa dan Tuan Besar keluarga Pandawa, Bisma. Datang ke kantor polisi, bersama beberapa pengawal.


"Kakek Bisma!" teriak Rama dan Shinta memanggil kakek buyutnya.


     Bisma yang dipanggil namanya memalingkan kepalanya ke kanan dan ke kiri mencari sumber suara yang memanggilnya. Saat dilihat ada cucu buyutnya yang sedang duduk di kursi tunggu, maka Bisma dan yang lainnya menghampiri Rama dan Shinta yang berlari ke arahnya.


"Kalian berdua sedang apa di sini?" tanya Bisma kepada Rama dan Shinta yang kini berada dalam pelukannya.


"Oh, katanya kalian berhasil menemukan harta Karun yang disembunyikan oleh Paman Batara, ya?!" kata Bisma sambil tersenyum ke arah kedua anaknya Adji.


"Iya, kita berhasil menemukannya di dalam gua yang ada di belakang air terjun," jawab Rama dengan antusias.


"Wah, kalian berdua hebat bisa menemukan harta Karun di sana! Dulu saja Kakek tidak bisa menemukannya," kata Bisma dengan penuh kebanggaan terhadap si kembar.


"Jadi Kakek Bisma dulu juga mencari harta karun itu?" tanya Rama dan Shinta penuh antusias.


"Oh, tentu Kakek dan Kakek Pandu mencari harta Karun itu," jawab Bisma dengan menganggukkan kepalanya.


"Bukan hanya Kakek Bisma saja yang mencari harta karun itu. Kakek kalian yaitu Nakula dan Sadewa juga mencarinya," lanjut Bisma sambil tersenyum bahagia.

__ADS_1


"Apa waktu dulu, Kakek Bisma menemukan harta karunnya?" tanya Rama penasaran.


"Ya, tentu saja," kata Bisma.


Kemudian ada seorang polisi yang mendatangi mereka, dan meminta Bisma untuk ikut dengannya.


"Kalian tunggu di sini jaga cucuku!" perintahnya kepada dua Bodyguard yang mengikutinya.


"Baik Tuan Besar!" jawab keduanya kompak.


    Bisma dan Kepala Pelayan masuk ke dalam ruangan dimana Sam berada. Disana ada Sam dan tiga orang polisi.


"Selamat pagi Tuan Bisam, apa kabar?" tanya Kepala Polisi sambil menyambut kedatangan Bisma dan Kepala Pelayan.


"Baik. Aku dengar kalian menahan tas ransel milik cucu buyutku, karena ada harta karun penemuan mereka," balas Bisma.


"Benar, batu-batu permata ini sangat langka dan dalam jumlah yang sangat banyak," kata Kepala Polisi kepada Bisma sambil memperlihatkan batu permata itu.


"Mungkin kalian tidak tahu, kalau di keluarga Pandawa, ada sebuah tradisi yang mengharuskan para calon pewaris untuk memecahkan misteri yang ada di keluarga Pandawa sejak zaman dahulu. Bahkan saat negara ini masih berbentuk kerajaan." Bisma duduk di kursi yang bersisian dengan Sam, dan melihat batu Ruby warna merah.


"Kalian tahukan kalau keluarga Pandawa itu dulunya adalah keluarga kerajaan Zamrud. Kekayaan yang melimpah sehingga sering membuat iri kerajaan lain. Jadi hal wajar jika kami masih memiliki harta-harta peninggalan leluhur kami. Contohnya adalah batu-batu permata ini." Bisma memegang beberapa batu permata itu di tangannya.


"Paman Batara, sengaja membuat harta Karun itu saat aku baru lahir ke dunia ini. Saat aku dan kembaranku berusia sepuluh tahun, kami diminta untuk mencari harta Karun yang disembunyikan oleh Paman Batara itu," kata Bisma mulai bercerita.


******


JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH DAN VOTE NYA JUGA YA.


DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.

__ADS_1


TERIMA KASIH.


__ADS_2