
Rama terbangun dari tidurnya, dilihatnya Shinta juga sedang berbaring di sampingnya.
" Shinta bangun!" Rama menggoyangkan lengan Shinta berusaha membangunkan saudaranya itu.
" Hem…." Shinta hanya membalikan badannya.
" Shinta…. Gawat!" Teriak Rama karena dirinya baru ingat kalau pintu perpustakaan masih terkunci dari dalam.
" Cepat bangun!" Akhirnya Rama menarik tangan Shinta dan memaksanya bangun.
" Kamu itu kalau sudah tidur, selalu sulit dibangunin!" Rama sering ngedumel kalau membangunkan kembarannya itu.
" Ada apa sich?" Shinta mengucek kedua matanya.
" Gawat, pintu perpustakaan di kunci dari dalam kan tadi?" Rama memegang kedua bahu Shinta dan meguncangkannya.
" Ah…. Benar!" Kali ini Shinta ikut panik.
" Ayo kita kesana?" Rama berlari keluar dari kamarnya menuju ruang perpustakaan. Dan Shinta pun mengikutinya dari belakang.
Tepat saat mereka berdua sampai di depan pintu. Rama memegang handle pintunya, dikejutkan dengan kedatangan Bisma.
" Kalian ini, Kakek panggil - panggil nggak menyahut." Kata Bisma wajah gemas pada kedua cicitnya itu.
" Hehe…. Ada apa Kek?" Tanya Rama sambil tersenyum garing.
" Tadinya Kakek mau ikut kalian baca buku di perpustakaan." Jawab Bisma.
" Maaf Tuan Besar, ada Guru Surya yang mau mengajar anak - anak. Dia sedang menunggu Tuan Rama dan Nona Shinta." Lapor salah seorang pelayan di mansion.
" Ya sudah, kalian cepat temui guru kalian itu!" Bisma pun berlalu meninggalkan mereka berdua.
Rama dan Shinta dapat bernafas dengan lega. Tadi mereka sempat tegang saat kedapatan oleh Bisma saat akan masuk ke ruang perpustakaan.
Kini Rama dan Shinta sedang berada di ruangan tempat berlatih ilmu bela diri. Surya sangat senang mempunyai murid seperti mereka. Selain mudah memahami instruksi dari dirinya. Anak - anak itu juga bisa dengan cepat menguasai ilmunya.
Hampir satu setengah jam Rama dan Shinta latihan tanding. Dan tentu saja Rama yang selalu dapat memenangkan pertandingan itu walau dia mengalami kesulitan. Karena untuk ukuran wanita, Shinta termasuk golongan yang kuat. Walau tak sekuat Alice.
" Kalian beristirahatlah, karena sebentar lagi guru Indra juga akan datang." Kata Surya yang ikut rebahan di lantai bersama Si Kembar.
*****
Rama dan Shinta kali ini latihan menggunakan pistol. Tentu saja pistol ini adalah mainan yang dimodifikasi oleh Adji. Walau senjata berbentuk pistol itu seperti mainan anak kecil. Tapi bisa mengeluarkan peluru, dari karet. Peluru itu berbentuk bulat sebesar buah lada lebih besar sedikit.
Indra meminta kedua anak itu menjatuhkan botol yang diletakan sejauh tiga ratus meter di atas meja. Rama dan Shinta sedang dalam keadaan siaga. Mereka berdua konsentrasi, dan fokus pada benda yang jadi sasaran.
__ADS_1
Dor!!!
Dor!!!
Rama dan Shinta melepaskan tembakannya pada botol itu. Dan akhirnya mereka berhasil membuat benda sasarannya itu hancur.
Prok…
Prok…
Prok…
Terdengar suara tepuk tangan sesaat setelah dua bocah itu berhasil menembak botol yang berada lumayan jauh sasarannya. Rama dan Shinta mengalihkan pandangannya kepada sumber suara tepuk tangan barusan. Ternyata orang itu adalah Adji dan Alice.
" Wah, kedua anakku ini hebat - hebat!" Adji tersenyum bangga.
" Mama nggak menyangka loh. Kalau kalian sudah bisa menggunakan pistol!" Alice berbinar - binar matanya melihat kedua anak kembarnya.
" Mama.... Papa....!" Teriak Rama dan Shinta bersamaan saat melihat kedua orang tuanya itu. Karena mereka tidak menyangka Mama dan Papanya sedang berada di mansion. Padahal biasanya Jam segini mereka berada di tempat kerjanya masing - masing.
" Suamiku, aku juga ingin belajar menembak!" Kata Alice penuh antusias.
" Beneran kamu ingin belajar menembak?" Tanya Adji tak percaya kalau Alice ingin bisa menembak juga.
" Iya benar, nggak bohong. Kasih aku izin untuk belajar, ya!" Alice memasang wajah memohonnya.
" Benarkah? Aku senang sekali!" Alice memeluk Adji mengungkapkan rasa senangnya.
Akhirnya satu keluarga itu belajar menembak bersama. Dan mereka menikmati saat - saat kebersamaan di waktu belajar menembak. Bisma yang menyaksikan itu dari kejauhan hanya tersenyum.
*******
Keesokan harinya mereka, keluarga Pandawa menghabiskan waktu liburan bersama - sama. Mereka sering melakukan pesta barbeque di belakang mansion. Sam dan Bima selalu kebagian pembakaran. Alice dan Adji yang akan memotong bahan - bahan dan membuat bumbunya. Rama dan Shinta mereka akan menyiapkan piring dan gelas. Sedangkan Sadewa kebagian membuat minumannya. Bisma akan ikut membantu siapa saja yang membutuhkan bantuannya.
" Kakek Sadewa apa sudah jadi minumannya?" Rama datang menghampiri Sadewa yang sedang membuat minuman sirup.
" Sudah nih. Baru selesai!" Sadewa menunjukan minuman buatannya.
" Kalau begitu Rama bantu untuk membawanya kesana." Kata Rama.
" Tunggu dulu Tuan Rama. Saya akan mengeceknya terlebih dulu!" Cegah Kepala Pelayan.
Kepala Pelayan itu mengeluarkan alat dan meneteskan air sirup itu. Terlihat dilayar itu, semua kandungan yang ada di tetesan sirup itu. Dikira tidak ada yang mencurigakan, Kepala Pelayan itu membolehkan Rama untuk membawa sirup itu keluar.
" Silahkan Tuan Rama, tidak ada kandungan racun atau hal yang berbahaya di dalamnya." Kata Kepala Pelayan itu.
__ADS_1
" Terima kasih." Rama pun keluar dengan membawa sirup itu dengan hati - hati.
Mereka menikmati waktu kebersamaan bersama keluarga sampai sore hari.
" Rama, ayo kita pergi ke ruang perpustakaan. Karena kemarin pintunya belum dibuka." Ajak Shinta.
" Ayo!"
Rama dan Shinta pergi menuju ke perpustakaan. Tapi pintu itu sudah bisa di buka. Dan itu membuat Rama dan Shinta sangat terkejut.
" Bagaimana bisa pintu ini dapat dibuka?" Tanya Shinta.
" Tentu saja dibuka pakai kunci." Jawab Rama sambil memeriksa pintu rahasianya.
" Kan kuncinya ada di dalam pintu Perpustakaan!" Kata Shinta.
" Pakai kunci cadangan, Shinta!" Rama sudah bersiap - siap mau masuk lagi kedalam ruang rahasia.
" Tunggu, aku ikut." Shinta mengikuti Rama masuk ke ruang rahasia itu.
Kali ini Rama dan Shinta masuk ke pintu nomor tiga. Lorong ini lebih panjang dibandingkan dua lorong sebelumnya. Saat berjalan Shinta tersandung dan jatuh.
" Akh.... Aduh! Ini apaan sich?" Shinta terjatuh setelah dia tersandung oleh sesuatu.
" Shinta kamu tidak apa - apa?" Rama membantu Shinta berdiri.
" Ya, tidak apa - apa. Aku sepertinya tersandung sesuatu." Kata Shinta sambil mengusap kedua lututnya yang terasa sakit.
Dan Rama pun mengarahkan lampu senternya kebagian bawah. Melihat apa yang menyebabkan Shinta tersandung tadi.
" Aaaaaakh!!!" Teriak keduanya histeris.
" Itu…. tengkorak manusia…. kan?" Tanya Shinta sambil menunjuk pada tengkorak yang duduk bersandar di dinding lorong.
" Iya, sepertinya ini tengkorak manusia." Jawab Rama sambil memeriksa tengkorak itu.
" Itu tengkorak milik siapa?" Shinta walau takut, tapi dia penasaran.
" Mana aku tahu. Yang jelas tengkorak ini adalah seorang laki - laki. Soalnya dia pakai baju jas kerja." Kata Rama sambil mengarahkan senternya.
******
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA
KASIH BINTANG LIMA JUGA DAN JEMPOL YANG BANYAK
__ADS_1
DUKUNG AKU TERUS YA.
TERIMA KASIH.