Mamaku Wanita Super & Papaku Super Genius

Mamaku Wanita Super & Papaku Super Genius
#BAB 74


__ADS_3

   Rama bangun dari rebahannya, kemudian dia membangunkan Shinta yang sedang tertidur pulas.


"Shinta … bangun!" Rama menggoyangkan lengan Shinta agar cepat bangun.


"Hm … ada apa?" tanya Shinta matanya masih terpejam, karena masih ngantuk.


"Ayo kita lanjutkan mencari harta karunnya!" ajak Rama sambil membereskan barang bawaannya.


"Masih ngantuk, lima menit lagi!" ucap Shinta.


"Ayo buruan nanti keburu sore … !" Rama langsung berdiri dan Hanoman pun terbangun karena gerakan yang tiba-tiba dari Rama.


Uu-uu-uu …


"Ayo Hanoman! Biarkan saja Shinta di sini! Paling nanti di temani sama si Nyai," kata Rama yang mulai kesal, karena Shinta itu selalu sulit kalau dibangunkan.


   Rama pun berjalan bersama Hanoman yang mengekorinya di belakang kadang berlari mengejarnya, kemudian terdiam menunggu Rama sampai berjalan melewatinya.


"Rama! Tunggu!" Shinta yang masih mengumpulkan nyawanya pun harus lari pontang-panting, karena sudah tertinggal jauh dari Rama.


   Rama masih saja jalan terus, sengaja tidak menunggu Shinta. Dia tahu kalau menunggu Shinta bangun, entah sampai kapan. Jadi Rama sering meninggalkannya, yang penting dia sudah membangunkannya. Biar jadi pelajaran buat Shinta, kalau dibangunkan itu harus cepat-cepat bangun.


   Shinta yang berlari pun, akhirnya bisa mengejar juga. Dengan napas yang terputus-putus Shinta berjalan di samping Rama yang tersenyum mengejek ke arah Shinta.


"Rama memangnya kamu sudah tahu, dimana letak harta karun itu?" tanya Shinta sambil melihat ke arah kembarannya itu.


"Iya, aku sudah tahu!" jawab Rama sambil menarik tangan Shinta agar jalannya lebih cepat.


"Apa kamu tahu, ternyata ada orang lain yang terlebih dahulu mencari harta karun itu, selain kita!" kata Rama sambil menunjuk ke arah tanda bintang di kertas peta itu.


"Oya? Siapa?" tanya Shinta penasaran siapa yang sudah pernah mencarinya terlebih dahulu.


"Para orang tua kita ... Seperti kotak harta karun tadi yang isinya mainan milik Kakek Nakula dan Kakek Sadewa," jawab Rama sambil tersenyum geli saat melihat wajah Shinta yang terbengong karena terkejut baru menyadarinya.


"Ah, iya. Kenapa kita tadi tidak kepikiran kalau Kakek Nakula dan Kakek Sadewa juga pernah mencari harta karun ini," kata Shinta dengan suaranya yang pelan.


"Walau begitu mudah-mudahan harta katun yang asli milik Kakek Batara ini masih ada di tempatnya," kata Rama sambil berjalan cepat ke arah sebuah tebing yang tinggi dan ditumbuhi dengan tumbuhan merambat. 

__ADS_1


    Kemudian Rama berjalan sambil mengarahkan sekopnya ke dinding tebing itu, mencari mulut gua. Seperti yang ada di gambar peta itu. Akhirnya Rama dapat menemukan mulut gua yang tertutup oleh tumbuhan merambat.


"Rama apa benar harta karunnya ada di dalam gua ini?" tanya Shinta saat mereka berhasil menemukan mulut gua-nya. Ada beberapa batu lumayan cukup besar yang berada di samping mulut gua.


"Iya, dari tiga tempat harta karun yang disembunyikan. Salah satunya ada di dalam gua ini," jawab Rama sambil memandangi mulut gua yang tidak terlalu besar lubangnya. Meski begitu orang dewasa berbadan besar masih bisa memasukinya.


  Gua itu berada di tengah-tengah tebing yang sangat curam, dan banyak tumbuhan merambat yang tumbuh di dindingnya. Jika mata kita tidak jeli maka mulut gua itu tidak akan kelihatan, karena terhalang oleh tumbuhan merambatnya.


"Ayo, kita masuk!" Ajak Rama sambil menyalakan senter di jam tangannya.


Uu-uu-uu …


   Hanoman melompat-lompat minta digendong sama Rama. Mau nggak mau, Rama menggendong Hanoman, di depan. Namun Hanoman malah memutar ingin di gendong di belakang. Jadinya Rama memindahkan ranselnya kedepan dan Hanoman nempok di punggungnya. 


"Shinta ayo, mau ikut masuk nggak?!" tanya Rama saat melihat Shinta hanya diam mematung di depan mulut gua.


"Di dalam ada hantunya nggak?" Shinta malah balik bertanya dengan wajahnya yang tegang.


"Nggak paling juga ada kelelawar penghuni gua," jawab Rama sambil berjalan masuk ke dalam gua.


"Kalau begitu ada drakula di dalam?!" teriak Shinta yang masih berdiri di luar gua.


   Mendengar kata Rama barusan, akhirnya Shinta berlari kedalam gua menyusul Rama. Daripada digigit manusia serigala sendirian mending digigit drakula bersama Rama.


"Rama tunggu, jangan tinggalin aku!" suara Shinta yang sangat nyaring itu bergema di dalam gua, sehingga membuat beberapa hewan yang ada disana terusik.


   Rama dan Shinta berjalan di dalam gua yang gelap. Hanya cahaya dari senter jam tangannya yang menjadi sumber penglihatan bagi mereka. Rama berjalan pelan-pelan sambil mengarahkan cahaya di jam tangannya untuk mencari tanda bintang.


   Untungnya jalan di dalam gua cuma ada satu, jadi tidak takut akan tersesat. Sampai akhirnya mereka menemukan jalan buntu.


"Sepertinya ini gua sampai di sini!" kata Rama sambil mengarahkan cahaya dari jam tangannya ke segala penjuru di dalam gua. Shinta pun mengikuti hal yang Rama lakukan.


"Rama apa ini tanda bintangnya?!" Shinta mengarahkan cahaya di jam tangannya pada gambar bintang di dinding gua.


"Iya sepertinya begitu," kata Rama sambil ikut mengarahkan cahaya di jam tangannya pada tanda bintang yang di maksud oleh Shinta.


"Jadi kamu akan menggalinya?" tanya Shinta penasaran saat melihat Rama diam saja tak bergerak.

__ADS_1


"Kalau kita membuat kegaduhan di sini apa kelelawar itu akan diam saja?" tanya Shinta kembali saat melihat Rama mengarahkan cahaya senternya ke sekumpulan kelelawar yang menggelantung di atas dinding gua.


"Ya, aku rasa mereka sedang tertidur jadi jangan membuat mereka terbangun," jawab Rama sambil menurunkan Hanoman yang masih nemplok di punggungnya. Namun Hanoman tidak mau turun juga. Jadi dia membiarkannya tetap nemplok di punggungnya.


   Rama pun menggali tanah di bawah tanda bintang. Seperti biasa hampir sepuluh menit, akhirnya Rama dapat menemukan kotak harta karun yang di tanam di dalam tanah. Dengan cepat dan semangat membara, Rama melanjutkan penggaliannya sampai kotak itu diangkat ke atas olehnya.


"Cepat buka! Apa isi dari kotak itu?!" Shinta seperti biasa sudah tidak sabaran ingin melihat isi dari kotak harta karun itu.


   Rama pun membuka gembok kotak harta karunnya dengan batu. Saat kotak itu di buka oleh Rama, dan Shinta mengarahkan cahaya senternya ke kotak harta Karun itu, isinya adalah sebuah kertas bergambar karya anak kecil, karena jelek dan pewarnaannya yang kacau.


   Rama kemudian mengangkat kotak itu, kalau masih ada kunci rahasia lainnya. Ternyata sudah tiga kali kotak itu di bolak-balik, tetap saja tidak ada kunci rahasia lainya.


   Kini Rama membuka kertas satunya lagi, ternayata sebuah surat yang tulisannya adalah ...


Harta Karunnya Sudah Aku Ambil.


Kalau mau, ambil saja ke rumah keluarga Pandawa.


   Dua kalimat dengan gaya tulisan yang berbeda. Sampai mata Rama terbelalak saat melihat ada beberpa nama di bawah kertas tadi.


Adji, Baladewa, Balaram,


"Akh … sepertinya Papa juga pernah melakukan pencarian harta karun ini," kata Rama dengan teriakan frustasi saat mengetahui sebuah kebenarannya.


"Benarkah?! Darimana kamu tahu kalau Papa juga pernah mencari harta karun ini?" tanya Shinta tak percaya.


"Nih lihat ada nama Papa dan si Kembar Balaram dan Baladewa yang ditulis di kertas itu," kata Rama sambil menyerahkan kertas bergambar anak kecil dan kertas yang menuliskan pesan harta karunnya sudah mereka ambil.


"Hahaha ... lucu juga, ya. Ternyata kita capek-capek mencari harta karunnya ternyata sudah di ambil sama Papa!" Shinta tertawa renyah saat mengetahui itu, berbeda dengan Rama yang merasa jengkel.


*******


JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.


DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.


TERIMA KASIH.

__ADS_1


   


__ADS_2