
Beberapa saat sebelumnya….
Rama sedang duduk sambil membaca buku harian milik Baladewa. Dia begitu fokus pada tulisan - tulisan di buku itu.
Bulan Februari, tanggal 14, tahun xxxx.
Hari ini aku dan Balaram pergi ke tempat balapan. Dan saat di perjalanan ada sebuah kendaraan yang mencurigakan.
Kata Balaram kendaraan itu telah tiga kali mengikuti kami.
Aku membiarkannya tetapi terus mengawasinya. Karena ada kemungkinan itu cuma kebetulan saja.
Bulan Februari, tanggal 21, tahun xxxx
Saat kami bertiga pergi ke perpustakaan kota atas ajakan Adji, aku melihat lagi kendaraan itu yang selalu mengikuti kita. Saat aku percepat lajunya, dia pun mempercepat kendaraannya.
Dari sana aku mulai curiga kalau kita selalu diikuti oleh seseorang. Tapi siapa dia? Kecepatan dan manuver dalam menjalankan kendaraannya bukan kelas Teri. Tetapi dia sudah kelas Paus.
Bulan Maret, tanggal 3, tahun xxxx
Ada seseorang yang berusaha memepet kendaraan yang aku dan Balaram Naomi. Kami saling beradu body mobil. Dan saling kejar - kejaran tinggi di dalam kota.
Aku penasaran dengan wajah orang yang berada di dalam mobil. Karena itu aku melambatkan laju kendaraan di saat mobil itu menyalip. Tapi dia tidak terlihat dengan jelas wajahnya itu. Dia memakai topi dan kaca mata hitam.
Bulan Maret, tanggal 17, tahun xxxx
Setelah kejadian terakhir itu, kami tidak pernah lagi bertemu. Dan kita sekarang bertemu kembali di parkiran gedung pencakar langit milik perusahaan Pandawa.
Aku dan Balaram saling pandang saat melihat mobil itu. Dan akhirnya aku minta pada Adji alat pelacak untuk dipasang di mobil itu.
Bulan Maret, tanggal 20, tahun xxxx
Aku membuntuti mobil itu menggunakan motor. Dan ternyata mobil itu masuk ke sebuah rumah yang mewah dan megah.
Aku menunggu tidak jauh dari sana sampai dua jam lebih. Tetapi mobil itu tidak keluar lagi.
Bulan Maret, tanggal 30, tahun xxxx
Lagi - lagi mobil itu mengikuti kami. Karena aku sudah muak dikuntit terus olehnya. Maka saat di tengah jalan, aku memutar mobilku berlawanan arah dan aku tabrakan mobilku ke mobilnya.
Sampai mobil itu berputar saking kerasnya aku menabrak mobilnya. Dan akhirnya mobil itu terbalik.
Aku lihat seseorang keluar dari mobil itu. Dan saat aku putar balik lagi mobilku untuk menabraknya.
Betapa terkejutnya aku saat melihat wajahnya. Mana mungkin orang yang sudah mati bisa hidup kembali.
__ADS_1
Tanpa aku sadari ada mobil lainnya yang menabrak mobilku dari belakang. Kemudian membawa laki - laki itu pergi.
*****
Ketika sedang asik membaca, Rama dikejutkan oleh Alice. Yang datang bersama Shinta.
" Dar!" Teriaknya keduanya kemudian duduk di sisinya.
" Rama kamu sedang apa?" Tanya Alice sambil tersenyum.
" Mama, ngagetin saja! Rama sedang membaca buku harian milik mendiang Paman Baladewa." Rama menunjukan buku yang sedang dipegangnya.
" Apa yang tertulis di sana?" Tanya Alice penasaran.
" Paman Baladewa, menulis tentang dirinya, merasa selalu ada yang mengikuti."
" Dia dan orang itu sering kejar - kejaran. Dan suatu hari, Paman Baladewa memutar balik balik mobilnya dan dia tabrak mobil yang selalu menguntitnya itu. Ternyata orang di dalam mobil itu adalah orang yang disangka telah lama meninggal dunia oleh Paman Baladewa."
" Maksud kamu orang yang meninggal bisa hidup lag!" Shinta langsung pucat saat mendengarnya.
" Kurasa bukan begitu. Tapi orang yang diberitakan telah lama mati, ternyata masih hidup." Jelas Rama.
" Wah, ngeri juga yah. Kita bertemu dengan orang yang dikira sudah mati ternyata masih hidup." Alice mengusap tengkuknya.
" Kira - kira siapa dia?" Tanya Alice pada Rama.
" Dari mana kamu tahu dia ahli balapan?" Alice bertanya kembali.
" Karena itu diceritakan dalam buku harian, kalau mereka sering kejar - kejaran. Kan Paman Baladewa itu seorang pembalap." Jawab Rama.
" Papa sedang apa, Mah?" Rama menyimpan buku harian itu di atas mejanya.
" Papa kalian dan Sam sedang menyelidiki tengkorak yang kalian temukan di lorong rahasia itu." Alice berkata sambil membuka - buka lembaran kertas di buku harian Baladewa.
*****
Sementara itu Adji dan Sam sedang berada di sebuah ruangan laboratorium. Mereka sedang memeriksa kerangka tengkorak yang dibawanya dari lorong rahasia.
" Max, apa kamu bisa mencari tahu kerangka ini milik siapa?" Tanya Adji pada temannya itu.
" Ya, aku rasa bisa." Jawab Max.
" Aku ingin secepatnya mengetahui identitas dia!" Adji sudah tidak sabar ingin tahu tengkorak itu milik siapa.
" Ya, akan aku usahakan besok sudah keluar hasilnya." Max berkata sambil memeriksa tengkorak itu dan mengambil sampel untuk tes DNA nya.
__ADS_1
" Aku mengandalkanmu!" Adji menepuk bahu Max.
" Kalau begitu aku pergi dulu." Adji dan Sam pamit kepada Max.
" Ya, berhati - hatilah kamu terhadap orang disekitarmu."
" Karena orang ini dibuat mati tanpa melukainya!" Lanjut Max.
" Maksud kamu?" Tanya Adji tak mengerti.
" Orang ini mati bukan karena dibunuh menggunakan alat. Karena tidak ada kerusakan pada kerangka tulangnya." Jawab Max.
" Maksud kamu, ada kemungkinan orang ini mati karena diberi racun?" Adji berpikir seperti itu karena dia juga sering jadi korban yang diberi racun dalam makanan atau minumannya.
" Iya, aku juga berpikir seperti itu. Nanti sekalian akan aku periksa penyebab kematiannya!" Max mengakhiri pembicaraannya.
Adji dan Sam pergi meninggalkan laboratorium itu.
" Sam tolong kamu bantu Abimanyu. Untuk menghapus rekaman CCTV yang merekam anak - anak yang sedang keluar masuk lorong rahasia." Perintah Adji.
" Baik Tuan Muda!" Sam pun pergi menjalankan tugasnya.
******
Adji dan Alice sedang membahas identitas keempat orang bodyguard itu.
" Suamiku, apa sebaiknya kita bertanya kepada Kakek Bisma. Tentang orang - orang ini?" Alice mengacungkan laporan dari Sam tadi.
" Aku ragu, apa nanti Kakek akan curiga padaku. Kalau aku sedang menyelidiki sesuatu. Dan itu akan menghambat kebenaran yang ingin aku ungkapkan." Kata Adji pada Alice.
" Kalau begitu bagaimana kalau aku yang bertanya saja pada Kakek Bisma. Pura - pura tidak tahu tentang orang - orang yang ada di foto itu?" Alice memberikan idenya.
" Aku takut kamu kenapa - kenapa. Karena keingintahuan kamu, justru itu yang akan mencelakaimu!" Adji menolak ide dari Alice.
" Dengar istriku, sekarang ini penghuni di mansion ini tidak ada yang bisa kita percayai. Jadi jangan melakukan hal yang dapat memancing kecurigaan orang lain kepada kita." Lanjut Adji lagi.
" Kita selidiki pelan - pelan apa yang sudah terjadi disini." Adji memegang pipi Alice dan menciumnya.
" iya, suamiku. Aku akan berhati - hati mulai sekarang." Kata Alice dengan pipi yang sudah merona akibat dari serangan ciuman di wajahnya oleh suaminya itu.
******
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.
KASIH JEMPOL YANG BANYAK.
__ADS_1
DUKUNG AKU TERUS YA.
TERIMA KASIH.