Mamaku Wanita Super & Papaku Super Genius

Mamaku Wanita Super & Papaku Super Genius
#BAB76


__ADS_3

    Rama yang kesal, karena tidak berhasil mendapatkan harta karunnya, kini berjalan dengan gontay. Shinta yang melihat itu merasa kasihan juga, tadinya berjalan dengan penuh semangat, kini malah lesu begitu.


"Sudahlah Rama, mungkin bukan milik kita harta karun itu," kata Shinta mencoba memberikan semangat untuk saudara kembarnya itu.


"Aku hanya kesal saja dengan surat yang ditinggalkan oleh Papa! Seolah dia sedang mengejek kita," balas Rama dengan nada bicaranya yang datar.


   Rama dan Shinta sudah keluar dari mulut gua. Keduanya mau melanjutkan lagi perjalanan mereka ke tempat yang diduga ada harta Karun lainnya. Hanoman masih saja nemplok di punggung Rama, dia merasa betah di sana.


"Lalu sekarang kita akan kemana?" tanya Shinta saat Rama berjalan kembali.


"Kita ke tempat harta karun yang lainnya lagi," jawab Rama dengan berjalan cepat ke arah kanan.


   Rama dan Shinta berjalan menuju ke arah air terjun yang ada di hulu sungai. Lamayan jauh dari tempatnya sekarang, jadinya mereka berjalan cepat agar tidak kesorean begitu sampai disana. Jalanan menuju air terjun itu lumayan bagus dan datar, tidak banyak bebatuan disana.


   Tiba-tiba Hanoman melompat kemudian berlari. Melihat tingkat Hanoman, Rama dan Shinta pun mengikutinya dengan berlari. Ternyata Hanoman menemukan sebuah bunga yang memiliki aroma menyengat seperti bau bangkai. Rama dan Shinta langsung menutup hidungnya.


"Hm … bau sekali!" kata Rama sambil menahan napasnya.


"Bau bangkai ini dari mana ya?!" tanya Shinta sambil menutup hidung dan mulutnya menggunakan kedua tangannya.


Uu-uu-uu …


   Hanoman melompat-lompat, didepan bunga besar yang bentuknya sangat aneh. Rama dan Shinta pun mendekat ke arah Hanoman. Bau bangkai itu makin menyengat. Rama dan Shinta penasaran dengan bunga yang bentuknya besar dan sangat aneh itu.


"Hoek … bau sekali!" kata Shinta sambil mual-mual karena mencium bau bangkai dari bunga itu.


"Bunga apa ini? Kenapa baunya sangat menyengat seperti bau bangkai?!" tanya Rama sambil mengendus bunga di hadapannya.


Uu-uu-uu …


    Hanoman melompat-lompat di bawah pohon yang sedang berbuah lebat. Rama dan Shinta pun berjalan mendekati pohon itu.


"Ayo, Hanoman panjat pohon itu! dan lemparkan buahnya ke sini!" perintah Rama sambil melihat ke atas pohon.


     Hanoman pun mengikuti perintah dari Rama, untuk memanjat pohon dan memutih buahnya. Rama dan Shinta yang berada di bawah pohon buah itu, sudah siap untuk menangkap buah yang akan dilemparkan oleh Hanoman kepada mereka.


"Hanoman cukup! buahnya sudah sangat banyak!" teriak Rama dari bawah.

__ADS_1


    Hanoman pun menuruti perintah Rama dan turun ke bawah. Mereka lalu makan buah itu sambil bersandar di batang pohon yang besar, dan agak jauh jaraknya dari bunga yang mengeluarkan aroma seperti bangkai itu.


    Mereka pun melanjutkan perjalanannya lagi, menuju ke arah air terjun. Setibanya di sana mereka mencari tanda bintang di setiap batang pohon yang ada di dekat sana.


    Rama berjalan ke dekat sungai untuk mencuci wajahnya. Air yang jernih dan dingin itu membuatnya segar kembali. Jadinya Rama pun ingin mandi di sungai itu.


"Shinta aku mau mandi! Apa kamu juga akan mandi di sungai ini?" tanya Rama kepada Shinta yang masih memeriksa batang-batang pohon yang tidak jauh dari sungai.


"Iya, kamu saja duluan! Nanti giliran aku!" teriak Shinta menjawab pertanyaan Rama.


"Hanoman tolong jaga barang-barang milik aku, ya!" Pinta Rama kepada Hanoman.


Uu-uu-uu …


     Hanoman malah ikut terjun ke sungai, mandi bersama Rama. Akhirnya Rama dan Hanoman mandi bersama di sungai itu. Rama juga berhasil menangkap ikan yang ada di sungai.


"Lihat Shinta aku bisa dapat ikan!" teriak Rama kepada Shinta yang masih melihat batang-batang pohon yang menjulang tinggi.


   Mendengar teriakan saudara kembarnya, Shinta pun menolehkan kepalanya. Dilihatnya Rama yang bertelanjang, sedang menunjukan ikan hasil tangkapannya.


"Rama bodoh! Kenapa kamu belum pakai baju!" teriak Shinta memarahi kembarannya itu.


"Ayo kamu cepat tangkap ikan yang banyak! Aku sudah bosan makan buah-buahan terus," kata Shinta sambil memunguti ranting-ranting yang ada disekitar sama, untuk membuat api unggun.


"Iya, makannya kamu itu harus ikut membantuku mencari ikannya!" teriak Rama sambil kembali mencoba menangkap ikan.


"Aku tidak bisa! Aku akan mencari kayu bakar saja!" jawab Shinta sambil menjatuhkan hasil pencarian kayu bakarnya.


     Rama akhirnya menyelesaikan acara mandinya, setelah selesai menangkap ikan di bantu oleh Hanoman, yang memakan waktu cukup lama. Begitu juga Shinta yang sudah mengumpulkan kayu bakarnya sangat banyak.


    Gantian Shinta yang mandi, Rama mengurus ikan-ikannya yang akan dibakar. Untung saja ada ada belati kecil di perlengkapan camping ya. Dengan begitu Rama bisa membelah perut ikannya dan membuang isi perutnya.


   Karena sudah sore, akhirnya mereka memutuskan untuk beristirahat saja di sana. Tempat yang strategis dan cocok untuk bermalam. Rama membakar semua ikan hasil tangkapannya. Dia menjajarkan ikannya di tepi api pembakaran. Ternyata cukup lama sampai ikan itu masak. Sampai-sampai Hanoman pun sudah tertidur, itu ikan baru setengah matang.


    Sambil menunggu ikannya matang, Rama kembali membuka buku catatan milik Batara, dan membacanya dengan seksama.


"Rama ada apa?" tanya Shinta sambil duduk di sisi Rama dan melihat buku catatan itu.

__ADS_1


"Aku hanya berpikir, kenapa harta karun ini dibuat? Tujuannya untuk apa dan siapa?" kata Rama sambil memandang ke arah Shinta.


"Mungkin, Kakek Batara itu orangnya suka sama teka-teki?!" jawab Shinta dengan nada ragu.


"Aku hanya ingin tahu harta Karun yang didapat oleh Papa itu apa, ya?" tanya Rama sambil mengecek kematangan ikan bakarnya.


"Kita tinggal tanya saja pada Papa nanti saat kita pulang," jawab Shinta sambil menerima ikan bakar yang diberikan oleh Rama.


"Apa harta Karun itu isinya juga berharga, ya?" Kata Shinta sambil meniupi ikan bakarnya karena masih panas.


"Aku juga tidak tahu?" balas Rama sambil membolak-balikkan ikannya agar kematangannya merata.


"Tapi biarpun tidak mendapatkan harta karunnya, aku sudah senang dengan petualangan ini," lanjut Rama sambil menyuapkan ikan bakarnya.


"Iya," Shinta pun mengaamiinkan ucapan Rama.


    Malam itu mereka berdua tidur di dekat sungai yang alirannya kecil. Seperti malam sebelumnya, mereka beratapkan langit malam yang bertabur bintang. Rama dan Shinta pun masih berbagi selimut seperti kemarin. Malam ini mereka dapat tidur dengan pulas tanpa ada gangguan dari hewan lainnya. Api unggunnya dibuat agak lebih besar, menggunakan batang-batang pohon yang di jadikan kayu bakarnya.


*****


     Pagi harinya disaat matahari baru muncul satu garis, Rama sudah membangunkan Shinta. Karena mereka akan melanjutkan perjalanannya kembali. Di tengah jalan mereka menemukan pohon yang buahnya menurut mereka aneh. Hanoman pertama yang memakan buah itu, maka Rama pun mencoba memakannya.


"Rama kenapa kamu memakan buah aneh itu? Bagaimana kalau buah itu beracun?" tanya Shinta sambil mengingatkan Rama kalau di hutan itu banyak tumbuhan beracun.


"Tenang saja, buah ini tidak beracun. Buktinya Hanoman memakan buah ini, dan dia baik-baik saja," jawab Rama sambil melanjutkan makannya.


    Maka Shinta pun memakan buah itu, dan rasanya sangat enak. Bahkan dia makan paling banyak dibandingkan dengan Rama.


Dooor …


    Tiba-tiba terdengar suara tembakan, yang memekakkan telinga dari arah hutan. Rama dan Shinta begitu terkejut. Begitu juga dengan Hanoman dia langsung berlari dan bersembunyi di pelukan Rama.


******


JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH DAN VOTE NYA JUGA YA.


DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.

__ADS_1


TERIMA KASIH.


__ADS_2