
Alice melihat kedua para Kakek manula itu sedang berdebat, hanya tersenyum saja. Kemudian Alice mengajak kedua orang itu memasuki sebuah kamar yang sangat luas disana.
" Ini, kenapa ada lukisan keluarga kita disini?" Tanya Bisma dan Pandu bersamaan saat melihat lukisan keluarganya yang begitu besar.
Keduanya malah saling pandang, kemudian tertawa karena sejak tadi mereka selalu memikirkan hal sama dalam pikiran dan hati mereka.
" Apa mereka itu keluarga Pandawa?" Tanya Alice sambil melihat pasangan suami istri dan kedua putra kembarnya.
" Iya, itu lukisan keluarga kami. Bahkan aku tidak tahu kapan lukisan itu dibuat," jawab Pandu.
" Tapi sepertinya aku ingat saat foto itu diambil. Kamu tahu Paman Batara, adiknya ayah? Dialah yang telah mengambil foto ini!" Tunjuk Bisma pada lukisan raksasa yang ada di depannya.
" Ah! Benar, aku ingat dengan Paman Batara. Tapi dia sudah lama sekali meninggalnya kan?" Tanya Pandu sambil melihat ke arah saudara kembarannya, Bisma.
" Iya, dia meninggal … " Bisma menghentikan omongannya saat mengingat sesuatu.
" Pandu kamu tahu kenapa kedua orangtua kita menyuruh jangan pernah ada orang lagi yang menginjakan kaki di lantai tiga ini?!" Pekik Bisma saat dirinya baru sadar akan sesuatu yang sangat penting itu.
" Memangnya ada apa di lantai tiga ini?" Pandu malah menjadi penasaran dengan alasan kedua orang tuanya melarang mereka datang kesini.
" Karena Paman Batara dan kekasihnya meninggal di sini. Lebih tepatnya di kamar Paman Batara, yang ada di depan kamar ini!" Bisma menunjuk ke arah luar dari kamar yang sedang dimasuki olehnya sekarang.
" Benarkah ada kejadian seperti itu?" Tanya Pandu tak tahu pernah ada kejadian seperti itu dulu.
" Apa kamu tidak ingat dengan kejadian yang sangat menghebohkan pada malam itu saat … " Bisma yang sedang bercerita dengan semangatnya malah kembali terdiam.
__ADS_1
" Yah, kamu nggak akan tahu kejadian malam tragis itu. Karena saat itu kamu sedang berada di rumah sakit. Untuk menerima perawatan yang intensif akibat dari alergi makan udang." Lanjut Bisma sambil melihat ke arah Pandu. Bisma ingat malam berdarah itu, dan dia ketakutan sendirian di dalam kamarnya saat mendengar teriakan dan suara tembakan dari dalam kamar Pamannya yang berada tepat di depannya.
Bisma mengalami shock berat saat itu, karena dia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri saat ayahnya menembakan peluru dari pistol yang sedang berada di tangannya, kepada seorang laki-laki asing.
" Memangnya, siapa lelaki asing itu?" Tanya Pandu.
" Aku juga tidak tahu," jawab Bisma.
" Lalu, kenapa ayah menembaknya?" tanya Pandu.
" Jelaslah dia kan penyusup, sudah masuk kedalam rumah kita tanpa diundang." jawab Bisma.
" Apa bukan karena hal lainnya? Mana mungkin ayah bertindak seperti itu, walau laki-laki itu seorang penyusup!" Pandu berjalan ke kamar yang ada di depannya.
Saat pintu itu dibuka, tampak sebuah kamar yang lumayan luas, atau sama luasnya dengan kamar yang tadi dimasuki oleh mereka. Di dalam kamar itu, ada sebuah foto laki-laki dan perempuan yang disimpan di meja nakas yang berada di samping tempat tidurnya. Pandu membawa pigura yang berisi foto pasangan itu, dan dilihatnya dengan seksama.
" Iya, aku rasa dia sedang bersama dengan kekasihnya."
Alice melihat lihat kamar yang mereka panggil dengan Paman Batara. Di kamar itu masih terlihat jelas ada noda-noda darah di lantai dan dinding di dekat kaca jendela. Sepertinya saat malam terjadi insiden itu, ada orang yang berdiri di dekat jendela dan dia dibunuh sampai-sampai darahnya muncrat ke dinding dan lantainya.
Sedangkan Bisma membuka beberapa buku yang ada di meja belajar yang ada seberang tempat tidur. Karena Batara saat meninggal dulu, dia adalah seorang mahasiswa yang akan melangsungkan wisudanya dalam waktu tiga hari lagi. Jadi banyak buku-buku pelajaran dan catatan yang masih ada disana. Bisma lupa-lupa ingat dengan wajah Batara, karena saat Batara meninggal dia dan Pandu baru berusia empat tahunan.
Pandu membuka laci yang ada di meja nakas, dan di dalam sana ada sebuah kotak perhiasan dan buku harian milik wanita bernama Aurora. Pandu membaca buku harian itu, sambil duduk disamping tempat tidur.
Di buku harian itu dia menceritakan, kalau dirinya dipaksa oleh keluarganya untuk menjadi kekasih dari Batara. Hanya untuk bisa menikmati kekayaan dari keluarga Pandawa. Walaupun akhirnya dia benar-benar jatuh cinta kepada Batara, karena kebaikan hatinya dan perhatiannya. Wanita itu tidak mau menuruti keinginan keluarganya, saat disuruh oleh ayahnya untuk menipu Batara. Dengan menandatangani sebuah dokumen pengalihan kekayaan warisan Batara kepada keluarganya. Sehingga hubungan keduanya ditentang oleh keluarga wanita itu. Bahkan wanita itu kerap disiksa oleh ayah dan kakak laki-lakinya, bila ketahuan bersama dengan Batara. Karena sudah tidak kuat dengan siksaan dari keluarganya, wanita itu kabur dari rumahnya dan bersembunyi di rumah Batara.
__ADS_1
" Jangan-jangan laki-laki asing itu adalah ayah atau kakak laki-laki dari kekasih Paman Batara!" Suara Pandu yang tiba-tiba dan tinggi, membuat Bisma dan Alice terkejut. Sehingga kedua orang itu langsung mengalihkan penglihatannya ke arah Pandu yang tiba-tiba berdiri.
" Lihatlah, kekasih Paman Batara punya sebuah buku harian yang disimpannya di dalam laci bersama dengan sebuah cincin!" Pandu memperlihatkan buku yang ada di tangannya kepada Bisma.
" Apa kamu sudah membaca semua yang ditulis dalam buku ini?" tanya Bisma sambil membuka lembaran-lembaran buku harian itu.
" Hanya sebagian, kalau kamu mau tinggal baca saja sendiri. Buku harian milik orang yang sudah mati itu," jawab Pandu sambil tertawa terkekeh saat Bisma membelalakan matanya.
Bisma pun membaca buku harian milik kekasih Batara. Ternyata wanita itu putri dari seorang pengusaha kecil yang mempunyai sebuah pabrik kertas di kota Diamond. Karena mereka kekurangan pemasok modal, maka mereka memanfaatkan kecantikan putrinya untuk menjadi kekasih dari Batara. Agar mereka bisa mengeruk harta kekayaan Pandawa.
" Hei, jangan bilang kalau wanita yang kamu hamilin itu juga merupakan keluarga mereka?!" Bisma mengalihkan pandangannya ke arah Pandu yang berdiri didepan lemari buku milik Batara.
" Aku rasa bukan, karena firasat ku mengatakan demikian!" Pandu menggoyangkan tangannya tanda menolak dengan apa yang ada di pikiran Bisma.
" Maaf, Kakek Bisma ....," Alice mendatangi Bisma sambil membawa sebuah kalung berliontin yang bisa dibuka. Didalamnya ada foto Batara dan kekasihnya.
" Ini aku temukannya di bawah sana!" Alice menunjuk ke arah gorden yang berada di dekat kaca jendela yang ada bekas darah di dindingnya.
" Sepertinya ini punya Paman Batara," kata Bisma.
*****
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH DAN VOTE NYA JUGA YA.
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.
__ADS_1
TERIMA KASIH.