
Abimanyu duduk di kursinya sambil berhadapan dengan Adji dan kedua anak kembarnya. " Ini yang diceritakan ayahku kepada ibuku."
Dua puluh satu tahun yang lalu….
Adji berjalan di lorong koridor kelasnya, dengan langkah gontai. Dilihatnya para bodyguard yang sudah berdiri di depan mobil jemputannya. Adji bukannya mempercepat langkahnya, dia makin memperlambat langkahnya.
Berbeda dengan si kembar, Balaram dan Baladewa. Mereka berlari menyambut Sadewa yang datang menjemputnya. Mereka berencana mau pergi berenang. Sebenarnya mereka juga mengajak Adji, tapi ditolak olehnya. Dengan alasan Nakula, ayahnya yang selalu berenang bersama dengannya tidak ada, Adji jadi malas. Apalagi bila terjadi sesuatu padanya, nanti para bodyguard akan dihukum oleh Bisma.
" Tuan Muda, apa anda tidak mau ikut berenang bersama mereka?" Tanya Angin sambil membukakan pintu mobil untuk Adji.
" Nggak. Aku lebih suka pergi latihan menembak dan memanah." Jawab Adji.
Adji pun duduk di jok belakang, bersama Angin. Dan di depan ada Mega dan Guntur Bumi yang menjadi supirnya.
" Dewa mana?" Tanya Adji saat salah seorang yang selalu menjaganya tidak kelihatan.
" Dia ada tugas yang lain, Tuan Muda." Jawab Angin.
" Hmm, ayo pulang!" Perintah Adji.
Saat di jalan Adji duduk di jok belakang merasa ada yang aneh dengan mobil yang berada di belakangnya. Saat dia membalikkan badannya untuk melihat mobil di belakangnya, Adji mengingat dua orang yang berada di mobil itu, adalah orang-orang yang kadang mengikuti ayahnya dulu, secara diam-diam.
" Angin, ada yang mengikuti mobil kita!" Kata Adji kepada Angin setelah duduk dengan baik kembali.
" Maksud Tuan Muda, dua mobil hitam yang ada di belakang kita?" Tanya Angin.
Adji terdiam mengerutkan alisnya hingga seperti akan menyatu. Dia hanya bilang ada mobil yang mengikutinya, tidak dengan banyaknya mobil yang mengikuti mereka.
Adji pun memasukan sebelah tangannya ke dalam tasnya. Menekan tombol darurat di alat pelacaknya dan rekaman yang akan terhubung ke tim keamanan dan keselamatan di mansion. Adji diam tak bicara apa-apa lagi.
Adji teringat dengan obrolannya dengan Dewa, seminggu yang lalu. Kalau ada hal yang mencurigakan terjadi pada diriku, aku harus cepat-cepat meminta bantuan kepada kepala atau ketua tim keamanan PANDAWA.
Adji melihat kepada kaca spion tengah, mobil di belakang masih mengikuti. Jalanan sekarang sepi, karena waktu baru akan masuk beranjak siang.
Melihat ada yang aneh dengan Tuan Muda mereka, Guntur Bumi menyiapkan serangan mendadak ini.
__ADS_1
" Tuan kencangkan pegangan anda!" Pinta Guntur Bumi.
Adji pun mengikuti perintah Guntur Bumi, berpegangan pada jok tempat duduknya, meski sudah memakai sabuk pengaman. Guntur melajukan mobilnya dengan sangat kencang. Begitu juga dengan kedua mobil itu.
Adji benar-benar panik, dia mengira dirinya akan mengalami kecelakaan seperti orang tuanya. Sekujur tubuhnya sudah basah oleh keringat.
Mobil yang dikendarai oleh Guntur Bumi melesat dengan kecepatan tinggi. Dan mereka bukan pulang menuju ke mansion. Tetapi masuk ke dekat pinggiran kota. Adji tidak menyadari itu. Sampai-sampai mobil yang di belang tadi berhasil menyelinap. Dan menghadang jalan laju mobil yang dikendarai oleh Guntur Bumi.
" Kalian semuanya siapkan senjata milik masing-masing!" Kata Angin.
" Tuan Muda, anda diam di dalam mobil ya! Jangan keluar." Kata Mega yang sudah menyiapkan pistolnya.
Adji hanya bisa menganggukan kepalanya sebagai jawaban. Lidahnya sudah terasa kelu, dan tenggorokannya terasa kering.
Mobil yang ditumpangi Adji kini dihadang didepan dan dibelakang oleh mobil yang membuntuti mereka tadi.
Sebuah peluru melesat ke arah kaca mobil tepat di samping Adji. Meski kaca mobilnya anti peluru. Tapi suara peluru yang membentur kaca mobil, membuat tubuh Adji bergetar hebat.
Para bodyguard yang sedang bertugas menjaga Adji pun melakukan serangan balasan. Mereka menghujani lawan dengan peluru dari pistol yang dipegang oleh tiap orang.
Suara tembakan yang memekakkan telinga, saling bersahutan di antara dua kubu. Sampai bodyguard kubu Adji kehabisan peluru mereka. Tidak ada pilihan lain selain bertarung dengan tangan kosong.
Adji pun dibawa lari oleh Mega menuju hutan yang ada di dekat sana. Adji yang langsung dibawa lari oleh Mega, sempat melihat ke arah belakang. Dan dia melihat tubuh Angin dan Guntur di hujani peluru musuh.
" Tidak!"
" Paman Angin….!"
" Paman Guntur….!"
" Kumohon kalian jangan tembaki lagi tubuh mereka!" Adji mencoba melepaskan diri dari Mega. Dan ingin kembali ke tempat Angin dan Guntur.
" Tuan Muda, kumohon. Jangan sia-siakan pengorbanan mereka!" Kata Mega sambil menarik kuat tubuh Adji.
" Tapi Paman Mega, kasihan mereka berdua!" Adji merasa dadanya sesak berlari dengan menahan tangisnya.
__ADS_1
" Ini sudah resiko kita yang berprofesi sebagai bodyguard! Harus siap menyerahkan nyawa demi melindungi tuannya." Kata Mega masih berlari dengan memegang tangan Adji lebih kuat saat dirasa pergerakan dari Adji melambat.
" Paman Mega, aku sudah tidak kuat berlari lagi!" Kata Adji dengan napas yang terputus-putus.
Mega pun menghentikan langkah kakinya, dia merasa sudah berlari jauh kedalam hutan. Adji langsung terduduk lemas, kakinya terasa mati rasa. Ternyata musuh juga ikut mengejar mereka. Adji dapat melihat mereka dari kejauhan.
" Paman Mega, mereka mengejar kita!" Teriak Adji saat dilihatnya Mega agak menjauh dari dirinya.
" Tuan Muda, sembunyi. Biar aku yang mengalihkan perhatian mereka." Kata Mega.
Adji yang sudah tidak bisa berlari lagi, hanya bisa menganggukan kepalanya. Sebenarnya Adji sejak tadi sedang menunggu tim penolong dari anggota Keamanan Pandawa. Tapi mereka belum juga sampai, walau sudah lebih dari lima belas menit.
Terdengar suara tembakan kembali di tengah hutan. Adji yakin kalau musuh sudah menemukan Mega. Dilihatnya alat pelacak miliknya yang ada didalam tas sekolahnya. Alat pelacak itu masih menyala, menandakan bahwa itu tidak rusak.
" Alat ini tidak rusak, tapi kenapa mereka belum juga datang memberikan pertolongan." Adji menahan suara tangisnya.
*****
Kini terdengar kembali suara tembakan itu. Tapi ada suara-suara yang memanggil namanya dari kejauhan.
" Tuan Muda Adji! Anda dimana?" Teriak suara seseorang yang sangat familiar bagi Adji. Dan mendengar suara yang memanggil namanya itu, membuat Adji merasa tenang. Karena kepala tim Keamanan Keluarga Pandawa telah datang untuk menolongnya.
" Aku disini Paman!" Tapi suara yang keluar dari mulut Adji hanya seperti cicitan. Sehingga tidak mampu didengar oleh orang lain.
" Tuan Muda ada di sebelah sini?" Suara Mega terdengar oleh Adji. Dan Adji senang kalau ternyata Mega bisa selamat dari musuhnya.
" Tuan Muda!" Teriak mereka bersamaan saat melihat Adji meringkuk bersembunyi di bawah pohon yang sangat besar.
" Anda baik-baik saja?" Tanya Kepala tim. Adji pun menganggukan kepalanya.
Karena Adji kesulitan berdiri apalagi berjalan. Kepala tim pun menggendong Adji di punggungnya. Saat mereka berjalan meninggalkan tempat itu, ternyata ada seorang musuh yang berusaha mengejar mereka.
*****
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.
__ADS_1
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL DAN BUNGA ATAU KOPI YANG BANYAK.
TERIMA KASIH