
Adji, Alice,dan David masih berada di rumah milik Neneknya Dewa. Mereka tidak tahu kalau Si Kembar itu sedang diculik oleh Basudewa. Adji penasaran dengan sosok Paman dan kembarannya Dewa. Dimasukinya sebuah kamar yang disana banyak sekali buku-buku tentang bisnis. Bagaimana caranya agar menjadi orang sukses. Atau membuat usaha agar lebih maju lagi.
" Sepertinya dia itu ingin menjadi pengusaha sukses." Kata Adji sambil melihat judul-judul buku yang berada di rak buku.
" Apa kamar ini milik Basudewa?" Tanya David kepada Adji.
" Mungkin saja? Aku juga baru tahu ada orang ini!" Jawab Adji sambil matanya tetap menelisik apa yang ada di dalam kamar itu.
" Apa Pamannya itu seorang pengusaha?" Tanya Alice kepada David sambil menyodorkan sebuah artikel di sebuah surat kabar yang beredar pada masa lampau. Koran itu sudah menjadi kuning kusam warnanya.
" Ya, Pamannya itu pengusaha kelas menengah, karena dia merintis dari awal." Jawab David.
" Justru aku kurang tahu dengan Dewa dan Basudewa secara pribadi." Kata David lagi.
" Coba aku lihat artikelnya, istriku!" Pinta Adji kepada Alice sambil mengulurkan tangannya.
" Sepertinya aku pernah melihat gedung perusahaannya?" Tanya Adji kepada dirinya sendiri.
" Bukannya itu salah satu gedung yang ada di dekat gedung perusahaan PANDAWA?!" Pekik Alice.
" Oh, benar. Gedung ini tidak jauh dari gedung perusahaan milikku!" Kata Adji baru ingat kalau ada orang yang membuat gedung perusahaan tak jauh darinya saat Adji baru memasuki dunia bisnis.
" Jadi selama ini mereka selalu bisa mengawasiku disekitar perusahaan juga, karena di punya perusahaan di sekitar sana?" Tanya Adji dengan suara yang pelan.
" Wah, ternyata mereka benar-benar tidak mau melepaskan dirimu dari pengawasannya, ya!" Kata David sambil tersenyum miring.
" Sekarang perusahaan itu dipegang oleh Basudewa?" Tanya Adji kepada David sambil memandangnya tak percaya.
" Ya, menurut informasi yang aku tahu, seperti itu. Karena hanya tinggal dia satu-satunya ahli warisnya." Jawab David.
" Apa semua yang merencanakan semua ini adalah Basudewa, ya?" Tanya Adji pada dirinya, sambil terus memikirkan beberapa kejadian yang menimpanya.
" Aku akan ambil beberapa barang disini!" Kata Adji sambil membawa album foto dan artikel koran tadi. Dan David pun mengizinkannya.
__ADS_1
" Suamiku, apa kamu tidak mau masuk ke kamar milik Dewa?" Tanya Alice kepada Adji yang masih memperhatikan kamar Basudewa.
" Oh, iya. Aku juga harus memeriksanya!" Pekik Adji karena tujuan utamanya hampir lupa.
Kini Adji, Alice, dan David memasuki kamar sebelahnya. Di sana banyak buku pengetahuan umum, baik ilmu bisnis, kesehatan, psikologi, beladiri, kamus dan percakapan beberapa bahasa, ilmu otomotif, dan ilmu teknologi. Seperti yang diketahui oleh Adji, bahwa Dewa adalah orang yang pandai.
" Apa orang yang bernama Dewa itu, orang yang cerdas?" Tanya David saat dilihatnya ada beberapa foto Dewa yang memegang trofi juara, terpajang di dinding tembok kamarnya.
" Ya, dia orang yang cerdas!" Jawab Adji sambil membuka laci meja yang ada disana.
Adji mengeluarkan sebuah buku. Ternyata itu adalah buku harian atau catatan kegiatannya selama awal-awal Dewa tinggal di mansion. Adji membuka secara acak buku berukuran saku itu, dan membacanya sekilas. Lalu Adji juga membawa buku itu untuk dipelajarinya nanti dirumah.
" Suamiku, lihat ini! Bukannya ini kamu saat masih kecil?" Alice memberikan sebuah kotak yang isinya adalah foto Adji waktu masih bayi sampai usia remaja.
" Kenapa Paman Dewa selalu mengambil foto aku diam-diam seperti ini?" Tanya Adji.
" Aku rasa bukan Paman Dewa yang mengambil foto-foto itu!" Jawab Alice sambil memperlihatkan beberapa foto Adji sedang bersama Dewa di satu tempat.
" Atau dia adalah Basudewa?" Tanya Adji. Karena dulu Adji kadang-kadang merasa aneh dengan tingkah laku Dewa yang seolah jadi sering lupa atau salah dalam perkataannya sendiri.
" Brengsek! Ternyata kalian!"
Karena merasa ada yang aneh dengan kata-kata yang ditulis di dalam buku catatan milik Dewa saat membacanya sekilas tadi. Adji kembali mengeluarkannya dan kembali membaca apa-apa yang ditulis di catatan itu dengan seksama.
" Pantas saja aku selalu merasa ada dua orang dalam satu tubuh Dewa itu. Ternyata memang benar kalau dia dua orang yang berbeda!" Adji merasa geram sekarang kalau mengingat betapa dia percaya dan sayang kepada para bodyguardnya itu.
" Kenapa? Ada apa?" Tanya David saat melihat wajah Adji berubah menjadi marah.
" Ternyata mereka berdua itu, sering berganti peran dalam mengawasi aku selama ini!" Suara Adji sarat dengan kemarahan.
" Jadi maksudnya, kalau Basudewa itu sering menyamar menjadi Dewa untuk mengawasi kamu?" Tanya David.
" Lebih tepatnya, menyamar menjadi Dewa untuk membunuh aku!" Jawab Adji.
__ADS_1
" Apa???" Teriak Alice dan David secara bersamaan.
" Ya, yang selama ini ingin membunuhku adalah Basudewa. Dan Dewa itu yang berusaha mencegah pembunuhan terhadap diriku!" Kata Adji sambil mengeluarkan buku catatan tadi milik Dewa.
" Kenapa bisa begitu?" Tanya David tak mengerti.
" Karena dia beberapa kali selalu melindungi aku dengan mengorbankan dirinya. Tapi kadang dia tak benar-benar berjuang demi keselamatanku."
" Pernah suatu hari saat aku mengalami kecelakaan, Paman Dewa menangis meraung-raung karena tidak bisa menjagaku. Padahal saat itu aku sedang bersamanya, dan celaka di hadapannya. Tapi dia tidak menunjukan ekspresi apapun saat di tempat kejadian."
" Dan aku yakin sekarang kalau saat bersama Basudewa-lah aku selalu celaka." Kata Adji memberitahu apa yang ada di dalam pikirannya saat mengetahui kalau Dewa punya kembaran.
" Bagaimana kamu yakin kalau Basudewa yang saat itu bersama mu?" Tanya David.
" Dulu aku tidak mengerti dengan segala tindakan Paman Dewa. Sering sekali Paman Dewa memberitahuku ciri-ciri orang yang ingin berbuat jahat. Terus dia juga bilang padaku jangan terlalu bergantung dan percaya kepada dirinya. Dan yang paling aneh adalah dia mengajari aku untuk bisa membaca karakter seseorang, ternyata tujuannya agar aku tahu orang yang bersama dengan aku saat itu adalah dirinya atau bukan."
" Aku sering merasa kalau Paman Dewa itu punya dua kepribadian ganda. Karena aku merasa kalau dia adalah orang lain. Tapi aku sering menepisnya karena aku percaya dan sayang kepadanya."
" Jadi yang selama ini ingin membunuhmu itu adalah Pamannya Dewa dan Basudewa?" Tanya David kepada Adji. Dari semua informasi yang didapatnya selama berbicara dengan Adji, itulah kesimpulan yang di dapat oleh David.
" Ya, aku rasa seperti itu. Apalagi kini Paman Dewa sudah tidak ada. Jadi tidak ada yang bisa aku tanyai mengenai kebenaran ini." Tiba-tiba Adji mengeluarkan air mata kerinduan kepada bodyguard yang dulu selalu cerewet.
" Kenapa tidak tanya saja kepada Basudewa?"
*****
Kalau ada kalimat terasa aneh dan rancu, mohon dimaklumi aku menulis tengah malam, karena di kejar deadline.
*****
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.
__ADS_1
BUNGA ATAU KOPI JUGA BOLEH ITU MEMBUAT AKU MAKIN SEMANGAT LAGI.
TERIMA KASIH.