Mamaku Wanita Super & Papaku Super Genius

Mamaku Wanita Super & Papaku Super Genius
#BAB 80


__ADS_3

    Si Bos Penjahat kini duduk bersandar pada batang pohon. Dia mengambil napasnya dalam-dalam dan mengeluarkan udaranya lewat mulut, mencoba menghilangkan rasa ketakutannya kepada Adji, yang kini sedang berdiri dihadapannya.


"Aku dan ketiga rekanku, selalu melakukan aksi begal di hutan perbatasan kota. Kita melakoni perbuatan ini sudah lebih dari lima tahun." Si Bos Penjahat melihat rekan kerjanya yang duduk di sampingnya.


"Kita akan memangsa korban tanpa pandang bulu, selama target aksi kita tidak dikawal atau bersama orang lain di dalam mobilnya. Atau bisa dikatakan, kita menargetkan orang yang berkendara sendirian," katanya sambil melihat ke arah Adji.


"Selama ini, kita selalu berhasil tidak pernah gagal sekali pun," ucapnya dengan penuh bangga.


"Sampai beberapa hari yang lalu … " kata-katanya terhenti.


"Ada seorang wanita paruh baya, yang berkendara seorang diri, di malam hari. Aku dan ketiga rekan ku yang lainnya mau menjadikan dia korban selanjutnya. Namun … " cerita Si Bos Penjahat terhenti karena dia tiba-tiba menangis.


"Ternyata korban kita selanjutnya adalah tetangga ku yang hidupnya sudah sebatang kara, tapi selalu berbuat baik kepada orang lain. Bahkan kepadaku juga," kata Si Bos Penjahat sambil menahan sakitnya.


"Aku pun mengurungkan niat untuk membegalnya. Tapi salah seorang rekanku, tidak mau. Dia nekad menjadikan wanita paruh baya itu sebagai korban selanjutnya." Si Bos Penjahat menundukkan kepalanya.


"Dia membegal tetangga ku, dan mengambil semua barang berharganya. Begitu juga dengan mobil miliknya, dan meninggalkan wanita paruh baya itu sendirian di dekat hutan pada malam hari." Si Bos Penjahat itu kembali menagis.


"Ternyata dia ditemukan tidak sadarkan diri di tengah jalan oleh orang lain saat pagi menjelang."


"Ternyata dia meninggal karena terkena Hipotermia, karena malam itu cuaca sangat dingin. Aku pun marah kepada rekanku itu. Aku dan dia berkelahi, tanpa sengaja aku menembakan pistol ke dadanya. Sehingga dia mati ditempat," kata Si Bos Penjahat.


"Aku dan dua rekan lainya, bingung harus diapakan mayat itu. Maka kami pun sepakat untuk menguburkannya di hutan yang ada di luar kota. Jadi kami membawanya ke dalam kota Diamond. Saat menggali kuburan untuknya, ada dua anak kecil yang telah memergoki aksi kami. Jadinya kami pun mencari keberadaan dua anak kecil itu agar perbuatan kami tidak diketahui oleh orang lain," Si Bos Penjahat mengakhiri ceritanya.


"Lalu bunyi pistol yang pertama tadi itu untuk apa?" tanya Adji penasaran, karena Si Bos Penjahat bilang rekannya mati di luar kota, sedangkan tadi pagi-pagi terdengar suara tembakan yang memekakkan telinga.


"Itu karena ada monyet yang tiba-tiba menyerang, dan tanpa sengaja aku menembakan pistol padanya," jawab Si Bos Penjahat itu.


"Dan aku yakin, kalau kamu tidak berhasil menembak si monyet itu," kata Sam sambil menahan tawanya.


"Iya, Tuan benar. Saya tidak berhasil menembak monyet itu," jawabnya Jujur.


"Hahaha … tuh kan benar apa yang aku bilang! Kalau dia tidak bisa menembak sasaran dengan benar," Sam akhirnya tertawa terbahak-bahak.


"Kamu itu kalah sama Nona Shinta! Dia gadis kecil yang bisa menembak tepat sasaran," kata Sam sambil tersenyum mengejek.

__ADS_1


"Sam, bawa mereka ke kantor polisi. Lalu suruh pihak kepolisian untuk menggali kembali kuburan mayat temannya itu," kata Adji sambil berjalan menjauhi mereka.


"Baik Tuan Muda!" jawab Sam dengan suara tegasnya.


"Lalu, Bima. Tolong bawa Rama bersama kamu, biar Shinta bersama aku," kata Adji saat berjalan dan berhadapan dengan Bima.


"Baik Tuan," suaranya yang penuh ketegasan.


    Adji pun membangunkan kedua anaknya.


"Rama … Shinta … ayo, bangun!" kata Adji sambil menggoyangkan tangan kedua anak itu.


"Hm … " kedua anak itu menggeliat karena terusik tidurnya.


"Ayo, bangun! Kita pulang," ajak Adji kepada kedua anak kembarnya itu.


"Masih ngantuk, Pa," jawab Shinta sambil memeluk Adji dan melingkarkan kedua tangannya dileher Adji.


"Iya, nanti kamu bisa tidur lagi kalau sudah tiba di villa," kata Adji sambil menggendong Shinta dan berjalan menuju ke arah motor miliknya.


    Tiba-tiba Adji berhenti berjalan. Kemudian melihat tiga motor yang berjajar di sana, lalu dia mengalihkan pandangannya kepada keempat laki-laki dewasa yang berada di belakangnya.


"Rama, kamu ikut sama Papa saja! Biar mereka membawa para penjahat itu ke kantor polisi menaiki motornya.


"Kalian berdua bawa penjahat itu ke kantor polisi. Lalu bilang bahwa masih ada satu orang lagi rekan mereka yang kabur melarikan diri," kata Adji kepada Sam dan Bima.


"Baik, Tuan!" jawab mereka serempak.


    Rama pun berjalan dengan gontay ke arah Adji dan menaiki motor duduk di belakang bersama Shinta.


******


    Alice, sedang menunggu kedatangan Adji dan kedua anak kembarnya. Dia mondar-mandir di ruang depan, dengan rasa khawatir. Sering dia menengok ke luar jendela, untuk melihat apa suami dan anak-anaknya sudah pulang.


"Kenapa mereka lama sekali! mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu kepada mereka semua," kata Alice dengan lirih.

__ADS_1


    Sudah satu jam lebih Alice menunggu dengan cemas sambil mondar-mandir. Akhirnya dia pun duduk di sofa ruang tamu, sampai jatuh tertidur tanpa disadari oleh dirinya.


    Tidur Alice terusik oleh suara motor trail, yang datang dan terparkir di depan villanya. Dengan cepat Alice melihat ke arah jendela depan. Dia bisa melihat suami dan kedua anaknya sedang turun dari motornya. Maka dengan cepat Alice membukakan kunci pintunya.


"Suamiku … !" teriak Alice di depan pintu.


"Istriku … !" balas Adji sambil berlari menuju Alice, dan memeluknya erat.


"Kamu baik-baik saja kan? Selama aku pergi mencari anak-anak?" tanya Adji penuh ke khawatiran.


"Ya, hanya saja aku begitu cemas memikirkan keadaan kalian?!" jawab Alice sambil melepaskan pelukannya.


"Istriku, kamu jangan terlalu banyak pikiran. Ingat ada dua nyawa yang di dalam perutmu yang harus kamu jaga baik-baik." Adji menuntun Alice masuk ke dalam villa.


"Rama … Shinta … ayo. Masuk!" ajak Adji sambil melihat ke arah kedua bocah itu.


   Rama dan Shinta berjalan mengikuti kedua orang tuanya di belakang mereka. Dengan langkah gontay mereka masuk ke dalam villa.


"Kalian mau mandi dulu, atau mau makan dulu?" tanya Alice begitu melihat kedua anaknya masuk ke dalam villa.


"Mandi dulu … " jawab ketiganya kompak.


   Alice langsung tertawa renyah saat mendengar ketiga orang yang paling disayangi dalam hidupnya itu, menjawab pertanyaannya dengan kompak.


"Baiklah, kalian mau mandi dulu. Maka Mama akan masak menu spesial buat kalian!" seru Alice sambil menepuk-nepuk kedua tangannya.


"Ayo … ayo … cepat!" Perintah Alice pada tiga orang itu yang masih saja berdiam diri.


Maka dengan cepat ketiganya masuk ke kamar masing-masing, untuk mandi dengan berendam air panas.


******


JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE, NYA JUGA YA.


DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.

__ADS_1


TERIMA KASIH.


__ADS_2