Mamaku Wanita Super & Papaku Super Genius

Mamaku Wanita Super & Papaku Super Genius
#BAB 75


__ADS_3

Pagi hari saat anak-anak baru berangkat pergi mencari harta Karun,


   Waktu masih pagi buta, tapi di lantai bawah sudah terdengar suara kedua anak kembar yang sedang sibuk melakukan sesuatu. Adji membiarkan saja kedua anaknya itu berbuat kegaduhan di bawah. Karena dirinya juga baru dua jam yang lalu selesai membuat kegaduhan bersama Alice.


    Adji menatap wajah Alice yang makin cantik dari hari ke hari. Mungkin hormon kehamilannya berpengaruh padanya, karena selain makin cantik, Alice juga makin seksi dan menggoda di mata Adji.


   Adji mengelus rambut istrinya itu dengan penuh kasih sayang, dan Alice yang masih ngantuk dapat merasakannya. Maka dia membalas suaminya dengan memeluknya dengan erat.


"Tidurlah, hari masih terlalu pagi untuk kamu bangun istriku," kata Adji sambil membalas pelukan istrinya.


      Adji melepaskan pelukannya ketika sudah terdengar suara dengkuran halus dari Alice. Diciumnya kening istrinya itu dengan mesra dan penuh kasih sayang. Kemudian Adji yang hanya mengenakan celana boxer, berjalan ke luar balkon kamarnya. Dia dapat melihat Rama dan Shinta sedang berjalan memasuki hutan di sebelah kanan villa. Kedua anak itu membawa tas ransel dan lampu di jam tangannya menyala.


"Apa mereka tidak terlalu pagi pergi bermainnya?!" Gumam Adji sambil melihat kedua anaknya berjalan ke hutan dan ditelan oleh kabut pagi.


   Alice terbangun karena tidak merasakan kehadiran suami tercintanya, yang biasanya ada di sampingnya saat bangun tidur. Alice bangun dan duduk di atas kasur, dicarinya keberadaan Adji. Matanya melihat pintu ke arah balkon luar sudah terbuka. Maka Alice pun berjalan menuju arah balkon luar kamarnya, hanya mengenakan lingerie warna hitam yang semalam baru saja dipakainya.


   Dilihat Adji sedang berdiri disana sambil melihat matahari yang mulai akan nampak di ufuk timur, berupa garis putih dan lama-kelamaan akan membentuk bulat sempurna. Alice memeluk Adji dari belakang, tubuh Adji kini tinggi dan berisi, berbeda dengan beberapa bulan yang lalu, hanya tinggi kurus. Alice suka dengan tubuh Adji sekarang karena lebih macho dan seksi.


"Suamiku, sedang apa pagi-pagi begini sudah berdiri di balkon luar kamar?" tanya Alice sambil menelusupkan wajahnya di punggung polos suaminya itu.


"Hanya sedang melihat anak-anak pergi bermain di hutan misteri," jawab Adji sambil mengelus lengan Alice yang melingkari perutnya.


"Ngapain anak-anak pergi ke hutan pagi-pagi sekali seperti ini?" tanya Alice sambil melepaskan pelukannya pada tubuh Adji.


   Kini kedua pasangan suami istri itu berdiri saling berhadapan. Adji memegang wajah Alice dengan kedua tangannya. Kedua ibu jarinya mengusap pipi mulus milik Alice.


"Mereka berdua sedang mencari harta karun," kata Adji sambil tersenyum manis kepada istrinya itu.


"Mencari harta karun?" Alice membeo apa yang dikatakan oleh Adji.


"Ya, mereka berdua sedang mencari harta karun peninggalan Kakek Batara," balas Adji sambil tersenyum geli.

__ADS_1


"Kenapa kamu senyumnya seperti itu?" tanya Alice kepada Adji yang sedang tersenyum dengan tatapan yang menggoda.


"Ya, karena mereka perginya pasti lebih dari satu hari," jawab Adji sambil mengangkat tubuh Alice yang mulai bertambah berat, karena kehamilannya sudah memasuki bulan ke lima.


"Tunggu kenapa mereka perginya lama sekali?!" tanya Alice dalam gendongan Adji.


"Ya, karena aku juga dulu begitu ketika mencari harta karun itu bersama Balaram dan Baladewa,"jawab Adji kemudian membaringkan Alice di tengah kasur tempat tidur mereka.


"Jadi kamu juga dulu pernah pergi mencari harta karun itu?" tanya Alice sambil memegang wajah Adji yang sejak kapan Alice suka melihatnya. Sehari tidak melihat wajah suaminya itu, berasa kurang sempurna dalam menjalani hari-harinya.


"Ya, bukan hanya aku. Papa dan paman Sadewa juga pernah melakukannya. Kakek Bisma dan Kakek Pandu juga pernah melakukannya," jawab Adji disela-sela ciumannya di wajah Alice.


"Tapi tidak akan ada terjadi hal yang membahayakan bagi mereka kan?!" tanya Alice di sela lenguhannya.


"Ya, mereka berdua akan baik-baik saja. Kita juga bisa melihat dan mengawasi mereka dari sini," jawab Adji di tengah pekerjaan paginya bersama Alice yang sudah pasrah berada di bawah kungkungan badannya.


*****


    Alice turun ke lantai satu untuk menyiapkan sarapan yang merangkap dengan makan siang. Di depan pintu kulkas ada selembar kertas memo dari Rama, yang memberitahu bahwa dirinya dan Shinta akan pergi berpetualang mencari harta karun di dalam hutan.


   Harta karun yang dipadat oleh Adji dan si kembar berada di mansion Pandawa. Harta itu di simpan bersama dengan harta peninggalan keluarga yang lainnya. Harta karun yang didapat oleh Adji adalah mahkota raja yang bertaburan dengan batu perhiasan yang dulunya dipercaya punya kekuatan magis.


"Istriku, sedang masak apa?" tanya Adji yang tiba-tiba muncul dari belakang dan memeluk tubuh Alice. Kemudian dagunya bertumpu di bahu Alice dan sesekali menciumi pipi Alice yang sibuk memasak sayur sop.


"Suamiku setelah makan aku ingin melihat anak-anak. Mereka sedang apa sekarang?" tanya Alice sambil melihat ke arah Adji dan memegang jemari suaminya itu.


"Ya, kita tinggal naik ke lantai paling atas. Dari sana kita bisa melihat semua keadaan di sekitar villa ini," jawab Adji dan membalas genggaman tangan Alice.


   Setelah selesai makan siang, mereka berdua menaiki lantai paling atas. Ada sebuah menara yang menjulang tinggi di atas sana. Kemarin Alice tidak memperhatikan bangun itu ada di villa ini. Adji menuntun Alice saat menaiki anak tangga menuju atas.


   Saat sampai di atas menara, Alice bisa melihat sekeliling pemandangan villa dari sana.

__ADS_1


"Wah … indah sekali pemandangan disini. Udaranya juga terasa segar walau sudah lewat tengah hari," kata Alice sambil tersenyum lebar dan menarik napasnya dalam-dalam.


"Iya, aku paling suka bermain disini saat masih kecil dulu. Aku bisa melihat semua orang yang sedang berada di bawah sana," tunjuk Adji kepada beberapa orang yang sedang melakukan aktivitas mereka sehari-hari.


   Karena villa ini berada di atas bukit dan punya menara yang tinggi. Jadi kita bisa melihat sejauh yang kita bisa lihat.


"Lihatlah istriku, kelakuan anak-anak kita!" seru Adji yang melihat kedua anak kembarnya lewat teropong besar yang ada di sana.


"Memangnya apa yang sedang mereka lakukan?" tanya Alice penasaran.


   Alice pun melihat ke arah yang ditunjukkan oleh Adji. Alice bisa melihat kedua anaknya sedang melempari beberapa monyet dengan buah-buahan. Alice tertawa terbahak-bahak saat melihat kelakuan Rama dan Shinta, saat mereka berusaha untuk mengusir monyet-monyet itu. Karena terus tertawa Alice sampai mengeluarkan air matanya.


"Suamiku apa disekitar hutan ini banyak hewannya?" tanya Alice sambil melihat ke arah suaminya yang sedang melihat ke arah lain.


"Ya, ada banyak hewan disini, tapi mereka bukan hewan buas, tenang saja."


Kini Adji mengalihkan pandangannya kepada sang istri yang berdiri di belakang teropongnya. Adji berjalan mendekat kepada Alice, di pegangnya pinggang Alice, kemudian Adji menyatukan kening mereka.


"Tenang saja mereka akan baik-baik saja. Tidak perlu khawatir, mencari harta karun itu sudah seperti tradisi keluarga kita, walau tidak dari zaman dahulu," kata Adji saat melihat ada kecemasan di wajahnya.


"Kenapa Kakek Batara membuat peta harta Karun itu?" tanya Alice.


"Aku juga kurang tahu secara pastinya. Hanya saja dia paling suka dengan petualangan," jawab Adji kemudian mencium kening Alice memberikan rasa ketenangan untuknya.


"Kalau masih khawatir, Sam akan menyusul mereka," lanjut Adji sambil memeluk Alice.


"Tidak, biarkan saja mereka berpetualang untuk mencari harta karun itu. Kita akan mengawasinya di sini," kata Alice.


*****


JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.

__ADS_1


DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.


TERIMA KASIH.


__ADS_2