Mamaku Wanita Super & Papaku Super Genius

Mamaku Wanita Super & Papaku Super Genius
#BAB 84


__ADS_3

     Bisma bercerita kepada polisi, kalau harta Karun itu di buat oleh paman Batara untuk dirinya dan kembarannya. Karena harta yang disembunyikan oleh paman Batara ada banyak dan sulit dicari olehnya, maka dia menurunkan perburuan harta Karun itu kepada anaknya Nakula dan Sadewa. Kedua anaknya itu juga hanya mampu menemukan satu harta karunnya, maka mereka menurunkan perburuan harta Karun itu kepada ketiga cucunya, yaitu Adji, Balaram, dan Baladewa. Lagi-lagi mereka bertiga hanya menemukan satu kotak harta karunnya.


    Lalu kemarin Rama dan Shinta berhasil menemukan satu lagi kotak harta karunnya. Jadi kini tinggal ada satu lagi harta Karun yang belum ditemukan. Itu biar menjadi tugas generasi selanjutnya.


"Jadi saya harap anda mengembalikan harta warisan leluhur kami," kata Bisma kepada Kepala Polisi itu.


"Tapi tidak ada bukti kalau ini harta keluarga Pandawa, jadi akan menjadi milik pemerintah," balas Kepala Polisi itu dengan bersikukuh.


    Kepala Pelayan merasa geram dengan tingkah Kepala Polisi itu. Walau sudah dengan jelas mereka menerangkannya, dia tidak mengubah pendiriannya.


"Kenapa anda bersikukuh ingin merampas barang di tas ransel itu? Apa karena memiliki harga jual yang tinggi. Harga batunya saja sudah mahal di tambah barang bersejarah. Bila satu batu itu di hargai paling rendah itu seratus juta dollar, maka entah berapa milyar dollar yang akan di dapat dari menjual batu permata itu?!" kata Sam dengan sangat tajam dan dengan nada bicara yang ditekannya. Serta senyuman yang mengejek mereka bertiga yang ada di hadapannya.


"Saya tidak tahu maksud anda apa?!" balas Kepala Polisi dengan nada bicaranya yang tinggi sambil menggebrak meja.


"Aku bisa lihat isi pikiran dari otak kamu yang dangkal itu!" Sam membalasnya tidak mau kalah.


"Anda bisa dipenjara atas tuduhan perbuatan tidak menyenangkan terhadap abdi negara yang sedang menjalankan tugasnya," kata bawahan Kepala Polisi yang dari tadi diam saja.


"Saya---" perkataan Sam terhenti karena terdengar suara yang keras dari arah pintu.


    Tiba-tiba pintu yang dibuka dengan kasar, membuat bunyi yang sangat keras dan membuat orang-orang yang ada di dalam ruangan itu terkejut. Ada lima orang berseragam polisi yang masuk ke sana. Di depannya ada Adji yang memasang wajah marahnya.


    Adji yang mendapatkan laporan tentang Sam dan si kembar yang tertahan di kantor polisi, gara-gara tas ransel berisi batu-batu permata, dari harta Karun yang kemarin di dapatkan oleh Rama dan Shinta.


"Hormat Jendral! Hormat Komandan!" ketiga orang itu terkejut dengan kedatangan para petinggi dari kantor pusat.


    Keliam anggota polisi itu membalas hormat ketiganya. Lalu berdiri mengelilingi meja, dimana tas ransel yang jadi masalah itu berada di atasnya. Jendral Polisi itu memeriksa batu-batu permata yang ada di dalam tas ransel milik Rama.


"Tuan Muda Adji, jadi ini harta karun yang dimaksudkan oleh anda dalam percakapan telepon tadi?" tanya sang Jendral sambil menunjukkan batu permata yang ada di tangannya.


"Iya anda benar. Itu adalah harta peninggalan leluhur kami," jawab Adji sambil melihat ke arah tas ransel yang berisi batu permata yang berwarna-warni.

__ADS_1


"Baiklah, anda bisa mengambilnya jika terbukti bahwa batu-batu permata ini termasuk dari harta milik keluarga Pandawa," lanjut sang Jendral itu.


"Tidak masalah, sebentar lagi ahli sejarah, ahli batu permata, dan ahli arkeolog akan datang ke sini," jawab Adji dengan tenang.


    Tak berapa lama terdengar suara ketukan di pintu, saat pintu dibuka ada empat orang yang berdiri di sana. Salah satunya ada Bima.


"Tuan, saya sudah membawa mereka ke sini!" kata Bima yang tadi ditugaskan langsung oleh Adji.


"Terima kasih, Bima. Kamu sudah menjalankan tugas dengan baik!" kata Adji penuh kebanggan.


    Kemudian Adji meminta ketiga orang itu untuk memeriksa batu-batu permata yang ada di atas meja, dan membandingkan dengan batu permata yang dibawa oleh Adji. Adji sengaja pulang ke mansion milik Pandawa, tadi hanya untuk membawa beberapa batu permata yang ada di ruang gudang penyimpanan harta warisan keluarga Pandawa.


     Hari sudah hampir sore saat para tim ahli menyelesaikan tugasnya masing-masing dibantu oleh para rekan mereka yang datang menyusul. Adji dan keluarganya menunggu di hotel yang dekat dengan kantor polisi. Alice yang cemaskan suami dan anak-anaknya, datang menyusul mereka tadi ke kantor polisi.


"Berdasarkan hasil catatan sejarah kerajaan Zamrud bahwa semua batu-batu permata itu merupakan benda dari zaman pertengahan. Hanya keluarga Pandawa yang memiliki batu-batu permata itu dalam jumlah yang sangat banyak, karena merupakan harta warisan dari keluarganya," kata ketua tim ahli arkeolog.


"Kami juga dari tim sejarah membenarkan jika keluarga kerajaan Zamrud memiliki harta yang melimpah, meski kerajaannya sudah tidak ada. Dalam catatan sejarah harta yang di miliki oleh keluarga kerajaan salah satunya adalah batu-batu permata yang merupakan kekayaan negeri Zamrud yang sangat terkenal pada era-nya," kata ketua tim sejarah negara Zamrud sekarang.


"Batu permata yang ada di tas ransel itu sama dengan yang dibawa oleh Tuan Adji tadi sebagai sampel batu permata peninggalan leluhurnya." Ketua tim ahli permata juga membenarkan itu.


"Ya, Tuan Besar Bisma. Anda bisa membawanya pulang sekarang," kata Jendral Polisi itu dan meminta maaf atas ketidaknyamanan anggota keluarga Pandawa.


    Maka Rama pun membawa tas ransel miliknya yang berisi batu-batu permata. Saat Rama membawanya, dia merasa ada yang aneh.


"Tunggu dulu!" kata Rama kepada orang-orang yang ada di sana.


"Ada apa?" tanya Kepala Polisi itu.


"Aku rasa batu permatanya jadi berkurang?!" jawab Rama dengan memandang wajah para polisi yang ada di sana satu per satu.


"Apa maksud kamu Nak?!" tanya Kepala Polisi itu lagi sambil melihat ke arah Rama.

__ADS_1


    Tentu saja itu tidak di sia-siakan oleh Rama untuk membaca pikiran Kepala Polisi itu. Rama bisa membaca pikiraannya, karena takut kalau satu batu permata yang di sembunyikan di saku celananya ketahuan.


"Aku bilang batu permata yang ada di tas ransel ini berkurang," kata Rama mengulanginya, tapi tatapan matanya melihat ke arah dua orang polisi yang lainnya. Untuk membaca pikiran mereka berdua. Rama pun bisa membaca pikiran kedua orang polisi itu. Bahwa mereka masing-masing menyembunyikan satu batu permata di saku celananya juga.


"Aku kemarin sudah menghitung jumlah batu permatanya ada 1.579 buah. Tapi sepertinya sekarang sudah berkurang. Kalau tidak keberatan Kepala Polisi dan kedua bawahannya di geledah sekarang juga! Agar barang buktinya tidak di hilangkan. Apalagi kalau sampai di jual," kata Rama sambil menatap tajam ke arah ketiga polisi itu.


Ketiga Polisi itu sangat terkejut dengan apa yang diucapkan oleh Rama barusan.


"Apa maksud Nak?! mana mungkin kita mencuri batu permata milikmu itu," kata Kepala Polisi itu.


"Lakukan penggeledahan di badan mereka bertiga!" kata Jendral Polisi kepada bawahannya yang tadi ikut bersamanya.


"Tunggu, Pak!" kata Kepala Polisi dan kedua bawahannya bersamaan.


"Cepat jalankan perintahku!" kata Jendral Polisi itu lagi.


Ketiga polisi itu di geledah disana saat itu juga oleh anggota polisi pusat yang tadi datang bersama dengan Jendral. Setelah diperiksa dengan seksama ditemukan batu permata yang telah mereka sembunyikan di saku celananya.


"Pak, saya telah menemukannya!" lapor polisi yang menggeledah Kepala Polisi.


"Saya juga telah berhasil menemukan batu permata di saku celananya," kata polisi yang lainnya lagi.


"Dari dia juga sudah di temukan satu buah permata yang disembunyikan di kantong celananya.


Jendral Polisi itu sangat terkejut dan marah, ketika diketahui ada oknum polisi yang memanfaatkan situasi dari kejadian ini.


"Periksa mereka yang terlibat," kata sang Jendral kepada bawahannya.


*****


JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH DAN VOTE NYA JUGA YA.

__ADS_1


DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.


TERIMA KASIH.


__ADS_2