
Rama dan Shinta duduk di sofa yang berada di kamar Rama. Mereka sedang memeriksa peta lorong-lorong yang berada di ruang rahasia.
" Rama tinggal lima lorong lagi yang belum kita periksa. Kapan kita akan masuk kesana?" Tanya Shinta sambil mengetuk-ngetuk gambar lorong yang ada di kertas itu.
" Aku sich ingin pergi kesana sekarang juga. Tapi Papa melarang kita masuk kesana." Rama menyandarkan tubuhnya ke belakang.
" Bagaimana kalau kita perginya secara diam-diam?" Bisik Shinta sambil tersenyum.
Mendengar bisikan dari saudara kembarnya itu, Rama pun bersemangat kembali. Dia menganggukan kepalanya tanda setuju. Mereka berdua melihat kedua orang tuanya sedang asik memasak didapur. Lebih tepatnya Alice lah yang sedang masak dan Adji hanya mengekori dan mengganggu Alice yang sedang memasak.
" Aman." Bisik Rama kepada Shinta.
Kini kedua anak itu pun, masuk ke dalam ruang perpustakaan. Dan seperti biasa mereka mengunci pintunya. Rama dan Shinta pun masuk kedalam ruang rahasia itu. Dan memasuki lorong yang belum pernah dijamah oleh mereka.
Lorong yang mereka masuki kali ini turun kebawah menuruni anak tangga yang lumayan curam, tapi lorongnya lebih luas dan sangat panjang.
" Kok panjang sekali lorong ini, ya?" Tanya Shinta.
" Nggak tahu." Jawab Rama singkat.
" Apa kita tersesat?" Tanya Shinta lagi.
"Mana mungkin kita tersesat, jalannya saja cuma satu!" Suara Rama menggema di dalam lorong itu.
" Habis sejak tadi nggak sampai-sampai! Kita sudah menuruni anak tangga terus jalan lagi di lorong. Tapi belum ketemu juga pintu keluarnya." Shinta merasa kesal karena capek.
" Diamlah!" Kata Rama. Hampir lima belas menit mereka berdua berjalan di dalam lorong itu.
" Oh, sepertinya ini jalan buntu." Kata Rama.
" APA!!!" Teriak Shinta tak percaya. Dia sudah capek berjalan jauh. Dan ini jalan buntu.
" Hehe…. Bercanda!" Goda Rama kepada Shinta.
" Ini pintunya." Rama menekan batu yang ada di depannya. Dan pintu itu pun terbuka.
Mereka berdua keluar dari lorong itu, dan masuk ke dalam sebuah ruangan seperti gudang.
" Hah…. Pantas saja jalan lorong ini panjang!" Kata Rama sambil melihat ke luar jendela.
" Ada apa?" Shinta datang menghampiri Rama yang sedang berdiri di depan jendela.
" Wah…. Nggak nyangka ternyata ada juga lorong yang terhubung keluar bangunan mansion." Kata Shinta saat melihat bangunan mansion agak jauh dari tempatnya sekarang.
__ADS_1
" Ini sepertinya lorong untuk melarikan diri!" Kata Rama sambil mengelilingi ruangan disana.
" Ini seperti gudang untuk barang bekas yang sudah tidak dipakai, ya?" Tanya Shinta sambil melihat benda-benda disana.
" Hei, Shinta lihat ini!" Rama menunjukan sebuah buku harian milik mendiang kakeknya. Atau lebih tepatnya buku harian milik Nakula.
" Wah ternyata ada tempat tidurnya disini!" Ucap Shinta saat melihat Rama sedang duduk di atas tempat tidur.
" Ya, dan aku menemukan buku ini di bawah bantal." Kata Rama.
" Apa Kakek Nakula juga tahu tentang lorong-lorong rahasia ini?" Tanya Shinta. Dan itu membuat Rama termenung memikirkannya.
" Bisa saja, dia mengetahuinya." Jawab Rama sambil membaca buku milik Kakeknya itu.
" Soalnya dia menuliskan, kata ruang bawah tanah dan ruang rahasia yang ada di lantai atas!" Tunjuk Rama pada buku yang sedang dipegangnya itu.
" Jadi beneran, ya. Kalau Kakek Nakula juga tahu tentang ruang rahasia itu!" Shinta berkata dengan penuh semangat.
" Tunggu, kalau Kakek Nakula tahu tentang ruang rahasia itu. Ada kemungkinan Kakek Sadewa juga tahu mengenai ruang rahasia!" Kata Rama dengan wajahnya yang berubah pucat.
" Kalau begitu…" Shinta tidak melanjutkan kata-katanya. Dia saling pandang satu sama lain dengan Rama.
" Mudah-mudahan saat itu Kakek Sadewa tidak tahu kalau kita pernah masuk kedalam kamarnya lewat lorong rahasia." Kata Shinta.
" Baladewa yang buku hariannya di sembunyikan di lorong rahasia pun sepertinya, dia juga sudah tahu soal ruang rahasia ini." Lanjut Rama.
" Ruangan ini sengaja di buat bersamaan dengan bangunan mansion, ya?" Tanya Shinta. Sambil mengedarkan arah pandangnya keseluruh ruangan itu.
" Iya, dilihat dari model klasik ruangan ini. Sepertinya begitu." Jawab Rama.
" Sebaiknya kita harus cepat-cepat kembali lagi ke mansion!" Rama berjalan memasuki lagi lorong rahasia itu dan diikuti oleh Shinta. Tak lupa juga dia membawa buku harian milik Nakula.
*****
Adji yang sedang asik memeluk Alice dari belakang. Ketika Alice sedang memasak, bahkan para koki disana hanya berdiri setelah menyiapkan semua bahan yang dibutuhkan.
" Suamiku, coba kamu cicipi!" Alice mengulurkan sesendok kuah pasakannya, kepada Adji yang sedang menempelkan kepalanya di bahu.
" Hem, sudah pas, enak. Istriku!" Kata Adji.
Awalnya Alice merasa risih saat memasak dan Adji memeluk dibelakangnya. Apalagi dilihat oleh para koki dan pelayan yang bertugas di dapur. Tetapi karena ngidamnya Adji suka saat menghirup bau keringat Alice, maka dia pun membiarkannya.
" Cepat panggil anak-anak, kita makan siang bersama!" Kata Alice sambil mematikan kompornya.
__ADS_1
Mau tidak mau, Adji harus melepaskan pelukannya kepada Alice. Dan pergi mencari anak-anaknya. Saat Adji masuk kedalam kamar Rama, kedua anak itu tidak ada. Maka Adji pun mencarinya ke kamar Shinta. Tapi lagi-lagi kedua anaknya itu tidak ada.
" Kemana mereka berdua perginya?" Adji bergumam saat keluar dari kamar Shinta.
" Jangan-jangan mereka masuk ke dalam ruang rahasia lagi!" Adji berjalan cepat ke arah ruang perpustakaan.
Dan saat Adji akan masuk kedalam ruang perpustakaan itu, pintunya dikunci dari dalam.
" Tuh, benarkan. Mereka masuk kedalam ruang rahasia lagi." Adji bertolak pinggang di depan pintu perpustakaan.
" Tuan Muda, sedang apa disini?" Tanya Sam yang baru selesai mengerjakan tugas yang tadi diberikan oleh Adji.
" Lihat kelakuan anak-anakku, Sam! Mereka berdua tak mendengarkan perkataan ku!" Ucap Adji dengan nada kesal.
" Ya, mereka mirip seseorang." Balas Sam.
" Ya, mereka itu mirip sekali dengan Kakek. Selalu tidak mendengarkan apa yang aku ucapkan!" Kata Adji.
" Bukannya itu sifat Tuan." Gumam Sam sambil menahan tawanya.
Tak lama terdengar suara membuka kunci. Dan akhirnya pintu perpustakaan itu terbuka. Menampilkan dua sosok yang sedang dicarinya. Rama dan Shinta yang kini mematung dengan wajah yang pucat.
" Dari mana kalian?" tanya Adji saat kedua anaknya berdiri di depannya.
" Hehehe.... kita pergi ke lorong rahasia itu." Shinta tertawa garing, menyadari kalau Papanya sedang kesal kepadanya.
" Tadi pagi Papa, bilang apa?" tanya Adji dengan suaranya yang rendah.
" Jangan masuk dulu kedalam ruang rahasia!" kata Rama menirukan ucapan Adji tadi pagi.
" Kalian itu jangan buat orang tua khawatir." Ucap Adji sambil memegang kepala kedua anaknya itu.
" Kita menemukan buku harian Kakek Nakula." Kata Shinta.
Dan tak jauh dari sana ada Sadewa dan asistennya yang baru datang.
*****
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.
TERIMA KASIH.
__ADS_1