
Rama menyerahkan sebuah buku kepada Basudewa.
" Dari mana kamu mendapatkan buku itu?" Tanya Shinta kepada Rama.
" Di ruangan ini, tepatnya tuh disana!" Tunjuk Rama kebawah meja rias yang ada di kamar itu.
" Kapan kamu menemukannya?" Tanya Shinta penasaran karena saat dulu mereka kesini tidak menemukan buku seperti itu.
" Beberapa hari yang lalu aku kembali lagi kesini. Dan menemukan buku catatan itu. Dan aku yakin kalau Paman Dewa juga pasti sudah tahu mengenai lorong rahasia itu. Bahkan dia juga sudah pernah masuk ke kamar ini. Buktinya adalah buku miliknya itu." Kata Rama sambil berbisik kepada Shinta karena tidak mau mengganggu konsentrasi Basudewa.
" Kenapa kamu nggak ngajak-ngajak aku!" Rengek Shinta karena nggak diajak lagi oleh Rama saat masuk ke lorong rahasia itu.
" Waktu itu kamu sedang tidur, dan aku nggak tega membangunkan kamu!" Ucap Rama sambil tersenyum lebar.
" Kamu curang pergi bersenang-senang sendirian." Shinta memasang wajahnya yang cemberut dan itu makin terlihatnya sangat lucu.
" Sudah jangan marah lagi. Nanti aku akan ajak kamu ke tempat yang lebih bagus dan indah." Rayu Rama agar Shinta nggak ngambek lagi.
" Beneran, jangan ngebohong nanti dosa!" Ucap Shinta dengan menatapnya dengan tajam.
" Iya beneran, aku yakin kamu pasti suka sama tempatnya. Kamu bisa foto selfie di sana, karena banyak pemandangan yang bagus." Kata Rama yang membuat Shinta langsung memasang senyum lebarnya saat mendengar kata foto selfie.
*****
Basudewa hatinya terguncang setelah membaca buku catatan penyelidikan Dewa. Ternyata benar kalau Dewa bertindak dengan caranya untuk meminta keadilan buat keluarganya. Apalagi di catatan lembar terakhirnya, Dewa menulis kalau dia senang telah diakui sebagai saudara oleh Si Kembar, Nakula dan Sadewa. Si Kembar itu juga sebenarnya ingin bertemu juga dengan Basudewa. Tapi nggak kesampaian sampai mereka mati.
Basudewa, menepuk-nepuk dadanya yang mulai terasa sesak. Dia selalu saja terlambat dalam melangkah dibandingkan dengan saudara kembarnya itu. Kecerdasan otak dan emosi Dewa beberapa tingkat diatasnya. Makanya saat ikutan penyeleksian untuk menjadi bodyguard di keluarga Pandawa, Dewa langsung bisa lolos. Berbeda dengan dirinya yang gagal.
Di dalam buku itu terselip sebuah foto tiga orang laki-laki yang saling merangkul dan tersenyum lebar ke arah kamera. Basudewa merasa iri melihat foto kebersamaan saudara kembarnya itu. Kini Basudewa merutuki dirinya yang tidak mau mendengarkan perkataan Dewa dahulu, dan lebih memilih mengikuti jejak Pamannya yang ingin balas dendam dengan menghancurkan keluarga Pandawa.
Tak terasa oleh Basudewa kalau air matanya itu sudah membanjiri pipinya yang mulai berkerut. Shinta datang menghampirinya kemudian menyeka air mata Basudewa dengan lengan bajunya. Melihat Shinta yang begitu perhatian padanya, membuat Basudewa makin menangis tersedu-sedu
__ADS_1
" Paman kenapa?" Tanya Shinta saat melihat Basudewa menangis tersedu-sedu.
" Paman sungguh telah berbuat jahat kepada kalian semua. Paman pantas mati!" Kata Basudewa sambil melihat ke arah Shinta.
" Kalau Paman menyesal. Paman harus bertanggung jawab atas semua kejahatan yang dulu pernah dilakukan." Kata Rama menimpali Basudewa.
" Iya, benar Paman. Karena keluarga mereka juga adalah korban yang meminta keadilan. Sama seperti Paman yang menjadi korban dan ingin meminta keadilan dengan cara balas dendam. Tapi keluarga mereka lebih memilih melanjutkan hidup tanpa balas dendam kepada Paman." Lanjut Shinta.
" Maksudnya Paman harus menyerahkan diri ke polisi?" Kata Basudewa sambil memandang kedua anak di depannya itu.
" Ya, itu lebih bagus. Daripada diburu atau ditangkap polisi. Lebih baik menyerahkan diri!" Jawab Rama dengan membalas tatapan dari Basudewa.
" Tapi hati aku masih belum puas, ingin mengetahui kebenaran tentang jati diri aku yang sebenarnya. Walau kalian bilang bukan Bisma ayah kandungku, tapi aku berharap kalau dia adalah benar ayah kandungku." Ungkap Basudewa.
" Bagaimana kalau kita suruh Kakek Pandu datang kesini, dan kita sama-sama mendengarkan cerita sesungguhnya?" Tanya Shinta pada kedua orang disana.
" Itu lebih baik, kita undang Kakek Bisma dan Kakek Pandu untuk membicarakan masalah ini. Agar tidak ada kesalahpahaman lagi kedepannya." Jawab Rama menyetujui ide dari Shinta.
" Apa Paman juga memasang alat pelacak?" Tanya Rama dengan penuh selidik melihat ke seluruh tubuh Basudewa.
" Iya dan alat pelacaknya ada di dalam tubuh. Jadi meski kemanapun aku pergi pasti akan ketahuan." Jawab Basudewa Sambil berjalan ke arah lorong tadi.
" Hei, Paman kalau tidak mau tersesat di dalam lorong itu, Tunggu kita!" Kata Shinta.
*****
Adji mendapatkan telepon dari Sam, kalau kedua anaknya telah diculik. Dan alat pelacaknya, ditemukan di sebuah rumah tua di dekat hutan. Mendengar berita itu Adji sangat marah. Bagaimana mungkin mereka bisa diculik, kalau penjagaan para bodyguardnya ketat.
" Baiklah, Sam. Sekarang kamu sedang berada dimana?" Tanya Adji kepada asistennya itu.
" Saya sedang menyusuri jalan. Siapa tahu kalau Tuan Rama dan Nona Shinta ditemukan di pinggir jalan." Jawab Sam sambil sesekali memeriksa jalanan yang dilaluinya.
__ADS_1
" Siapa yang yang telah menculik mereka?" Tanya Alice mulai panik, takut dengan keselamatan nyawa anak-anaknya.
" Belum diketahui. Karena tidak terlihat di kamera CCTV sekolahan." Jawab Adji sambil berjalan keluar rumah Neneknya Dewa.
" David, terima kasih. Aku ada masalah baru, jadi aku harus segera kembali sekarang." Kata Adji sebelum berpisah dengan David.
" Iya, sama-sama. Kalau ada apa-apa aku akan menghubungimu lagi." Ucap David sambil membukakan pintu mobil Adji untuk Alice.
" Baik, aku tunggu kabar darimu!" Balas Adji kemudian melajukan mobilnya menuju kota Diamond.
Dengan mobil mewah plus canggih miliknya, Adji bisa menempuh perjalanan jauh lebih cepat dibandingkan dengan mobil sport lainnya. Jarak antara kota Ruby dan Diamond biasanya ditempuh dalam waktu tiga jam. Tapi mobil Adji mampu melakukannya hanya dengan satu jam saja.
Tempat pertama yang didatangi Adji adalah ruang pengawas tim Keamanan mansion. Adji memeriksa kamera CCTV mulai dari sekolahan anak-anaknya. Sampai ke rumah yang didatangi oleh Sam tadi siang.
Adji memeriksa mobil-mobil yang lalu lalang disekitar jalan yang dilaluinya tadi lewat kamera pengawas, yang telah di rentas oleh Abimanyu. Adji merasa curiga dengan mobil yang diparkir tidak jauh dari mansion utama milik Keluarga Pandawa.
" Tolong sambungkan kamera CCTV di dekat gudang mansion, ke layar utama." Perintah Adji.
Adji dan Sam terus memperhatikan keadaan disana. Sejak beberapa jam lalu ada mobil yang terparkir di sana dan tidak mereka tidak mengenali mobil itu.
Tak lama kemudian ada seseorang yang keluar dari gudang, dan dia berjalan menuju mobil yang terparkir itu.
" Siapa dia?" Tanya Adji dan Sam bersamaan.
*****
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.
BUNGA ATAU KOPI JUGA BOLEH ITU MEMBUAT AKU MAKIN SEMANGAT LAGI.
__ADS_1
TERIMA KASIH.