
Adji memeriksa laporan dari Sam si dalam kamar tidurnya, dia membaca laporan itu sambil rebahan. Kepalanya berada di atas paha Alice.
Sejak Alice hamil, Adji lah yang mengalami ngidam. Tiap pagi dia muntah - muntah, dan baru sekitar jam delapan pagi muntah - muntah itu berhenti. Selain itu, hanya dengan mencium bau keringat Alice, perasaannya jadi lebih baik dan nyaman. Dan makanan favoritnya sekarang adalah petis buatan Alice. Menu itu selalu ada tiap hari dan menjadi makanan penutup.
" Suamiku, sebaiknya kalau membaca sambil duduk. Jangan rebahan seperti ini, nanti mata kamu sakit." Kata Alice sambil mengelus kepala Adji.
" Baiklah, tapi istriku harus mau terus menempel padaku!" Adji mendudukan dirinya di ujung sofa.
" Ayo, tiduran disini istriku!" Adji menepuk pahanya, agar Alice tiduran dan menjadikan pahanya sebagai bantal.
"Baiklah suamiku," Alice dengan senang hati merebahkan kepalanya di paha Adji. Dan Alice melingkarkan tangannya di pinggang Adji, dan menyembunyikan wajahnya di perut Adji.
Adji membaca laporan dengan seksama. Dilihatnya lembaran pertama.
" Nama, Dewa. Umur 27 tahun. Tempat tanggal lahir, kota Rubi 1 Januari. Keahlian, karate dan pencak silat, menembak, hacker, dan pembalap. Hobi, naik gunung."
Di laporan itu ada pas photo close up. Dan foto seluruh badannya. Daftar riwayat pendidikannya dan mana orang tuanya. Gelar dan prestasi juga tercantum dengan sangat komplit.
" Entah kenapa, aku rasa dia mirip Kakek Bisma." Adji memperhatikan wajah pemuda di foto itu.
" Mana, aku lihat?" Tanya Alice yang penasaran.
" Nih, lihat dia mirip Kakek Bisma!" Adji menunjukan foto itu.
" Iya kan apa kataku kemarin, kalau ada yang punya wajah mirip Kakek Bisma!" Alice bangun dari rebahannya.
" Tapi kamu bilang kalau Kakek Bisma hanya punya dua anak!" Kata Alice.
" Tentu saja karena Kakek Bisma begitu sangat mencintai Nenek!" Bela Adji.
Akhirnya mereka berdua mengakhiri perdebatan itu. Dan Adji menarik Alice kembali agar merebahkan dirinya lagi. Adji pun melanjutkan membaca laporannya kembali.
Di lembar laporan yang kedua.
" Nama, angin. Umur 26 tahun. Tempat tanggal lahir, kota Diamond 14 Februari. Keahlian, taekwondo, pencak silat, Kendo, menembak, memanah, dan….bisa menjalankan semua jenis alat transportasi darat, udara, dan laut. Wah hebat juga dia bisa menguasainya. Hobi mengutak - ngatik mesin."
__ADS_1
Dilaporan itu juga ditulis daftar riwayat pendidikannya. Ternyata dia siswa yang berprestasi semenjak sekolah dasar sampai ke perguruan tinggi. Banyak penghargaan yang diraihnya.
" Orang yang hebat!" Kata Adji sambil melihat pas photo orang itu, " Dia juga pemuda yang tampan."
Di laporan lembar ketiga, Adji merasa ada yang aneh. Laporan Sam tidak komplit. Hanya ada nama, keahlian, dan hobi saja. Serta pas photo si bodyguard. Tidak ada yang lainnya. Daftar riwayat hidupnya hanya segitu.
" Uh, orang ini sangat mencurigakan!" Pekik Aji.
" Nama, Mega. Keahlian bisa menggunakan semua jenis senjata. Menguasai sepuluh bahasa. Hobi, memasak." Adji mengerutkan keningnya.
" Wajahnya biasa saja untuk ukuran genius, yang menguasai banyak senjata dan bahasa." Adji memperhatikan wajah di foto itu.
Dan kini Adji membuka lembaran laporan dari orang keempat. Dilihatnya nama yang tertera di sana, mengingatkan dia pada seseorang.
" Nama, Guntur Bumi. Usia 27 tahun. Tempat tanggal lahir, kota Topaz 1 Mei. Keahlian menguasai semua ilmu bela diri, sniper ulung, dan pembalap. Hobi, makam."
" Aku merasa nggak asing sama wajah orang ini?" Adji mengingat - ingat kembali siapa sosok yang ada di foto yang sedang dipegang.
" Boleh aku baca laporannya?" Tanya Alice yang sangat penasaran dengan laporan dari Sam.
Alice, membaca dengan sangat teliti. Selain memiliki kelebihan tenaga yang kuat, sebenarnya Alice juga orangnya sangat teliti dan jeli.
" Suamiku, dari keempat orang ini. Aku merasa curiga kepada Dewa dan Guntur." Jawab Alice sambil menyerahkan laporan milik Dewa dan Guntur.
" Kenapa?" Tanya Adji.
" Dua - duanya adalah seorang pembalap, dan ada kemungkinan kalau diantara mereka yang telah mencelakakan Si Kembar, Baladewa dan Balaram." Jelas Alice.
Adji mengerutkan keningnya, tak mengerti dengan pikiran istrinya. Keempat orang ini adalah bodyguard milik Kakeknya. Tidak ada hubungannya dengan kecelakaan yang menimpa saudara kembarnya itu.
" Kamu salah istriku. Mereka berempat adalah bodyguard Kakek Bisma. Yang bahkan aku pun tak mengenalnya atau mengetahuinya. Atau aku sudah lupa pada mereka."
" Jadi mereka tidak ada hubungannya dengan kematian Si Kembar!" Jelas Adji.
" Tapi dari buku harian milik Baladewa, ditulis kalau ada seseorang yang selalu menguntit kemanapun mereka pergi. Bahkan mereka sering kejar - kejaran seperti sedang balapan."
__ADS_1
" Disitu juga ditulis bahwa, Baladewa nggak menyangka kalau orang yang disangka telah mati ternyata masih hidup!" Ujar Alice.
Adji yang baru tahu ada cerita seperti itu, hanya bisa menggelengkan kepalanya. Bagi Adji dan dua saudara sepupunya itu, bertaruh nyawa sudah hal biasa.
" Istriku dari mana kamu tahu buku harian Baladewa?" Tanya Adji, yang bahkan dirinya tidak tahu kalau saudara sepupunya itu suka menulis buku harian.
" Dari Rama. Dia menemukan buku itu di salah satu lorong rahasia yang berada di kamar Si Kembar." Jawab Alice.
" Tapi kenapa Si Kembar menyembunyikan hal seperti ini dariku?" gumam Adji.
Adji dan Si Kembar begitu dekat bahkan mereka selalu bersama - sama. Hanya saat main keluar malam untuk pergi balapan saja, Adji tidak ikut mereka. Karena kondisi tubuh Adji yang lemah saat itu, membuat dirinya harus sering tinggal di mansion.
" Kalau kamu mau baca buku harian itu, ada tuh disimpan di atas meja rias." Tunjuk Alice pada meja riasnya.
" Jadi intinya, Si Kembar tidak menyangka kalau orang yang dikiranya sudah mati ternyata masih hidup." Kata Alice sambil memegang tangan Adji.
" Dan orang itu yang berusaha membunuh mereka." Lanjut Alice.
" Terus tadi kamu bilang kalau keempat orang bodyguard milik Kakek Bisma sudah lama tidak ada atau hilang. Jadi sudah dipastikan, kita akan berpikir kalau mereka semua itu sudah meninggal."
" Tapi nyatanya, ada orang yang bisa mengejar pembalap ulung seperti Si Kembar, berarti dia juga adalah seorang pembalap yang nggak kalah hebatnya."
Adji terpana dengan hasil pemikiran Alice. Dia bahkan tidak pernah terpikirkan hal itu, karena dia juga tidak tahu kejadian yang pernah dialami Si Kembar.
" Istriku, kamu sungguh sangat hebat. Hanya dengan membaca buku harian bisa menyimpulkan hal seperti ini!" Adji terkagum - kagum pada Alice.
" Hehehe, aku hanya mengatakan apa yang Rama katakan tadi." Alice tertawa garing tapi ada rasa malu saat suaminya memuji dirinya.
" A…. Apa?" Adji terperangah mendengar ucapan Alice barusan.
*****
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.
DUKUNG AKU TERUS AGAR MAKIN SEMANGAT LAGI DALAM BERKARYA.
__ADS_1
TERIMA KASIH.