Mamaku Wanita Super & Papaku Super Genius

Mamaku Wanita Super & Papaku Super Genius
#BAB 50


__ADS_3

Bab 50


Kini Adji dan Alice sedang berada di catatan kantor sipil. Mencari data-data tentang keluarga Dewa. Mereka pergi bersama David, agar segala prosesnya dapat berjalan dengan cepat.


    Sedangkan kerangka tengkorak milik Dewa dibawa oleh Bima ke laboratorium Pandawa, agar segera dilakukan penelitian terhadapnya.


" Pak David, ini data-data tentang keluarga Dewa yang bisa kami temukan." Kata salah seorang petugas.


" Terima kasih ,Pak." Jawab David dan Adji bersamaan.


    Kemudian mereka berjalan memasuki sebuah rumah yang sudah lama ditinggal oleh penghuninya. Ini adalah rumah milik Nenek Dewa. Karena Dewa dulunya dibesarkan oleh Nenek dan Pamannya. Sedangkan Ibunya meninggal dunia saat melahirkan.


" Rumah yang sederhana dan nyaman untuk ditinggali." Kata Alice saat berjalan di halaman rumah yang penuh dengan rumput ilalang.


" Ini rumah sudah berapa lama dibiarkan kosong?" Tanya Adji kepada David.


" Entahlah, aku juga tidak tahu. Mungkin saat Pamannya meninggal, rumah ini sudah tidak ada yang menempatinya." Jawab David sambil melihat-lihat keadaan di halaman rumah Neneknya Dewa.


" Kapan Pamannya itu meninggal?" Tanya Adji penasaran.


" Sekitar dua bulan setelah kematian Dewa. Makamnya juga tadi yang berada di samping makam Dewa." Kata David.


" Oh, kasihan sekali Pamannya itu. Pasti sedih karena ditinggal mati sendirian di rumah." Kata Alice dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


" Hei istriku, Pamannya itu sudah lama tinggal sendirian, karena Paman Dewa kan tinggalnya di asrama mansion." Adji memberitahu.


" Oh, pasti Pamannya sedih karena sudah tidak punya sanak saudara lagi." Ralat Alice lagi.


" Apa penyebab kematian Pamannya itu?" Tanya Adji kepada David yang berjalan bersebelahan dengannya.


" Kalau tidak salah sakit karena infeksi luka? Atau karena kecelakaannya? Aku lupa lagi!" Jawab David sambil mencoba mengingat-ingat kembali penyebab kematiannya.


" Kamu itu tidak bisa diandalkan!" Adji menarik tangan Alice dan berjalan duluan meninggalkan David.

__ADS_1


" Hei, kalau aku tidak bisa diandalkan, kenapa kamu meminta bantuan ku!" Teriak David pada Adji, tidak terima. Kemudian berjalan menyusul Adji dan Alice yang sudah berdiri di teras rumah.


" Eh, kenapa kita masuk tanpa permisi kepada orang yang punya rumah? Bagaimana kalau mereka melaporkan kita dengan pasal masuk tanpa izin ke rumah orang lain!" Kata Alice saat mereka masuk kedalam rumah Neneknya Dewa.


    Mendengar ucapan Alice barusan Adji dan David langsung tertawa. Mereka merasa lucu dengan pikiran polosnya Alice.


" Terus kita minta izin sama siapa? Masa sama kuburan Neneknya." Adji tertawa terpingkal-pingkal.


" Apalagi ini rumah yang punyanya sudah meninggal. Bagaimana kalau dia marah dan berbuat yang enggak-enggak." Kata Alice sambil memeluk lengan Adji.


" Biar Si David aja yang dimarahi! Karena dia yang sudah membukakan pintu rumahnya." Jawab Adji asal, karena matanya fokus kepada barang-barang yang ada di rumah itu.


" Adji, apa Dewa itu punya kembaran?" Tanya David yang sedang memegang sebuah pigura foto.


" Dalam daftar riwayat hidupnya saat melamar dan data menjadi bodyguard, tidak disebutkan dia memiliki saudara kembar." Jawab Adji sambil mendekat ke arah David.


" Tapi ini ada foto bergambar dua bayi!" David membawa foto itu ke tempat yang lebih terang pencahayaannya.


" Iya beneran mereka kembar!" Seru David dengan nada yakin.


    Namun naas, saat tangannya Adji sudah diulurkan, David tak sengaja menjatuhkan pigura foto itu. Sehingga kaca pigura itu pecah dan fotonya terlepas dari cangkangnya. Adji pun memungut foto itu dan ternyata isinya ada dua lembar, yang satu gambar dua bayi laki-laki berusia sekitar satu tahunan. Dan satu lagi foto seorang gadis manis, tidak cantik juga tidak jelek.


    Adji dan David melihat kedua foto itu, kemudian membalikkannya. Ternyata ada tulisan di balik foto itu. Di balik foto anak bayi kembar ada tulisan tanggal lahir dan nama kedua bayi itu. Nama yang tertulis di sana adalah Dewa dan Basudewa.


" Ya, aku rasa Paman Dewa punya kembaran yang bernama Basudewa." Kata Adji sambil memegang foto bayi kembar itu.


" Dan ini, apa ibu mereka yang sudah meninggal saat melahirkan?" Tanya Adji tanpa berharap ada yang menjawabnya.


" Sepertinya begitu?" Jawab David.


" Suamiku, ternyata ada anak kembar disini!" Kata Alice saat melihat album foto yang ada di lemari hias yang ada disana.


" Ya, aku tidak menyangka kalau Paman Dewa punya kembaran." Balas Adji.

__ADS_1


" Kenapa Dewa menyembunyikan identitas kembarannya?" Tanya David dengan wajah yang terheran-heran sambil melihat ke arah Adji, minta jawaban. Karena dia melihat Adji seperti sudah mendapatkan jawaban yang dia cari selama ini.


" Entahlah, aku juga tidak tahu!" Ucap Adji. Soalnya dia tidak mau membongkar aib atau rahasia Bisma, Kakeknya.


" Lalu apa ini Pamannya yang sudah meninggal itu?" Tanya Alice sambil menunjukan foto seorang laki-laki muda dan gadis yang ada di foto tadi.


" Sepertinya begitu, walau lelaki itu masih muda. Tetapi mirip dengan wajah Pamannya Dewa." Jawab David sambil menelisik wajah di foto itu.


" Karena wajah yang aku ingat, adalah wajah Pamannya yang sudah tua." David membuka-buka album foto itu lembar demi lembar.


" Apa ini Pamannya, Paman Dewa?" Tanya Adji kepada David sambil membawa sebuah pigura yang bergambar potret seorang laki-laki paruh baya dengan dua orang remaja laki-laki.


" Iya, dia adalah Pamannya Dewa!" Jawab David membenarkan dengan menganggukan kepalanya.


" Berarti sudah dipastikan kalau Paman Dewa itu punya kembaran!" Kata Alice memandang ke arah Adji yang berada di sampingnya.


" Ya, dan juga sudah bisa dipastikan kalau Pamannya adalah orang yang pernah melakukan percobaan pembunuhan terhadap aku beberapa kali!" Lanjut Adji dengan mata yang saling memandang dengan Alice. Sedangkan David yang mendengar itu sungguh terkejut.


" Tunggu Adji, bagaimana mungkin bisa Pamannya berusaha membunuh kamu beberapa kali. Sedangkan keponakannya bertugas untuk melindungi kamu dengan taruhan nyawanya?!" Tanya David sambil menarik lengan Adji meminta jawaban darinya.


" Ya, itu terlalu rumit untuk dijelaskan. Dan saat ini aku sedang tak mau menjelaskannya padamu." Jawab Adji sambil menarik lengannya yang dipegang oleh David.


" Bagaimana aku bisa membantu kamu, kalau aku sendiri tidak mengerti duduk persoalannya!" Teriak David pada Adji yang sudah memasuki ruangan lainnya di rumah itu.


" Aku tidak mau kamu mati sia-sia. Jadi lebih baik jangan ikut campur masalahku ini! Karena nyawa kamu dan keluarga kamu yang bisa jadi ancamannya." Balas Adji di ruang sebelah tempat David masih berdiri sendirian disana.


" Dasar! Memangnya sekarang ini aku sedang tidak ikut campur masalah kamu?" Balas teriakan David sambil berjalan memasuki ke ruangan tempat Adji dan Alice sekarang berada.


*****


JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.


DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.

__ADS_1


BUNGA ATAU KOPI JUGA MALAH BERHARAP BIKIN AKU SEMANGAT LAGI.


TERIMA KASIH.


__ADS_2