Mamaku Wanita Super & Papaku Super Genius

Mamaku Wanita Super & Papaku Super Genius
#BAB 71


__ADS_3

   Menjelang tengah hari Rama dan Shinta melanjutkan lagi perjalanan mereka. Karena tempat yang dilihat di kertas peta itu jarak nggak terlalu jauh. Ada kemungkinan mereka akan berjalan lebih dari satu jam, seperti tadi dari villa ke tiga batu besar itu.


   Sesungguhnya perjalanan ini diluar rencana mereka. Apalagi ternyata yang membuat peta itu sungguh jahil, keterangan di setiap gambar tidak sesuai dengan kenyataannya. Jarak yang begitu dekat ditulis berjalan ke arah … maka kamu akan menemukan ….


   Rama dan Shinta berjalan sambil bergandengan, karena dataran tanahnya tidak stabil kadang datar, dan kadang menurun. Rama menggandeng tangan Shinta dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya membawa sekop tadi. Jaga-jaga kalau nanti mau menggali harta karun yang terpendam. Dilihat dari petanya masih ada tanda bintang.


"Rama keterangan tempat selanjutnya, apa?" tanya Shinta sambil mengikuti.


"Sepertinya disini ditulis danau, walau gambarnya tidak mirip danau sama sekali," jawab Rama sambil melepaskan genggaman tangannya pada Shinta.


"Apa masih lama,ya danau itu terlihat?!" tanya Shinta sambil melihat ke arah Rama, dengan wajahnya yang sudah kelelahan.


"Baiklah kita istirahat dulu disini!" ajak Rama sambil berjalan ke dekat pohon yang rindang, agar panas dan cahaya mataharinya terhalangi.


"Aku lapar," kata Shinta sambil melihat ke arah Rama.


" Kamu tadi bekal apa saja? Masa sudah habis?!" tanya Rama sambil mengeluarkan biskuit rasa coklat kesukaannya.


"Tiga buah roti, dan tadi habis dimakan semuanya saat sarapan," jawab Shinta sambil menerima biskuit dari Rama.


"Kalau begini, kita harus mencari makanan di dalam hutan ini," kata Rama sambil menikmati biskuit coklatnya.


"Kalau begitu sehabis makan ini, kita cari buah-buahan yang bisa kita makan," ajak Shinta dan diangguki oleh Rama.


    Setelah selesai makan biskuit yang tak seberapa banyaknya. Akhirnya Rama dan Shinta menelusuri pohon-pohon yang ada disana. Mencari pohon yang sedang berbuah. Setelah menemukan pohon yang sedang berbuah lebat. Maka Rama pun menaikinya, sedangkan Shinta memungutinya dari bawah. Kira-kira sudah mendapatkan buah secukupnya. Mereka berdua melanjutkan lagi perjalanannya.


    Karena cuaca cerah dan kelelahan akibat berjalan mencari buah-buahan, kedua anak kembar itu pun tertidur di dekat hamparan rumput yang hijau. Apalagi angin sepoi-sepoi yang menerpa tubuh mereka berdua, terasa membuainya. Kedua anak itu tertidur lebih dari satu jam. Bahkan saking pulasnya mereka tidur, tidak sadar buah-buahan yang telah mereka kumpulkan tadi diambil oleh tupai dan monyet yang ada disana.


"Hm … " Rama merasa terusik tidurnya disaat ada yang menarik tasnya.


   Mata Rama langsung terbuka lebar saat dihadapannya ada tiga ekor monyet yang sedang memakan buah-buahan yang tadi mereka petik. Dengan cepat Rama menarik kembali tas ransel miliknya.


"Shinta bangun!" Teriak Rama sambil melepaskan buah-buah tadi jauh agar dikejar oleh monyet-monyet itu.


"Hm … ada apa?" tanya Shinta yang masih belum sadar seutuhnya. Nyawanya belum terkumpul semua, jadi linglung dia.


"Monyet-monyet itu mencuri bekal kita!" teriak Rama kepada Shinta yang masih saja bengong dan duduk ditempatnya.


"Monyet?!" kata Shinta baru sadar dengan apa yang aku ucapakan.


"Kenapa ada monyet disini?" tanya Shinta sambil melempari monyet itu dengan batu.

__ADS_1


"Kenapa kamu melempari mereka dengan batu?!" teriak Rama dengan panik, bagaimana kalau monyet-monyet itu malah menyerang mereka berdua.


"Lalu dengan apa?" balas Shinta juga dengan berteiak lebih keras.


"Tuh pakai makanan!" perintah Rama sambil melempar jauh buahnya.


"Kalau pakai ini sayang. Kita sudah susah payah mengumpulkan makanan. Sekarang malah dijadikan senjata untuk melawan monyet-monyet itu," sewot Shinta dengan idenya Rama.


"Biarkan mereka memakan buah-buahan itu, kita tinggal mencarinya lagi," balas Rama.


"Daripada mereka ngamuk dan menyerang kita!" lanjut Rama.


   Shinta pun mengikuti Rama melemparkan buahnya sejauh yang dia bisa. Monyet-monyet pun berlari mengejar buah yang dilemparkannya itu. Namun begitu buah yang dilemparkan tadi habis dimakan olehnya, monyetnya kembali menghampiri mereka.


"Aaakh … kenapa mereka balik lagi kesini?" teriak Rama dan Shinta bersama-sama.


"Ayo … lari …!" ajak Rama sambil terlebih dahulu berlari meninggalkan Shinta.


"Rama … kenapa kamu meninggalkan aku …!" Shinta berlari terbirit-birit karena ada seekor monyet yang terus mengejarnya.


"Cepat …!" Rama mengulurkan sebelah tangannya pada Shinta.


"Tentu saja … mereka tidak punya adab!" Rama menimpali ocehan Shinta.


    Kedua bocah itu terus berlari sampai tidak terlihat lagi monyet-monyetnya. Mereka baru berhenti dirasa keadaannya sudah aman. Dengan napas yang tersengal-sengal, keduanya berhenti di balik pohon yang besar.


"Aduh … gila itu monyet, sudah habis semua bekal makan kita. Masih saja mengejar ingin ikut sama kita," kata Shinta sambil berdiri bersandar pada pohon dengan napasnya yang berat.


"Monyet itu hewan, dan hewan selalu mengandalkan instingnya, bukan otaknya!" Rama gantian bicara pada Shinta, dia selalu cepat kesal kalau Shinta sudah ngomel-ngomel, karena nggak akan ada habisnya sampai dia capek sendiri.


   Hari sudah mulai memasuki waktu sore, setelah mereka istirahat karena lelah dikejar oleh monyet. Akhirnya mereka memutuskan melanjutkan lagi perjalanan mereka. Hampir setengah jam mereka berjalan, akhirnya danau yang dicari ketemu juga.


"Lihat! Itu danaunya!" teriak Rama saat melihat ada sebuah danau tak jauh dari mereka berdiri.


"Wah … indahnya!" pekik Shinta langsung berlari ke arah danau. Rama pun berlari mengikutinya.


   Air danau itu begitu jernih, dan airnya segar. Rama dan Shinta begitu sampai disana langsung membasuh wajah mereka.


"Ah … segarnya!" kata Shinta sambil berteriak senang.


"Rasanya aku ingin mandi disini," lanjutnya lagi sambil membasuh mukanya kembali.

__ADS_1


"Aku juga ingin mandi rasanya," kata Rama sambil membasuh kedua tangannya.


"Bagaimana kalau kita mandi bergantian?" saran Shinta yang disetujui oleh Rama, karena tergoda dengan kesegaran air danau itu.


"Baiklah. Kita mandinya gantian. Siapa yang duluan mandi?" tanya Rama sambil berjalan ke arah pohon yang ada di dekat danau itu.


"Aku yang mandi duluan!" kata Shinta sambil menyimpan tas ranselnya di sandarkan di batang pohon itu.


"Baiklah … tapi yang cepat jangan lama-lama. Kalau ada monyet-monyet seperti tadi akan bahaya," balas Rama mengingatkan saudara kembarnya itu.


"Iya, aku mandinya nggak akan lama," kata Shinta dengan lesu.


"Mandinya dekat batu besar itu!" Rama menunjuk ada dua buah batu besar di pinggir danau itu.


   Shinta pun akhirnya mandi duluan dan menuruti kata Rama, mandinya di dekat batu yang besar itu. Air danau yang jernih warnanya dan suhu airnya yang sedang, membuat tubuh Shinta terasa nyaman dan segar. Sebenarnya Shinta ingin lebih lama lagi mandinya, tapi Rama sudah meneriakinya agar cepat-cepat. Sekarang gantian Rama yang mandi disana.


    Setelah mereka berdua mandi, akhirnya memutuskan bermalam di sana, di dekat danau. Biar saat pagi hari mereka tidak kesulitan untuk mendapatkan air untuk membersihkan diri.


"Tunggu … apa, Papa dan Mama nggak mencari kita, ya? Kita sudah seharian di dalam hutan dan meninggalkan villa," tanya Shinta kepada Rama yang sedang membuat api unggun.


"Aku sudah menulis pesan kalau kita akan berburu harta karun di dalam hutan," jawab Rama sambil menyusun ranting-ranting pohon yang tadi didapatkannya.


"Oh, pantas saja mereka tidak membuat kehebohan di dalam hutan ini. Begitu tahu kalau kita tidak ada di dalan villa," kata Shinta sambil terkekeh. Dia ingat saat di mansion dulu, saat awal-awal mereka tinggal di sana. Mereka sering tersesat, dan tidak tahu harus jalan kemana. Sampai-sampai Adji selalu mengerahkan para Android itu untuk mencari kedua anaknya yang tersesat.


"Aku rasa mereka malah senang saat kita tidak ada disana. Bukannya Papa dan Mama ingin pergi berbulan madu kembali?!" kata Rama sambil melihat ke arah langit malam.


"Ya, dan nanti saat pulang madu. Mereka akan membawa bayi lagi ... " lanjut Shinta sambil tertawa terkekeh.


"Hey, bayi yang ada di dalam perut Mama, masih lama keluarnya. Masa mau punya bayi lagi?!" kata Rama sambil mengerutkan keningnya.


"Maksudnya bayi yang di dalam perut Mama, begitu mereka pulang bayinya sudah lahir," balas Shinta.


Disaat perdebatan itu terdengar suara ranting kering yang patah terinjak-injak beberapa kali. Suara itu dapat didengar jelas oleh keduanya. Rama dan Shinta saling pandang satu sama lain, dan wajah mereka berdua langsung pucat.


*****


JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN, VOTE NYA JUGA YA.


DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.


TERIMA KASIH.

__ADS_1


__ADS_2