Mamaku Wanita Super & Papaku Super Genius

Mamaku Wanita Super & Papaku Super Genius
#BAB 68


__ADS_3

    Adji dan Alice kini sedang berada di dapur, untuk membuat rujak. Seperti biasa itu keinginan Adji. Sehari saja dia tidak makan rujak, rasa ada yang aneh katanya. Adji dan Alice duduk di teras samping, sambil makan rujak buatan mereka berdua.


"Istriku kenapa rasa rujak ini begitu nikmat?" tanya Adji kepada Alice sambil menyuapinya.


"Itu karena kita membuatnya dengan penuh rasa cinta," jawab Alice sambil tersenyum dan menerima suapan dari Adji.


"Iya kamu benar istriku, karena adanya rasa cinta bisa membuat segalanya menjadi lebih baik. Misalnya rasa rujak ini, begitu nikmat karena kita berdua yang membuatnya," kata Adji sambil menyuapi kembali Alice.


"Bagaimana kabar baby di dalam perut ya ya?" tanya Adji sambil tersenyum jahil yang kedua alisnya yang terangkat.


     Alice yang mengerti kode maksud dari Adji hanya tersenyum saja karena sudah hampir seminggu mereka tidak melakukannya. seminggu belakangan ini mereka sangat sibuk dalam mencari informasi mengenai bodyguard penjaga Adji yang dulu meninggal.


"Sepertinya mereka baik-baik saja?!" jawab Alice sambil tersenyum menggoda Adji yang langsung memasang wajah cemberut.


"Sudah jangan cemberut seperti itu, kalau kamu rindu mereka tengok saja," Alice berkata sambil menahan tawanya.


"Awas, aku tidak akan memberikan kamu waktu istirahat," kata Adji sambil menggelitik telapak kaki Alice. Perbuatannya itu malah membuat Alice mengalami kram perut.


    Adji begitu panik saat lihat Alice kesakitan sambil memegang perutnya. Alice juga menangis menahan sakit di perut.


"Istriku kamu tidak apa-apa? Mana yang sakit? ayo kita ke dokter!" tanya Adji dengan panik sambil memeluk Alice dan mencoba membopongnya masuk ke dalam rumah.


"Istriku sekarang tubuhmu menjadi sangat berat!" kata Adji saat membopong tubuh Alice.


"Kalau kamu merasa berat, turunkan saja. Aku juga bisa berjalan sendiri," kata Alice sambil cemberut karena badannya yang dikatakan berat.


"Tidak istriku, justru itu bagus karena bayi di dalam perutmu berkembang dengan sangat baik," balas Adji sambil mencium kening Alice.


     Adji tidak boleh buat Alice marah atau sedih, karena ibu hamil itu sangat sensitif perasaannya. Akhirnya Adji bisa membuat suasana hati Alice bahagia, dilihat dari rona wajah dan senyuman manisnya.


*****


    Karena kondisi mansion keluarga Pandawa harus diperbaiki, maka Adji memboyong keluarganya untuk tinggal di villa miliknya yang ada di atas bukit yang masih di dalam kota Diamond. Kondisi villa itu sangat sejuk karena banyak pohon-pohon yang tumbuh di halaman sekitarnya. Rumah yang memiliki dua lantai yang terlihat asri itu, dan sangat membuat nyaman para penghuninya.


"Istriku, apa kamu menyukai rumah ini?" tanya Adji kepada Alice begitu sampai di sana.

__ADS_1


"Iya suamiku, aku menyukai rumah ini karena terasa nyaman. Banyak pohon-pohon hijau yang membuat mataku terasa nyaman dan udaranya juga segar," jawab Alice kepada Adji sambil tersenyum bahagia.


"Papa dan Mama sangat senang sekali," kata Shinta sambil ketawa.


"Iya, mereka serasa menjadi pengantin baru saja, dan lupa sama kita berdua," kata Rama sambil berjalan menuju ke teras rumah itu dan duduk di kursi kayu.


"Lihat istriku, mereka berdua marah sama kita," kata Adji sambil memandang dua anaknya yang kini sudah duduk manis di kursi kayu.


"Itu karena kamu selalu melupakan keberadaan mereka, kalau sedang ingin bermesraan denganku," balas Alice sambil menarik tangan Adji agar cepat masuk kedalam villa.


    Mereka memasuki villa yang di desain minimalis. Kamar milik Adji dan Alice berada di lantai dua sedangkan kamar Rama dan Shinta berada di lantai satu. Sedangkan kamar Sam dan Bima berada ada di bagian belakang villa.


    Mereka berenam akan tinggal disana sampai perbaikan mansion selesai. Mungkin sekitar dua sampai tiga bulan karena ruang bawah tanah mansion rusak parah.


    Kali ini ini tidak ada bodyguard yang mengikuti mereka. Sedangkan Bisma dan kepala pelayannya tinggal di rumah milik Pandawa yang berada di kaki bukit.


  


    Sementara Dewa, sekarang tinggal di apartemennya. Keluarga Pandawa sudah mengakui Dewa sebagai bagian dari keluarga mereka.


   Rama dan Shinta juga sekarang homeschooling. Karena tidak ada bodyguard yang dapat dipercaya untuk mengantar jemput mereka. Bodyguard yang biasa bertugas untuk menjaga mereka sedang di rawat di rumah sakit, karena terluka parah saat para Android melakukan pemberontakan.


*****


Rama memasuki kamarnya yang berada di sisi kanan tangga. Kamar itu memiliki ukuran yang lumayan luas. Ada lemari baju berukuran sedang, dan lemari buku berukuran lebih besar. serta ada kursi kayu di dekat jendela kaca yang menghadap halaman depan.



Rama yang suka membaca, menghampiri lemari buku yang berjajar rapi. Diambilnya salah satu buku yang ada disana. Buku bersampul warna merah yang begitu mencolok. Ternyata itu adalah sebuah buku tulis yang memiliki cover tebal, sehingga dikira buku bacaan.



Buku itu seperti buku catatan harian perjalanan atau petualangan milik anak yang bernama Batara. Ada selembar kertas peta yang menggambarkan sebuah villa dan hutan-hutan disekelilingnya.


"Apa gambar villa yang yang ada di kertas ini adalah rumah villa ini, ya?" gumamnya.

__ADS_1


*****


"Rama kamu mau kemana?" tanya Shinta saat melihat saudara kembarnya itu keluar dengan membawa tas. 


"Mau menjelajah hutan disini? Kamu mau ikut?" tanya Rama sambil berbisik.


"Mau ngapain masuk ke hutan?" tanya Shinta balik.


"Aku menemukan peta ini, di lemari buku yang ada di dalam kamar," jawab Rama sambil mengeluarkan selembar peta yang menggambarkan lokasi villa dan hutan disekitarnya.


    Melihat gelagat saudara kembarnya itu, membuat Shinta menganggukan kepalanya dengan penuh semangat. Dia berpikir kalau mereka akan berpetualang kembali.


" Kalau begitu, kamu cepat bawa bekal perlengkapannya!" perintah Rama sambil melihat ke arah lantai atas, takut kalau kedua orang tuanya memergoki mereka.


   Kedua anak kembar itu memasuki hutan yang ada di belakang villa. Karena waktu masih pagi hari, jadi di dalam hutan masih banyak kabut. Rama dan Shinta mengeluarkan senter karena jarak pandangnya hanya beberapa meter.


    Shinta melihat sekeliling pohon-pohon yang tumbuh tinggi itu, merasa sangat angker. Ditambah dengan suara hewan serangga yang saling bersahutan.


"Rama benar nggak ini arahnya?" tanya Shinta karena mereka sudah jalan begitu jauh.


"Kalau menurut peta sudah benar," Rama menunjukan gambar tiga batu besar yang ada di peta kepada Shinta.


"Tuh, batunya!" Rama menunjuk kepada tumpukan batu besar yang berjumlah tiga buah.


"Tunggu, kita sudah berjalan sejauh ini. Namun jarak di dalam peta itu begitu dekat dengan villa. Lalu bagaimana dengan letak harta Karun ya?" tanya Shinta dengan wajahnya shock.


*****


JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.


DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.


TERIMA KASIH.


   

__ADS_1


__ADS_2