
Tok … tok …
"Pah … bangun!" kata Rama sambil mengetuk pintu kamar Adji dan Alice.
"Ayo, kita cari tas ransel Rama yang kemarin hilang!" kata Rama lagi sambil mencoba membuka handle pintu kamar orang tuanya.
Adji dan Alice yang terbangun karena ketukan pintu yang dilakukan oleh Rama. Terdengar beberapa kali ketukan di pintu kamarnya. Maka Adji pun bangun dan mengambil celana dan kaos oblong di lantai, yang semalam dibuka oleh Alice. Dibenarkannya selimut yang menutupi tubuh Alice, lalu dia berjalan ke arah pintu untuk menemui putranya.
"Ada apa Rama, ini masih dini hari?" tanya Adji kepada Rama yang kini telah berpenampilan lengkap, siap untuk pergi ke luar rumah.
"Ayo kita cari tas ransel Rama, yang hilang kemarin!" ajak Rama kepada Papa-nya dengan sangat.
"Tapi di luar masih gelap, sulit mencari tas ransel kamu. Nanti kalau sudah terang baru kita cari sama-sama," balas Adji sambil memegang kedua bahu Rama, memberi pengertian untuknya.
Rama pun menganggukkan kepalanya, kemudian dia berbalik dan turun ke bawah masuk ke kamarnya sendiri. Karena dia juga berpikir akan sulit mencari dalam keadaan gelap.
Adji juga yang masih lelah dan ngantuk, karena semalam dia dan Alice sama-sama menikmati indahnya surga dunia sampai dini hari. Makanya dia meminta Rama bersabar sampai matahari benar-benar muncul.
Saat matahari telah benar-benar muncul di sebelah timur dengan terang benderang. Rama menagih janji pada Adji, yang akan menemaninya mencari tas ransel miliknya yang hilang di tengah hutan kemarin. Shinta juga sudah bersiap-siap akan ikut membantu mencarinya.
"Pah, ayo! Nanti keburu ada yang ngambil tas ransel milik Rama itu!" seru Rama dari bawah anak tangga karena Adji belum juga turun.
"Iya, Sayang. Tunggu dulu sebentar! Papa sudah siap," jawab Adji dari kamarnya lantai atas.
Adji yang baru saja selesai membaca laporan tentang para Penjahat kemarin. Rencananya hari ini polisi mau melakukan pembongkaran terhadap kuburan mayat temannya Si Penjahat.
Dengan cepat Adji membereskan laporan perusahaan yang semalam dibiarkannya di atas meja setelah diperiksa, karena tergoda oleh Alice. Terus tadi pagi-pagi Sam memberikan laporan dari kepolisian kota Diamond, tentang mayat yang dikubur oleh para pelaku.
"Ayo, Sayang! Papa sudah siap!" teriak Adji sambil menuruni anak tangga.
Begitu sampai di lantai bawah kedua anaknya sudah tidak ada. Dicarinya ke ruang makan dan dapur juga tidak ada.
"Rama … Shinta!" panggil Adji.
"Mereka berdua kemana, ya!" Adji memasuki tiap ruangan yang ada di lantai satu. Di kamar anak-anaknya, ruang keluarga, ruang paviliun, dan ruang tamu juga tidak ada.
"Rama … Shinta! Kalian dimana?" panggil Adji lagi sambil mencari di luar rumah.
"Ada apa suamiku?!" tanya Alice yang baru turun dari anak tangga.
__ADS_1
"Anak-anak, mereka menghilang?!" jawab Adji panik.
"Kok, bisa mereka menghilang?!" Alice mengerutkan dahinya.
"Tidak tahu, tadi suara mereka terdengar dari bawah. Begitu aku sampai bawah mereka sudah tidak ada!" Adji langsung pucat wajahnya takut terjadi sesuatu kepada anak-anaknya.
"Tenang dulu, mungkin mereka pergi ke hutan. Bukannya semalam mereka bilang kehilangan tas ransel berisi harta karun?!" kata Alice mencoba menenangkan Adji yang sudah mulai panik.
Adji itu di bawah alam sadarnya masih memiliki rasa takut kehilangan orang-orang yang paling di sayangi ya. Jadinya dia akan mudah panik kalau terjadi sesuatu kepada salah seorang keluarganya. Sekarang pun Adji selalu diterapi oleh dokter keluarga Pandawa. Agar nanti dia sudah siap hati dan pikirannya saat Alice akan melahirkan. Bisa saja terjadi dimana keadaannya menjadi buruk.
"Ah, iya. Tadi mereka memintaku untuk membantu mencari tas ransel milik Rama. Lalu kenapa sekarang aku ditinggalkan?!" kata Adji dengan wajah penuh tanya.
"Mungkin karena kamu terlalu lama. Jadinya mereka berangkat duluan," ucap Alice.
"Meskipun begitu harusnya mereka menungguku dulu," kata Adji sambil berjalan ke arah motor trail miliknya, dan diikuti oleh Alice.
"Istriku aku berangkat dulu?!" kata Adji kemudian mengecup bibir Alice sekilas.
"Hati-hati, minta maaf sama anak-anak karena telah membuat mereka kesal," kata Alice mengingatkan.
Adji yang sudah menghidupkan mesin motornya, hanya menganggukan kepalanya sebagai jawaban darinya.
*****
Rama dan Shinta yang sedang menunggu Adji di depan rumah, bersama Hanoman. Dikejutkan dengan kedatangan Sam dan Bima yang akan pergi bekerja.
"Anda berdua sedang apa duduk di sini?" tanya Bima begitu mulai melajukan mobilnya yang lewat depan villa.
"Kita sedang menunggu Papa, mau mencari tas ransel milik Rama yang hilang kemarin di hutan," jawab Shinta sambil berjalan mendekati mobil Bima. Diikuti oleh Rama di sampingnya.
"Paman Bima mau kemana?" tanya Shinta dan Rama bersamaan.
"Paman mau ke kantor," jawab Bima sambil tersenyum ramah.
"Paman Sam juga mau ke kantor?" tanya Shinta kepada Sam yang duduk di kursi penumpang di samping Bima.
"Paman mau ke kantor polisi. Untuk mengambil barang-barang yang kemarin ditemukan di hutan. Mungkin tas ransel Tuan Rama juga ada disana, karena kemarin kita tidak tahu mana barang yang milik para Penjahat itu dan mana yang bukan," jelas Sam kepada Rama dan Shinta.
"Kalau begitu, kami ikut!" kata kedua anak kembar itu.
__ADS_1
"Ya, ayo. Naik di kursi belakang saja, ya!" pinta Sam dan turun dari mobil untuk membukakan pintu untuk kedua anak Tuannya itu.
"Terima kasih Paman!" kata keduanya saat masuk ke mobil Bima.
Tanpa sepengetahuan Adji, kedua anaknya itu ikut Sam ke kantor polisi untuk membawa tas ransel Rama.
*****
Adji memacu motornya, menuju kawasan air terjun. Kemarin dia tidak teliti saat membawa kedua anaknya yang sedang tertidur di balik pohon dekat dengan semak.
Di sepanjang jalan yang dilaluinya, dia tidak menemukan keberadaan Rama dan Shinta. Adji mulai panik saat menyadari kedua anaknya tidak mungkin kalau sudah sampai ke tempat tujuannya, hanya dengan berjalan kaki.
Maka Adji pun memacu lebih cepat laju motornya, agar lebih cepat sampai ke tempat tujuannya. Namun begitu dia sudah sampai ke tempat tujuan, kedua anaknya itu tidak juga kelihatan.
"Rama … Shinta!" teriak Adji memanggil nama-nama anaknya.
"Kalian dimana?!" teriaknya lagi sambil berlari kesana-kemari mencari keberadaan Si Kembar.
Adji berlari kearah air terjun yang jaraknya lumayan agak jauh. Lagi-lagi kedua anak kembarnya tidak ada disana.
"Mereka berdua kemana sich?!" tanya Adji sambil berkeliling di sekitar air terjun.
Kemudian Adji masuk ke dalam gua yang ada di balik air terjun itu.
"Oh, di sini mereka berdua menemukan harta karunnya itu?!" gumam Adji sambil mengarahkan lampu senter dari jam tangannya untuk melihat keadaan di gua sana.
"Kenapa dahulu nggak ketemu ini gua, ya?!" gumam Adji seorang diri.
"Padahal, kami dulu mengitari area ini sampai tiga kali untuk mencari gua yang dimaksud dalam peta," kata Adji sambil keluar dari mulut gua itu dan melanjutkan pencarian kedua anaknya.
"Mereka berdua pergi kemana, ya?" tanya Adji dalam hati.
"Jangan panik ... ayo cari lagi mereka berdua ... mereka pasti sedang dalam keadaan baik-baik saja," gumam Adji mensugesti dirinya sendiri agar terhindar dari rasa paniknya.
Sementara itu Rama dan Shinta baru saja sampai ke kantor polisi bersama Sam.
*****
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.
__ADS_1
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.
TERIMA KASIH.