
Adji dan keluarganya sedang makan malam bersama. Rama dan Shinta bercerita tentang petualangannya dalam mencari harta karun yang disembunyikan oleh kakek Batara.
Mereka berdua saling menimpali cerita yang dialami olehnya saat berada di dalam hutan. Mereka semua tertawa mendengarkan kisah yang dialami oleh Rama, Shinta, dan Hanoman.
Apalagi Alice tertawa terpingkal-pingkal saat mereka berdua bercerita tentang monyet-monyet yang menyerang karena ingin makanan, buah-buahan yang dipetik oleh Rama. Keduanya sengaja menyimpan banyak buah-buahan, buat cadangan makanan mereka nantinya. Namun itu malah menjadi bumerang buat mereka, karena gara-gara makanannya itu mereka mendapat serangan dari monyet-monyet.
"Mama melihat kalian berdua lewat teropong, saat kalian di kejar-kejar oleh monyet itu," Alice menyeka air matanya karena terus tertawa, saat mengingat kembali apa yang dilihatnya itu.
"Apa! Jadi Mama bisa melihat kita dari atas menara?!" tanya Rama tak percaya.
"Ya, Mama melihatnya saat kalian di dekat danau juga."
"Shinta besok juga mau naik ke menara! Ingin melihat pemandangan dari sana!" Kata Shinta sambil memanyunkan bibirnya.
Adji malah tertawa saat membayangkan kedua anaknya yang sedang tertidur langsung berwajah pucat, karena dikejutkan oleh anak monyet yang disangkanya hewan buas yang akan menyerang. Apalagi kini anak monyet itu tidak mau lepas jauh-jauh dari kedua anak kembar itu.
"Jadi kalian saat itu, menyangka ada hewan buas yang akan menyerang kalian?!" tanya Adji diselingi tawanya yang terkekeh.
"Iya, siang harinya aja kita diserang sama monyet. Apalagi saat malam hari, sudah pasti hewan malam nggak kalah ganasnya dengan hewan-hewan di siang hari," jawab Rama sambil memakan snacknya.
"Dan yang paling menyebalkan itu adalah saat Hanoman nggak mau turun dari atas tubuhku! Dia malah ikutan tidur."
Adji dan Alice mengijinkan Rama dan Shinta untuk memelihara Hanoman. Dengan catatan, harus sebaik-baiknya dalam memperlakukan Hanoman. Seperti memperhatikan makanannya, kesehatannya, dan memberikan ruang bebas buat anak monyet itu.
Adji akan membuatkan kandang untuk Hanoman, nanti saat di mansion. Itu semua membuat Rama dan Shinta senang.
"Papa, dulu saat mencari harta karun perginya sama Paman Balaram dan Baladewa?" tanya Shinta sambil gelayutan di tangan Adji.
"Iya, saat itu usia kita sekitar tujuh atau delapan tahunan. Kita main ke sini saat liburan sekolah. Awalnya Papa nggak sengaja menemukan buku catatan itu, saat mencari buku yang menarik buat di baca." Adji membelai rambut Shinta yang sudah mulai memanjang. Kemudian dicium kepalanya Shinta.
"Saat itu kita bertiga pergi dengan membawa perlengkapan yang lengkap dan makanan yang banyak. Jadi sangat menyenangkan, kita berasa lagi camping aja." Gantian Adji mengelus rambut Alice yang sedang bersandar di bahunya.
__ADS_1
"Papa tidak mengalami diserang dan dikejar oleh monyet, seperti kalian," kata Adji sambil terkekeh.
"Apalagi bertemu dengan penjahat tukang begal," lanjut Adji masih dalam tawanya.
"Justru itu akan menjadi sebuah kenangan yang bisa diceritakan di masa depan," kata Alice sambil mendongakkan kepalanya melihat ke arah Adji. Itu tidak disia-siakan oleh Adji yang langsung main sosor kepada bibir ranum milik Alice.
"Ada anak-anak!" Alice memukul lengan Adji. Sedangkan Adji malah tertawa bahagia.
"Lanjutkan lagi Pah, ceritanya!" kata Rama dengan antusias.
"Papa dan Si Kembar mencari sesuai peta. Ada banyak tanda bintang di sana," Adji coba mengingat-ngingat lagi di mana dia menggali harta karunnya dulu.
"Papa menemukan harta karun punya Papa Nakula dan Paman Sadewa, tapi dikuburkannya kembali. Itu harta karun bukan milik kakek Batara," ucap Adji kemudian dia membenarkan posisi duduknya, karena Alice ingin tidur berbantalkan pahanya.
"Karena kesal, Baladewa kemudian memberi bintang, asal-asalan di dalam peta itu," jujur pengakuan Adji.
"Oh pantas saja ada dua jenis tinta yang menggambar tanda bintang itu di dalam peta. Kita jadi tahu siapa yang telah menambahkan gambar bintang itu," kata Rama sambil tertawa.
Adji mengusap-usap punggungnya Alice agar cepat tidur, dan beristirahat.
"Harta karun yang ditemukan oleh Papa adalah mahkota raja dahulu. Saat kita menemukan harta Karun yang disembunyikan oleh kakek Batara, itu senang banget. Sampai-sampai Papa menulis surat pesan bagi orang lain, yang mencari kembali harta peninggalan Kakek Batara di sana," aku Adji sambil tersenyum.
"Ya, kitalah yang sudah menemukan surat peninggalan Papa di kotak harta karun itu," kata Rama sambil manyun bibirnya karena kesal.
"Apa! Jadi kalian juga menemukan tempat harta karun yang ada di dalam gua itu?" tanya Adji tak percaya.
"Iya, bahkan kita berdua membaca pesan yang Papa tulis dan disimpan di dalam kotak harta karunnya," lanjut Shinta dengan nada bicaranya yang manja.
"Hehehe … Papa juga kan sebelumnya dibuat dongkol oleh Papa Nakula dan Paman Sadewa. Jadinya Papa juga menulis pesan itu dan menyimpannya di dalam kotak harta karunnya, kemudian menguburnya kembali. Agar nanti saat ada yang mencari harta karunnya, sudah diketahui siapa penemu sebelumnya," kata Adji sambil menahan tawanya.
Diceritakan seperti itu malah membuat Rama dan Shinta, makin manyun.
__ADS_1
"Apa Papa tahu beratnya perjuangan kita saat masuk kedalam gua yang gelap itu?" tanya Shinta mendramatisir petualangannya kemarin.
"Memangnya perjuanagan apa yang telah kalian lakukan untuk sampai kesana?" Adji malah balik bertanya.
"Aku akan ditinggalkan seorang diri oleh Rama, kalau tidak mau ikut. Terus di dalam gua juga banyak sekali kelelawarnya. Rama yang menggali tanah, aku yang memberikan cahaya lewat lampu senter yang ada di jam tanganku," jawab Shinta seolah-olah dia begitu teraniaya dan tersakiti, karena tidak berhasil menemukan hartanya di sana, padahal dia sudah berjuang begitu berat untuk mencapai sana.
"Kamu terlalu mendramatisir kejadian yang biasa-biasa saja menjadi luar biasa," sanggah Rama.
"Tapi untungnya kita juga menemukan harta karun Kakek Batara, yang berada di belakang air terjun," lanjut Shinta sambil tersenyum bahagia.
"Jadi kalian juga menemukan salah satu harta karun yang disembunyikan oleh Kakek Batara?" tanya Adji tidak percaya.
"Iya kita berhasil menemukannya di gua, yang berada di balik air terjun. Harta Karun itu adalah batu-batu permata dari berbagai jenis dan sangat banyak," jelas Rama memberikan jawaban untuk Adji.
"Jadi harta karunnya sekarang ada dimana? tanya Adji lagi dengan antusias.
"Di dalam tas ransel, Pah," jawab Rama dengan santai.
"Tas ransel siapa? Kalian saat pulang tidak bawa tas ranselnya," kata Adji dengan wajahnya yang bingung.
"Apa!" teriak keduanya bersamaan.
Mendengar itu Rama dan Shinta, langsung pucat wajahnha. Mereka berdua memikirkan bagaimana nasib harta karunnya itu.
******
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.
TERIMA KASIH.
__ADS_1